Pertukaran Tradisi Sepakbola

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Sepakbola Indonesia (lagi-lagi) berduka, setelah Haringga Sirila tewas mengenaskan saat menjelang pertandingan sarat gengsi antara Persib Bandung Vs Persija Jakarta Minggu 23 September lalu.

Efek domino akibat kejadian brutal bobotoh tersebut, tentu semakin mencoreng wajah klub sepakbola kedua tim (PSSI) khususnya, dan Indonesia dimata dunia persepakbolaan internasional secara umum.

Kabar terakhir yang dilansir detik.com menyebutkan bahwa Menpora Imam Nahrawi menghentikan aktivitas Liga 1 Indonesia dalam 1-2 minggu kedepan, atau hingga masa yang tidak ditentukan.
Penghentian (sementara) tersebut tentu merugikan semua pihak, baik itu manajemen klub, pemain dan semua yang terlibat dalam aktivitas sepakbola tanah air.

Bercermin pada kasus-kasus sebelumnya, yang juga memakan korban. PSSI selaku penanggung jawab utama sudah pasti akan memberikan sangsi atau membuat aturan baru.
Namun sayangnya, sangsi ataupun peraturan yang dikeluarkan oleh PSSI sepertinya dianggap angin lalu, karena kejadian yang sama pada akhirnya terulang kembali.

Banyak yang menduga, sangsi maupun peraturan dalam menanggulangi kerusuhan supporter yang dikeluarkan oleh PSSI tidak keras bahkan cenderung lunak. Boleh dibilang sangsi tersebut bermuatan kepentingan agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan.
Sehingga sangat wajar jika kemudian banyak yang menyangsikan terhadap hukuman dan aturan baru yang dibuat oleh PSSI kedepannya.

Dalam masyarakat kita, ada suatu anggapan terbalik bahwa aturan dibuat untuk dilanggar.
Hal ini tentu tidak benar dan tidak bisa dianggap remeh paradigma tersebut dalam memahami sebuah peraturan. Dan hal ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut.
Peraturan yang sarat kepentingan pastinya akan ada celah untuk dilanggar.
Dilema membuat aturan main memang selalu berbenturan dengan pihak-pihak lain yang merasa dirugikan.
Sehingga ini kemungkinan yang menjadi penyebab banyaknya kasus pelanggaran dalam hajatan sepakbola nasional.

Seberat apapun aturan sangsi ataupun hukuman dibuat, tidak akan menyelesaikan masalah, jika tidak ada kemauan keras dari semua pihak yang terkait.

Maka, untuk mengurangi energi yang terbuang sia-sia dengan membuat aturan baru, ada baiknya mengijinkan saya sedikit memberikan masukan dan saran dengan cara yang terbilang sederhana dalam mengelola suporter yang sejatinya merupakan kumpulan manusia beradab.

Dalam hal ini saya sebagai salah satu pecinta sepakbola, yang selalu dibuat prihatin dengan segudang prestasi kekisruhan persepakbolaan tanah air, hanya ingin menyampaikan usulan sederhana tanpa perlu ribet dengan aturan-aturan baku tertulis.
Menariknya lagi, usulan yang saya maksud ini hanya berkisar pada sugesti, yang dalam kultur masyarakat kita terbilang masih kuat.

Usulan itu saya sebut pertukaran tradisi fans sepakbola, maksudnya adalah bagaimana jika (khusus pertandingan Persib Vs Persija) suporter atau pendukung kedua tim kesebelasan wajib memakai jersey/atribut tim lawan jika bermain dikandang.

Artinya begini, saat pertandingan Persib Vs Persija dimainkan di Bandung, maka seluruh Bobotoh wajib hukumnya tanpa kecuali memakai jersey/atribut dari Persija.
Demikian juga sebaliknya, jika pertandingan dilakukan di Jakarta, semua suporter The Jack Mania memakai jersey/atribut kebesaran Persib.

Hal yang sederhana ini bisa sangat efektif jika pengurus PSSI mengajak pengelola suporter kedua tim yang bertikai untuk duduk bersama membuat suatu perjanjian yang mengikat, dan juga itu harus di imbangi dengan kesepakatan dan komitmen yang kuat dari kedua pengurus fans Bobotoh maupun The Jack Mania dalam prakteknya dilapangan.

Andaikanpun masih ada suporter yang melanggar kesepakatan tersebut, tentu kordinator lapangan masing-masing suporter dapat mengambil tindakan dengan misalnya langsung mengusirnya keluar stadion, atau sangsi lain sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.

Metode sugesti ini harus terus dilakukan dan dipantau terus menerus secara berkesinambungan, hingga pada akhirnya para suporter merasakan atmosfir yang berbeda dan menikmati metode ini tanpa perlu merasa tabu jika memakai atribut lawan.
Sebab dalam sepakbola itu sejatinya tim lawan adalah tolak ukur seberapa hebat tim tuan rumah.

Dengan memakai jersey/atribut dari tim lawan bisa berarti tuan rumah secara tidak langsung menghormati tim lawan sambil memberikan dukungan tim kesayangannya tanpa merasa cemas dan khawatir akan adanya sweeping yang berujung pada persekusi.
Pada awalnya memang akan terasa sulit diterima cara sugesti yang seperti ini. Namun kembali lagi kepada persoalan klasiknya yaitu mau atau tidaknya melakukan strategi ini.

Sebab, jika melihat sangsi terhadap suporter yang sudah dijalankan, misalnya pertandingan Persib dan Persija tanpa dihadiri penonton/suporter kedua tim, yang dirugikan jelas panitia penyelenggara dan kedua klub. Seharusnya ada uang yang masuk ke kantong dari penjualan karcis penonton pertandingan, namun dikarenakan peraturan yang terlalu kaku tersebut akhirnya uangpun melayang.

Sudah saatnya kita berani melakukan terobosan dalam mengelola potensi suporter sepakbola yang animonya semakin besar. Meskipun terobosan itu terkesan tabu dan kontradiktif, akan tetapi jika PSSI beserta seluruh pengelola fans klub didalamnya mau dan konsisten melakukan terobosan trans tradisi pada dua suporter yang menjadi biang konflik kerusuhan, ini akan menjadi momentum yang baik dalam menyelesaikan pertikaian antar kedua suporter dimasa depannya.

Jika metode sugesti dengan cara seperti yang tersebut diatas dapat diterapkan, besar kemungkinan akan berdampak pada positifnya atmosfir perseteruan kedua klub.
Dan juga ada banyak manfaat yang dapat diambil dari diterapkannya strategi pertukaran tradisi tersebut, diiantaranya adalah :

1. Menyadarkan kepada masyarakat pecinta sepakbola, bahwa sepakbola adalah panggung hiburan semata. Dimana segala aktivitasnya terdapat manusia dari berbagai suku, budaya dan bahasa yang semua itu berada dalam satu wadah besar yaitu bangsa Indonesia.
perbedaan dukungan tim itu hal yang biasa, sebaliknya jadikan perbedaan itu sebagai ajang adu kreatifitas antar suporter, bukan adu kebrutalan.

2. Metode dengan cara sugesti yang sederhana ini tentunya lambat laun dapat memupuk rasa toleransi dan solidaritas antar pendukung. Dengan begitu dapat mengurangi kadar fanatisme suporter yang berlebihan.

3. Bisa dibayangkan jika strategi itu dapat diterapkan, tentu secara tidak langsung mendongkrak ekonomi dari para penjual jersey, aksesori dan atribut lainnya disekitar stadion yang selama ini didominasi oleh produk tim kesebelasan lokal/tuan rumah. Padahal, mungkin saja ada sebagian yang berminat mengoleksi merchandise dari klub lain.

4. Dan yang paling penting adalah kembali lagi tentang kesadaran bahwa "kita masih bersaudara" dalam persatuan berbangsa dan bernegara meskipun itu di lapangan hijau.

Tentu saja akan ada banyak manfaat yang lainnya jika metode pertukaran tradisi dapat dijalankan penuh kesadaran dan menjunjung komitmen serta kesepakatan antar dua pendukung, seiring berjalannya waktu.

Metode trans tradisi ini tidak hanya berlaku pada pertandingan Persib Vs Persija saja, melainkan dapat juga diadopsi pada suporter tim lain yang memiliki potensi untuk berbuat anarkis.
Bahkan bukan tidak mungkin persepakbolaan dunia internasionalpun akan meniru langkah tersebut dalam menyelesaikan konflik antar suporter dikemudian waktu.
Dan kelak jika usulan ini benar-benar diaplikasikan, akan ada cerita baru yang menjadi sejarah tentang Biru dan Oranye tidak lagi berseteru, mereka kini bersatu padu membangun sepakbola Indonesia maju.

Sehingga, PSSI beserta pengurusnya dapat berkonsentrasi pada bagaimana meningkatkan prestasi sepakbola tanah air, tanpa harus menguras energi yang berbelit-belit dengan membuat aturan demi aturan yang sebenarnya peraturan tersebut hingga detik inipun tidak pernah menyelesaikan masalah dalam mengelola fanatisme suporter sepakbola.

Hendaknya pengurus PSSI dan seluruh elemen yang terkait dengan sepakbola nasional, setidaknya mau mencoba mengakomodasi usulan sederhana yang sarat manfaat ini demi kemajuan sepakbola Indonesia.

Sebagai penikmat sekaligus pemerhati sepakbola tanah air, saya dengan penuh keyakinan berharap semoga PSSI mau mendengar aspirasi ini. Dan juga semoga kisah tragis 23/09/19 tidak terulang kembali.
Terimakasih

 



Hari ini: Indrato mengandalkanmu

Indrato # membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Imam Nahrawi: Pertukaran Tradisi Sepakbola". Bergabunglah dengan Indrato dan 7 pendukung lainnya hari ini.