Petisi ditutup

Pedulilah dengan Hak Kaum Pesepeda! Berikanlah Hak yang sama bagi Pesepeda dalam Stasiun!

Petisi ini mencapai 303 pendukung


Saya satu dari banyak orang-orang yang ikut tergabung dalam gerakan Bike to Work (BTW). Bekerja di Jakarta dan sekitarnya, untuk meminimalisir jarak jauh dan kecapekan, saya memilih moda transportasi massal yaitu KRL Commuterline Jabodetabek. Sesuai dengan ketentuan yang diperbolehkan oleh PT. KCJ (KRL Commuterline Jabodetabek), para penumpang KRL hanya diperbolehkan menggunakan sepeda berupa sepeda lipat untuk diangkut ke dalam kereta. Dengan ketentuan tersebut, saya bersama para bikers lain sangat antusias menyambut "ajakan" bersepeda keliling kota sambil menikmati angkutan massal jika jarak yang hendak ditempuh terlalu jauh.

Saya pekerja yang melaju melawan hiruk-pikuk arus komuter Jakarta; ketika pagi saya berangkat ke Kota Hujan Bogor dan malam hari saya kembali lagi di Jakarta tepatnya di Stasiun Tanjung Barat. Saya sangat senang mengetahui bahwa traffic arus manusia pada rute bekerja saya sangat memungkinkan jika saya membawa sepeda (kalau keretanya penuh sesak, saya tidak tega harus membawa sepeda, karena rasa tepa selira sesama pengguna kereta). Selama perjalanan saya berangkat hingga pulang lagi ke rumah, saya merasakan kesan bahwa "pesepeda TIDAK diberikan tempat khusus" di dalam kawasan stasiun dan KRL Commuterline Jabodetabek.

Melalui observasi saya, ternyata ketentuan PT. KCJ dalam memperbolehkan sepeda lipat masuk ke dalam KRL belum dibarengi dengan kesiapan supporting factors. Banyak faktor tersebut adalah:

  1. jalur masuk ke stasiun; untuk masuk ke stasiun kadang hanya disediakan jembatan penyeberangan (JPO) seperti yang terdapat di Stasiun Tanjung Barat, kadang untuk masuk ke stasiun harus melalui rute panjang yang mirip labirin dengan lebar trotoar hanya muat dua orang dewasa berjalan beriringan (Stasiun Bogor), dan kadang untuk masuk ke stasiun harus melalui tangga berundak yang tinggi tanpa ada alternatif jalan lain yang lebih landai (Stasiun Palmerah & Kebayoran). Jika harus masuk melalui pintu masuk sepeda motor, tidak ada gate khusus bagi pesepeda, sehingga kami terkesan sebagai "backdoor man" yang patut dicurigai karena mencuri-curi akses lewat jalur yang seharusnya dipakai buat masuk motor. Kondisi tersebut lumayan menyulitkan kami yang membawa sepeda harus dalam keadaan dilipat selama di dalam  area PT. KAI. 
  2. track pejalan kaki di sepanjang peron menunggu kereta; sirkulasi yang kurang baik dan perbedaan ketinggian di dalam track peron menjadi persoalan utama disini. Sirkulasi di Stasiun Tanah Abang misalnya, mengharuskan para transit commuter untuk naik dulu ke bangunan diatas, kemudian turun lagi dan menyeberang rel dengan jarak +/- 300 meter jauhnya. Perbedaan ketinggian peron dan tidak adanya sinkronitas antara peron satu dengan yang lainnya, terjadi di Peron 4/5 Stasiun Bogor. Hal ini sangat menyulitkan, karena selama jalan yang jauh tersebut kami juga tidak diperbolehkan membuka sepeda / sepeda harus dalam keadaan terlipat. Pernah saya harus melompat-lompat dengan keadaan membawa sepeda saya ( beratnya +/- 10 kg) dari peron 8 ke peron 2 Stasiun Bogor, karena tidak ada jalur penghubung landai yang terdapat diantara track peron tersebut, satu-satunya track penghubung adalah memutar ke arah bangunan loket ticketing. Alhasil, lutut saya keseleo karena harus melompati ketinggian +/- 1 meter secara berulang-ulang (kondisinya saya mengejar kereta terakhir). 
  3. kesiapan para petugas operasional di stasiun, yang terakhir ini adalah masalah wawasan dari petugas operasional dalam meng-assistance para pesepeda. Petugas operasional memang pihak yang langsung bersentuhan dengan penumpang, suka atau tidak. Beban mereka besar, karena selalu bertatapan muka dengan orang yang terburu-buru, orang yang kesal karena keretanya gangguan, hingga orang yang kebingungan karena baru pertama kali naik KRL. Selama saya mengunakan KRL Jabodetabek dengan membawa sepeda, sudah 2-3x saya ditegur oleh petugas operasional stasiun. Yang pertama, karena saya mengayuh sepeda terlalu kencang di kawasan parkiran Stasiun Bogor (terlalu kencang itu subyektif -red), yang berujung pada saya diinterogasi masalah kedisiplinan oleh para petugas operasional. Yang kedua, karena saya keluar dari Stasiun Bogor melipir-melipir lewat samping gate keluar mobil, saya dikira mau menerobos keluar stasiun tanpa bayar parkir, sehingga berujung pada interogasi (lagi). Yang ketiga juga sama persoalannya, tapi sang petugas operasional berdalih masalah keamanan. "Kalau nggak ada buktinya bagaimana bisa anda membuktikan sepeda ini milik anda?" Ujar Pak Petugas. "Saya nggak bisa pak, saya cuma bawa sepeda dari Stasiun Tanjung Barat" Balas saya. Usut punya usut, ternyata sehari sebelumnya pernah ada sepeda hilang di kawasan stasiun. Namun, apakah itu alasan yang tepat untuk menuduh?. Lalu dimanakah letak kesalahan saya? karena saya cuma mengikuti ketentuan yang diperbolehkan, yaitu membawa sepeda lipat melalui kereta KRL Jabodetabek. Dan sepeda sayapun tidak harus diberi name tag.

Saya sangat menyayangkan ketidaknyamanan yang saya alami ini diakibatkan oleh tidak siapnya PT. KAI dalam mempersiapkan supporting factors. Padahal di kota-kota maju di luar negeri, seperti Copenhagen, bicycle rider merupakan warga kelas dua yang hak-haknya harus dipenuhi (safety, kenyamanan, integrasi akses antar moda  transportasi dan ketersediaan jalur khusus). Warga kelas satunya? jelas pejalan kaki itu sendiri. Pertanyaannya, apakah perkembangan budaya transportasi kita akan menjadi semaju Copenhagen, atau masih saja memelihara pola pikir kuno di Indonesia, bahwa sepeda adalah mainan anak kecil saja?. Saya mohon PT. KAI dapat mengerti dan memahami keresahan saya ini dengan memberikan hak-hak para pesepeda di kawasan stasiun. Saya tidak meminta satu gerbong khusus pesepeda. Saya tidak meminta untuk mendapat perlakuan khusus sebagai pesepeda. Saya cuma meminta pedulikan hak-hak kami, seperti:

  • kemudahan memasuki entrance area,
  • kenyamanan dalam mengakses setiap bagian di dalam stasiun (jalur yang integrated dengan kelandaian yang dapat ditolerir saat kami menjinjing sepeda), dan
  • assistance yang ramah dan bebas prasangka dari petugas operasional stasiun.


Hari ini: Mark mengandalkanmu

Mark Winkel membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Ignasius Jonan: PT KAI, Pedulilah dengan Hak Kaum Pesepeda! Berikanlah Hak yang Sama bagi Pesepeda dalam Stasiun KRL!". Bergabunglah dengan Mark dan 302 pendukung lainnya hari ini.