Tolak Rencana Gubernur Bali Tutup Taksi Online

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Petisi Menolak Rencana Gubernur Bali Tutup Taksi Online

Nama saya Made Nanda, saya adalah seorang warga Bali yang bergerak di bisnis pariwisata dengan membuka penginapan dengan AirBnB. Beberapa unit ada di pusat-pusat wisata Bali mencakup kawasan Denpasar, Kuta Selatan dan Gianyar.

Saya merasa sangat terbantu dengan adanya taksi online dengan segala kemudahannya bagi tamu, walaupun kita semua tahu taksi online di Bali sudah mengalami represi sejak dari Bandara dan juga sekarang sampai dimana-mana bahkan.

Jika mengutip rencana penutupannya memang sangat ekstrim dan tidak sesuai dengan kemajuan zaman, baik tawaran untuk melarang taksi online di kantong wisata, menutup taksi online saja (ojek boleh), atau pun menutup semua transportasi online, baik mobil maupun motor.

Sumber: http://bali.tribunnews.com/2019/05/09/gubernur-bali-isyaratkan-tutup-taksi-online-ini-penjelasannya

Bali akan jadi sorotan yang negatif jika taksi online dilarang, sekarang adalah zaman gadget dengan segala kemudahannya.

Ambil contoh usaha yang saya kerjakan, sangat terbantu dengan layanan taksi online ataupun jasa lain yang ada dalam satu aplikasi terutama jasa antar makanan. Tidak bisa dipungkiri jika jasa antar makanan online adalah tulang punggung usaha yang saya dan ribuan teman yang lain lakukan.

Ketika sedang bercengkrama dengan para turis yang menginap di tempat saya, tidak jarang mereka mengungkapkan kenyamanannya menggunakan taksi online. Selama ini taksi konvensional di Bali terkenal dengan argonya yang semena-mena, tidak ada harga yang dijadikan dasar untuk menghitung tarif. Kehadiran taksi online menjadi nafas segar bagi para turis yang selama ini merasa tercekik dengan argo taksi konvensional tersebut.

Tamu merasa lebih leluasa menikmati Bali secara utuh, sesuai kebutuhan dan hasrat yang mereka mau dan disesuaikan dengan budget yang mereka siapkan. Taksi online membuat Bali menjadi lebih menarik dan keberadaan taksi/ojek online ternyata membuka banyak titik jelajah destinasi wisata yang baru.

Jika masalahnya hanya karena tarif, apakah solusinya harus menutup taksi online? Keputusan tersebut akan merugikan banyak pihak terutama pelaku industri kecil seperti saya, lapak-lapak jajanan dan makanan online, dan tentu saja para driver yang kemudian akan kehilangan pekerjaan. Wisatawan akan banyak yang kecewa dengan Bali, dimana sekarang semua serba mudah justru di Bali yang merupakan destinasi wisata utama Indonesia mengalami kemunduran karena sebuah keputusan yang berat sebelah.

Oleh karena hal tersebut, saya mewakili masyarakat Bali yang merasakan manfaat dari adanya taksi online menyatakan protes pada Bapak Gubernur I Wayan Koster dengan rencananya menutup taksi online.

Mari semua masyarakat Bali, dan juga masyarakat Indonesia yang merasa terbantu dengan keberadaan taksi online di Bali, ikut tandatangan petisi ini untuk mendesak Gubernur Bali meninjau kembali rencananya yang cenderung akan merugikan Bali baik secara bisnis dan juga di mata wisatawan.