Dukungan Untuk Masyarakat Adat Matteko Menjemput Keadilan

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Petisi Dukungan untuk Masyarakat Adat Matteko

Nurdin Tinri , Dahlan, Nasir, Nurdin, Saddam, dan Abd. Latif  adalah enam orang Masyarakat Adat Matteko yang sehari-hari bekerja menjadi petani untuk menghidupi keluarganya . Mereka berasal dari Dusun Matteko, Desa Ere Lembang, Kecamatan Tobolo Pao, Kabupeten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Saat ini, sudah 7 (tujuh) bulan mereka hidup mendekam dalam penjarah akibat kerja bakti yang berujung kriminalisasi.

Akibat dari kerja bakti tersebut, keenam masyrakat Adat ini justru didakwa oleh pihak kepolisian dan kejaksaan telah melanggar UU No.18 tahun 2013 tentang P3H (Pencegahan dan Pemberantasan Pengerusakan Hutan).

 

Berikut uarian fakta yang dialami 6 masyarakat adat itu di Matteko:

1.  Tanggal 2 januari 2019: Dua tiang listrik roboh akibat tertimpah pohon pinus dan menghalangi satu-satunya akses jalan ke Matteko. Pohon pinus yang rapuh karena sebelumnya pernah terbakar tersebut tumbang karena hujan deras disertai angin kencang yang melanda Dusun Matteko, Desa Erelembang, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Kejadian ini menyebabkan jaringan listrik yang dipakai sehari-hari untuk menujang kebutuhan warga di Dusun Matteko dan 3 dusun lainnya terputus. Di sisi lain, jalan sebagai satu-satunya akses kegiatan sehari-hari warga Matteko untuk beraktivitas seperti membawa hasil pertanian ke pasar untuk dijual, akses yang dipakai anak untuk pergi ke sekolah, atau keperluan lain di luar dusun juga tidak bisa dilalui.

2.  Tanggal 3 januari 2019: Pukul 10:00-23:00 Wita, karena di dorong atas rasa kemanuasian, kepedulian, dan goto royong masyarakat dusun Matekko secara spontanitas ramai-ramai turun melakukan kerja bakti dengan memotong dan mengangkat pohon pinus yang tumbang agar tidak menghalangi jalan. Mereka juga membantu pihak PLN untuk memperbaiki jaringan listrik di sana. Selain memotong dan memindahkan kayu yang tumbang, mereka juga menebang pohon pinus yang sudah lapuk, mati dan rusak serta dalam keadaan miring karena ditakutkan akan kembali tumbang sehingga menghalangi jalan serta memutus kembali aliran listrik juga mengancam pengguna jalan di sana.

3.  Kejadian itu bermula pada Tanggal 9 Januari 2019: Saat  Kapolsek Tombolo Pao Iptu. H. Jamaran yang didampingi 6 orang anggotanya beserta Kepala Desa Erelembang atas nama Putra Syarif Puang Pabeta datang ke lokasi di tempat kejadian pohon tumbang dan tempat warga melakukan kerja bakti. Setelah itu bersamaan dengan itu mereka memasang  garis polisi.

Tidak beselang beberapa hari setelah Kapolsek Tombolo Pao datang di lokasi kejadian pemerintah setempat yaitu Kepala Desa Erelembang memberikan perintah kepada Kepala Dusun bersama dengan tujuh orang warganya untuk datang ke Polsek Tombolo Pao untuk di mintai keterangan pada jumat18 Januari 2019.

4.  Tanggal 31 januari 2019 :Nurdin Tiri berserta lima temanya yaitu, Dahlan, Nurdin, Nasir, Saddam, Abd. Latif mendapat panggilan pemeriksaan dari Polres Gowa sebagai saksi.

5.  Tanggal 1 februari 2019 :Nurdin Tinri, Dahlan, Nurdin, Saddam, Abd.Latif ditetapkan sebagai tersangka didakwa melanggar Undang-Undang Republik Indonesia No.18 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan. Bersamaan dengan itu keluar pula surat perintah penahanan terhadap ke enam korban kriminalisasi.

6.  Hingga hari ini mereka masih dalam proses persidangan yang nasibnya ditentukan oleh keberpihakan keadilan terhadap rakyat kecil.

Dari uraian fakta - fakta di atas dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya sebagai berikut :

1.  Bahwa mereka adalah Masyarakat Adat Matteko yang sudah hidup secara turun-temurun.

2.  Bahwa keenam orang ini adalah murni melakukan kerja bakti/gotong royong bukan tindakan kriminal.

3.  Bahwa masyarakat Adat Matekko menebang pohon karena berpotensi merusak jaringan listrik, menghangi jalan, dan mengacam keselamatan bukan sebuah tidakan criminal yang teroranisir (Organized Crime) seperti yang di dakwakan.

4.  Keenam orang ini adalah murni korban kriminasasi dan tidak punya alasan untuk ditahan maka harus dibebaskan karna tidak terbukti secara hukum.

Maka dengan ini Kami Aliansi Matteko Menjemput Keadilan menuntut agar :

1.  Menolak Undang-Undang Republik Indonesia No.18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan

2.  Meminta pihak Pengadilan Negri Sungguminasa kabupaten Gowa untuk segera membebaskan keenam orang ini yakni Nurdin Tinri, Dahlan, Nasir, Saddam, Nurdi, dan Abd. Latif dari segalah tuntutan pidana.

3.  Meminta kepada seluruh penegak hukum  untuk menghentikan kriminalisasi terhadap masyarakat adat mengunakan UU P3H.

Solidaritas dan dukungan kawan-kawan sekalian akan sangat berharga, demi terwujudnya keadilan bagi 6 Masyarakat adat Matteko dan seluruh masyarakat adat di belahan bumi manapun yang selalu menjadi korban kriminalisasi.

Hidup Masyarakat adat, Hidup Rakyat yang berlawan...

Mari Bersama-sama Masyarakat Adat Mattteko Menjemput Keadilan.

Berdaulat, Mandiri, Bermartabat…..

Aliansi Matteko Menjemput Keadilan