Harga Minyak Goreng Gak Turun, Petani Sawit Merana Cabut Larangan Ekspor CPO & Turunannya

Kemenangan

Harga Minyak Goreng Gak Turun, Petani Sawit Merana Cabut Larangan Ekspor CPO & Turunannya

Petisi ini membuat perubahan dengan 3.347 pendukung!
Ignatius Ery Kurniawan memulai petisi ini kepada Joko Widodo (Presiden Republik Indonesia) dan

Pemerintah larang ekspor minyak sawit mentah (CPO), harga minyak masih mahal, petaninya malah merana.

Pasokan sawit menumpuk lantaran pabrik kelapa sawit (PKS) gak mampu lagi menampung hasil panen petani. Pedagang gak bisa menjual, lantaran pasar ekspor masih tertutup. Pabrik minyak goreng pun tak mau produksi berlimpah, karena harga jual tak mampu menutup biaya produksi lagi. Biaya produksi tak tergantikan, maka produk minyak goreng bisa tak diproduksi lagi.

Alhasil, kebijakan larangan ekspor ini malah merugikan banyak pihak, mulai dari petani, pedagang dan pabrik.

Kebijakan larangan ekspor ini berawal dari langka & mahalnya harga minyak goreng di pasaran. Lalu dianggaplah, karena kurangnya pasokan minyak. Tapi nyatanya, ada mafia yang bermain di dalam industri sawit.

Bukan rahasia lagi memang, oligarki sawit sudah merusak tatanan bisnis minyak sawit nasional yang telah berlangsung 100 tahun lebih di Indonesia.

Bukannya menuntaskan dugaan kasus korupsi dan memperbaiki tata kelola perdagangan minyak sawit nasional, pemerintah malah buat kebijakan yang sebenarnya gak nyambung, yaitu melarang ekspor.

Padahal, produksi minyak sawit mentah (CPO) kian bertambah, butuh output (jalan keluar) pasar yang heterogen, termasuk pasar luar negeri atau ekspor ke mancanegara. Ini bagian dari globalisasi, tak hanya CPO dan produk turunannya yang sudah menjadi produk dunia, namun industrinya juga sudah mulai menjadi bagian dari globalisasi. Fakta ini menunjukkan era globalisasi sawit Indonesia di pasar dunia.

Kalau alasan pemerintah larang ekspor untuk penuhi kebutuhan pasokan domestik, rasanya gak benar juga. Sebab produksi CPO nasional selama 2 minggu ini difokuskan bagi pasokan dalam negeri, jadi sebenarnya cukup.
Ilustrasinya: Rata-rata produksi CPO perbulan sebesar 4 juta ton, jika 2 minggu maka 2 juta ton. Konsumsi masyarakat Indonesia 400 ribu ton. Jadi bisa memasok hingga 5 bulan, kebutuhan minyak goreng nasional.

Karena itulah, saya meminta kepada Presiden Jokowi untuk mencabut larangan ekspor minyak sawit mentah (CPO), agar petani bisa kembali menjual hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) ke pabrik.

Kemendag juga harus turut memastikan pasokan domestik cukup melalui pasokan CPO dari produksi perusahaan negara (PTPN) dan menggunakan dana BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) untuk mensubsidi harga beli yang terjangkau masyarakat luas.

Presiden Jokowi, tolong jangan menunda pencabutan larangan ekspor CPO dan produk turunannya. Bila kian lama, maka petani dan PKS akan menanggung beban yang kian menggunung. Ini bukan retorika, ini kenyataan yang ada di lapangan.

Faktanya, Pasar dunia juga memiliki kebutuhan yang sama. Mereka butuh CPO dan produk turunannya untuk dikonsumsi. Sebab itu, butuh bantuan semua pihak untuk menyelesaikan karut marut persoalan ini.

Dukung dan viralkan petisi #SelamatkanSawit ya teman-teman, agar petisi ini terdengar sampai ke telinga Pak Jokowi dan Menteri Perdagangan.

Salam SAWIT KITA.
Indonesia Bertumbuh Sawit, Indonesia Makin Bangkit.

Hormat Kami,
Ignatius Ery Kurniawan

Kemenangan

Petisi ini membuat perubahan dengan 3.347 pendukung!

Sebarkan petisi ini