Pemerintah, Tolong Berikan Cuti Ayah Untuk Kelahiran Anak

Recent news

Menuju 25.000 Tanda Tangan, Anggota DPR Berkomentar: Cuti Ayah Aneh dan Berlebihan.

Terima kasih kepada sahabat semua, Para Ayah dan calon Ayah, Para Ibu dan calon Ibu, Para Anak yang mencintai Ayahnya, Berkat dukungan teman-teman, nyaris 25.000 tandatangan sudah terkumpul dalam waktu yang sangat singkat. Luar biasa! Perjuangan ini menyatukan ribuan orang dengan keinginan yang sama: DEMI ANAK. Kesamaan nada ini membuat suara kita semakin nyaring dan lantang terdengar. Suara 'berisik' kita ini ternyata mampu menciptakan isu baru yang menarik perhatian media. Media-media seperti kompas.com, liputan6.com, beritagar.id, tablod nova dan belasan lainnya, tertarik menjadikan petisi ini sebagai berita. Satu langkah yang menunjukan upaya kita mulai menunjukan hasil. Kita harapkan liputan media akan membuat aspirasi kita ini terdengar lebih luas dan menarik perhatian pemerintah, dan DPR yang punya wewenang untuk membuat peraturan dan undang-undang baru. Dan ternyata, teriakan kita ini sampai juga ke gedung parlemen di Senayan sana. Sayangnya komentar pertama yang terdengar cukup mengejutkan. Berikut petikan yang kami kutip dari nusantaranews.co: “Itu usul aneh,” kata Irgan, kepada Nusantaranews.co, di DPR, Jakarta, Selasa (21/6). Menurut Irgan, ketika istri melahirkan, maka ayahnya tidak harus minta cuti. Sebab, hal ini justru mengurangi produktifitas. “Nggak harus begitu, saya kurang setuju,” kata dia. Seorang suami, kata Irgan, memang ada fungsi ayah untuk menyayangi bayi yang baru dilahirkan. Namun, untuk menyayangi bayinya pasti ada kesempatan untuk bertemu. “Itu tradisi bule, tradisi orang barat jangan dibawa-bawa ke Indonesia,” sambung politikus PPP itu. Rasa cinta, sambung dia, tidak harus diperlihatkan dengan cuti bekerja. Sehingga, kalau pun dikasih jatah cuti, namun tetap tidak memiliki rasa cinta akan sama saja. “Yang penting itu hati, bukan waktu,” tandasnya ------------ Mari berbaik sangka, mungkin Beliau tidak pernah menjadi pegawai. Atau beruntung waktu bekerja selalu berada di perusahaan yang mendukung peran ayah saat istri melahirkan. Padahal di lapangan, hak libur dua hari saat istri melahirkan sering kali tidak diberikan atau dipersulit oleh perusahaan. Tidak seperti seorang supporter petisi ini yang menulis di path-nya: "Buat para calon ayah, kalau merasa penting silahkan isi petisinya. Pengalaman saya kemaren ngajuin cuti tapi nggak adapat respon. Saya pilih resign demi anak. DEMI ANAK!" Tapi komentar dan kritikan Anggota DPR diatas sebaiknya kita jadikan momen intropeksi. Ternyata kita harus bersuara lebih keras lagi melalui petisi ini. Demi memberikan pemahaman akan pentingnya peran ayah dalam tumbuh kembang anak bahkan sejak dini kepada semua pihak. Karena itu saya mengajak Sahabat yang belum menandatangani petisi ini untuk segera ikut mendukung. Kita yang sudah menandatangani diharapkan menyebarkannya sekali lagi melalui social media yang kita punya. Semakin banyak suara, makin nyaring dan lantang bunyinya, semoga akan berdampak lebih besar dan memberi tekanan pada pemerintah untuk segera memberi tanggapan dan mengambil tindakan. Hormat kami, Ahmad Zaini & Adi S Noegroho

Ayahadacom
5 years ago