HENTIKAN SINETRON YANG KURANG MENDINDIK ANAK BANGSA!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Tayangan Sinetron Kurang Mendidik di Masa Kini

Perkembangan ilmu teknologi telah membuat banyak perubahan dalam berbagai hal. Salah satu perkembangan yang terus memunculkan hal baru adalah media penyiaran. Media penyiaran telah menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat. Dimana banyak informasi diberitakan melalui media penyiaran. Media penyiaran merupakan alat yang digunakan untuk menyalurkan sebuah penyiaran, seperti media cetak, media elektronik, dan new media. Penyiaran adalah proses penyampaian siaran kepada penerima siaran terebut oleh pendengar atau pemirsa di suatu tempat. Media penyiaran yang masih digunakan oleh semua kalangan hingga kini adalah media elektronik, seperti televisi. (Wahyudi J.B. 2010)

 Penyiaran di Indonesia sudah diatur dalam undang-undang. Penyiaran merupakan sebagai kegiatan komunikasi massa yang mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial (pasal 4 UU 32 tahun 2002 tentang Penyiaran).

Dunia penyiaran, khususnya televisi tentu tidak lepas dari sebuah problematika. Misalnya tayangan sinetron, dimana di Indonesia banyak tayangan sinetron yang kurang mendidik dan mendapat respon tidak menyenangkan dari masyarakat. Bahkan ada sinetron yang beberapa kali ditegur oleh KPI. Sinetron terkadang menayangkan adegan yang tidak sesuai untuk diperlihatkan. Seperti tawuran, kisah cinta yang berlebihan, kekerasan, baik antar teman maupun keluarga, bullying, dan sebagainya. 

Yang memprihatinkan, banyak masyarakat meniru adegan dalam sinetron. Terlebih anak-anak dan remaja, dimana rasa ingin tahu mereka masih tinggi. Mereka meniru adegan dari sebuah sinetron tanpa menyaringnya dari budaya yang berlaku dalam kehidupan sehari-harinya. Para remaja dan anak-anak terkadang menganggap adegan dalam sinetron sedang "kekinian". Padahal hal tersebut dapat menghancurkan moral mereka. Contohnya saja adegan tawuran antar anak sekolah, gaya berpacaran layaknya suami istri, penampilan dengan seragam sekolah yang tidak sesuai aturan pada umunya, dan bullying. Adegan tersebut hampir selalu ada dalam setiap sinetron.

Contoh salah satu sinetron yang digandrungi anak-anak dan remaja adalah "Siapa Takut Jatuh Cinta" yang ditayangkan di salah satu channel televisi nasional. Meskipun begitu, sinetron tersebut terus tayang setiap hari dan mendapat rating tertinggi. Bisa dibilang, para pemirsa sudah kehabisan tayangan berfaedah sehingga hanya sinetron-sinetron tersebut yang bisa ditonton di televisi. 

Sinetron yang dibintangi oleh Verrel Bramasta dan Natasha Wilona ini tayang setiap hari. Apalagi, pemeran utamanya memang menjalin hubungan di dunia nyata, para fans semakin tak bisa melewatkan satu episode pun. Sinetron yang mengadaptasi cerita Meteor Garden ini tengah berkembang pada karakter yang telah menikah. Meskipun harusnya sah-sah saja melakukan adegan layaknya suami-istri ketika cerita sudah berkembang, tetapi netizen merasa hal tersebut salah karena keduanya baru saja berusia 18 tahun. Netizen pun mulai membandingkan dengan tayangan kartun yang terkadang disensor, tetapi mengapa sinetron seperti ini malah lulus sensor? 

HENTIKAN SINETRON YANG KURANG MENDIDIK ANAK BANGSA.