Selamatkan kearifan lokal sopi di Maluku

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Kejadian pertama yang menjadi pukulan pahit bagi kami yang memiliki adat isitiadat, kebiasaan adat yang merupakan kearifal lokal kami dikekang dan nyaris punah karena Kepolisian Daerah Maluku (POLAIR) telah menangkap 2 orang dari Maluku Barat Daya yang membawa sopi ditangkap di pintu masuk kota Ambon kemudian mereka diproses hukum dan ditersangkakan dengan  Pasal 142 jo. 91 ayat 1 Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 atau Pasal 204 ayat 1 KUHP. Hal ini mereka lakukan untuk memenuhi kepentingan adat dengan cara menjual kepada masyarakat Kab. Maluku Barat Daya Provinsi Maluku yang tersebar di sebagian besar masyarakat tersebut di Kota Ambon yang membutuhkannya untuk kepentingan masuk minta calon pengantin, mencairkan masalah, kumpul keluarga dst. Hasil jualan sopi berupa uang dipakai untuk menyekolahkan anak mereka karena sebagian besar masyarakat di Kabupaten berjuluk bumi Kalwedo itu bermata pencaharian sebagai orang mengolah/tipar segeru, enau dan Kelapa hingga masak menjadi minuman tradisional sopi sejak dahulu kala.

Apakah mereka harus dikekang dan dipenjarakan karena hal ini? Mereka harus dilindungi Negara dengan peraturan dan regulasi terkait budaya ini sebelum Negara ini ada.

Karena seyogyanya Negara menjamin, memelihara dan melindungi budaya2, kebiasaan, adat istiadat kearifan lokal itu.