Petition Closed
Petitioning Gubernur Provinsi Bali Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. I Made Mangku Pastika, M.M and 2 others

Penerapan Kebijakan Bali BARIS: BERSIH AMAN RAMAH INDAH SEJAHTERA

OM Swastyastu,

Bali BARIS, Menciptakan Bali yang Bersih, Aman, Ramah, Indah, dan Sejahtera.

Masihkah kita mengingat nyanyian, "Putri Cening Ayu ...", atau menarikan Tarian "Tari Legong", atau Tari Baris ??  Tari Baris, merupakan tarian yang tidak hanya dilakukan sendiri, namun juga dalam kelompok. Ada filosofi mendalam, di dalamnya ketika memimpin diri sendiri, dan juga masyarakat.

Kita semua mungkin telah berkontribusi sejauh kemampuan kita selama ini, dan itu tidak cukup dan oleh karenanya petisi ini juga dibuat dengan harapan mengingatkan kembali rasa kepedulian kita, serta untuk membantu dan kinerja pemerintahan, khususnya dalam periode ke-2 pemerintahan Bapak Made Mangku Pastika menjabat sebagai Gubernur Provinsi Bali dan menuju cita-cita kita bersama Bali Dwipa Jaya, Kejayaan Pulau Bali.

Kita ketahui bersama, Provinsi Bali adalah salah satu dari 34 Provinsi di Indonesia, dan menjadi salah satu penghasil devisa tertinggi NKRI di bidang Pariwisata. Sudah menjadi rahasia umum bagi kita sebagai WNI, alasan Bali tidak diperkenankan atau belum bisa merdeka, Listrik! Melihat dan menimbang, sejarah berdirinya Bali, sebelum dan sesudah bergabung NKRI, dan selama ini. 

Perubahan itu memang nyata, tanpa bisa kendalikan. Ditengah kepadatan penduduk, berbanding dengan lahan hijau, dan sungai dan laut disertai luas wilayah, ditengah suksesnya program nasional pemerintah KB sebelumnya di Bali. Begitu pula peluang bisnis yang ada telah menjadi daya tarik tersendiri bagi arus globalisasi, baik urbanisasi, migrasi penduduk dari dalam dan luar negeri. Oleh karenanya hal ini secara langsung dan tidak langsung telah menimbulkan ketidakseimbangan alam, manusia, dan lingkungan, khususnya spiritualitas kehidupan di Bali. 

Dengan ketidakseimbangan yang ada, tentunya tantangan yang lebih besar harus kita hadapi bersama, harapan itu masih ada. Masih ingatkah kita, akan SAPTA PESONA ?

-------------------------------------------------------------------------------------------------

SAPTA PESONA, dan Bali BARIS ?

Karenanya kami mengajak saudara saudari kembali mengingat kata BARIS pada Tari Baris. Bali BARIS, bukan hanya sekedar "Baris": tarian (Tari Baris), atau  "Baris" berbaris pada sebuah Upacara Bendera, dan lainnya. Ini sebuah filosofi, yang mana mengingatkan kita akan Bali yang Bersih, Aman, Ramah, Indah, dan Sejahtera. 

Penjelasan BARIS, satu persatu.

1. Kebersihan

Masih ingatkah kita akan media internasional yang menayangkan sampah yang menumpuk di salah satu pantai beberapa tahun lalu?

Bali, merupakan salah tujuan tepat untuk sampah, kelak. Sampah yang menumpuk, baik di sungai atau laut, atau di sepanjang jalan merupakan sampah yang datangnya dari rumah tangga, dan limbah industri. Sebagian dari kita, membayar kontribusi untuk jasa angkut sampah, dan tidak sedikit yang hanya sekedar membakar, atau membuang ke sungai untuk mempermudah. Di sisi lain, dari pihak rumah tangga kita telah mulai memisahkan, menjual kembali ke Bank Sampah, dimana tidak sedikit pula para Pemulung membantu kita dan memproses kembali baik untuk berbagai kegunaan.

Pertanyaan Selanjutnya?

Di tengah pesatnya pembangunan di Provinsi Bali, seberapa besarkah anggaran yang tersedia untuk sebuah Manajemen Sampah Terpadu, dan berdirinya beberapa Toilet Umum Gratis, di setiap 8 Kabupaten, dan 1 Kota Madya ?

Tentunya dengan harapan pada akhirnya setiap rumah tangga, kantor, sekolah, dan tempat umum memiliki rasa tanggung jawab tersendiri, dengan memulai memisahkan berdasarkan kategori sampah - ke Bank Sampah di masing - masing Banjar, seterusnya Desa, Kecamatan, dan Kabupaten, pengolahan akhir TPA, dengan bersih tanpa sisa untuk terciptanya Bali yang BERSIH, dan sehat pastinya.

Tentunya dengan mengadaptasi konsep hidup sederhana, serta pengurangan konsumsi akan plastik nantinya. Peraturan pelarangan pemasangan iklan, serta penggunaan plastik dalam belanja. Konsep yang sama, bagaimana pemberlakuan "tanpa Plastik di Pura, dan tempat ibadah lainnya, serta pemisahan sampah yang ada." 

Dampak positif lingkungan yang bersih, secara tidak langsung berdampak pada lingkungan yang sehat dan bahagia bagi kita semua. Karenanya mari bersama kita berjuang tanpa lelah dan keluhan untuk mewujudkan Bali BERSIH. 

 

2. Keamanan

Bagian 1, Aman dalam Perjalanan.

Perjalanan dari Bandara Ngurah Rai menuju Kintamani; dari Pelabuhan Laut Gilimanuk, Benoa, Padang Bai ke berbagai tempat di Bali. Kita melihat keamanan dalam lalu lintas, bis besar, kol kecil, mobil, sepeda motor, truk dan tangki dengan kondisi lalu lintas yang ada, baik jalan dan rambu, serta penerangan. Masih ingatkah kita pada kondisi jalanan seputar Bali, masih banyak yang rusak parah, di tengah trotoar yang juga berbahaya untuk pejalan kaki yang sejak lama tidak ada perubahan, bahkan bertahun-tahun hingga menelan korban jiwa.

Pertanyaan Selanjutnya? 

Kami mempertanyakan kembali pesatnya pembangunan hotel, villa dan resort di Kabupaten Badung, serta kabupaten lainnya di Bali. Sejauh mana tanggung jawab publik dari instansi terkait pemerataan pembangunan di seluruh Bali. Khususnya disini kualitas dan keamanan jalan, lampu penerang jalan di kawasan bahaya, serta penambahan rambu lalu lintas, khususnya di kawasan sekolah, dan kawasan bahaya jalan yang menyediakan tempat bagi saudara saudari dengan berkebutuhan khusus disertai trotoar yang berkualitas baik dan nyaman. Terkait pada kemacetan lalu lintas dalam beberapa tahun terakhir dengan tanpa kontrol akan penggunaan kendaraan seputar Bali, baik secara umur, urgensi, dan tujuannya maka penambahan jalan, lainnya hanya akan memperkuat tantangan keamanan dan kemacetan selanjutnya, Jakarta Bagian 2.

Kondisi lalu lintas yang lancar, dan aman bagi setiap pengguna jalan, secara tidak langsung memberikan rasa keamanan kita bersama untuk terciptanya Bali yang aman dalam berkendara, dan dalam perjalanan. 

Bagian 2:

Keamanan Lingkungan, dan Kenyamanan Warga.

Sejauh ini, pemberlakuan KIPEM, dan bukan KTP bagi warga pendatang. Sejauh mana, aplikasi dari integrasi Hukum Adat, dan Hukum Dinas  di setiap Banjar dalam rangka penciptaan rasa aman untuk setiap warga.

Melihat dan menyaksikan kasus, pencurian, pembunuhan, dan kriminal lainnya selama ini semakin meningkat. Sudah saatnya kita memberlakukan "Sistem Integrasi Banjar", baik untuk kepentingan warga lokal begitu pula menetap sementara, dan pendatang. Tujuannnya tidak hanya untuk mengenal warga mereka, begitu pula untuk mencegah hal hal yang tidak diharapakan terjadi kelak, terkait kriminalitas khususnya.

Dampak lingkungan yang aman, sangat penting untuk meningkatkan kinerja dan kebahagian setiap warganya. Terlepas dari kekuatiran, yang tentunya mencemaskan setiap harinya. Oleh karenanya, mari bersama secara individu kita berjuang tanpa henti, dan lelah untuk menciptakan Bali yang AMAN. 

 


3. Keramahan

Kita sadari kembali, Bahasa Indonesia mulai menggantikan penggunaan Basa Bali di Bali dalam hidup sehari-hari di Bali, terlihat tidak sedikit masyarakat Bali umumnya lebih terbiasa dengan Bahasa Indonesia, daripada Basa Bali, bahasa lokal mereka.

Pertanyaan Selanjutnya ?:

Kebijakan untuk menjadikan Basa Bali, sebagai bahasa komunikasi sehari-hari di Bali. Saat ini Basa Bali mulai masuk pada kategori Bahasa yang akan punah, secara hukum alam ketika kita menyaksikan anak kecil, dan remaja dan keengganan untuk menggunakan Basa Bali, terlepas takut salah atau kurang dalam praktik lisan kesehariannya.  

Keramahan, mungkin terlihat ketika kita menjadikan tamu adalah raja, namun dengan ber Basa Bali, kita berusaha menjadi tuan rumah yang baik, dan dimulai dari mencintai rumah kita sendiri, serta sekaligus memberikan rasa cinta ini kepada tamu-tamu kita yang terhormat, dengan menjadikan lingkungan rumah dalam sebuah keluarga besar untuk terciptanya Bali yang ramah. Sekaligus untuk ini langkah untuk menyelamatkan Basa Bali, yang semakin punah di daerah asalnya.

Dengan sebuah komitmen untuk ber Basa Bali, sesama warga Bali, dan berusaha memotivasi warga pendatang, baik WNI dan WNA untuk belajar juga. Penggunaan Basa Bali, Aksara dan Latin dalam setiap nama jalan, atau tempat secara tidak langsung akan membantu, untuk keberadaan Basa Bali secara utuh.

Dengan ber Basa Bali, baik pada anggota keluarga, kerabat di sekolah, dan kantor, baik pada para pedagang bakso, jamu, sate, atau pisang goreng dan lainnya hingga pemulung di persimpangan di lain waktu serta di dalam pertemuan lainya tentu saja akan memperkuat rasa cinta pada Bali, secara tidak langsung.

Keramahan kita pada warga pendatang, dan wisatawan di awali bagaimana kita menghargai Basa Bali, di Bali sebagai bahasa persatuan kita. Dengan setiap senyum yang terpancar, kita berkomitmen memberi kebahagiaan pada diri kita dan lingkungan sekitar. Keramahan masyarakat Bali, yang perlu kita perkuat dan jaga setiap saat, di tengah situasi dan kondisi saat ini yang sangat krisis.

 

 4. Keindahan

Kepadatan penduduk berbanding luas wilayah, disertai pembangunan, dan alih fungsi lahan sawah dan hutan serta pepohonan berganti beton, air berganti banjir. Kurangnya lahan hijau, dan pantai tidak lagi menjadi milik masyarakat secara bebas.

Pertanyaan Selanjutnya:

Kita melihat fokus pada suasana terakhir Bandara Ngurah Rai, yang lebih didominasi pedagang berjualan daripada rasa kenyamanan para penumpang, atau keleluasaan. Sejauh mana, kita berusaha memberikan rasa nyaman kepada tamu kita yang baru saja mendarat, rasa yang akan melindungi dan memberi kehangatan selama liburan mereka. Di tengah semakin meningkatnya kunjungan wisatawan, dan pendatang yang menetap di Bali. Sejauh mana pula kita memberlakukan Gapura Bali, di setiap hotel, dan villa di Bali, atau penanaman pohon Kamboja, dalam kebun mereka. Bagaimana pula kontribusi, kolam renang dan penambahan pajak untuk konservasi sawah, dan lingkungan terkait krisis air saat ini.

Keindahan memiliki dampak besar pada kesehatan, dan kualitas hidup ketika menjawab tantangan peningkatan rasa depresi pada warga selama ini. Karenanya, penambahan Taman Kota yang memberikan konsep minimal seperti Kebun Raya Bedugul, yang disertai tanaman, bunga, dan tempat olah raga khusus anak, hingga lansia untuk melakukan aktivitas baik musik, kesenian, dan tarian setiap harinya. Dengan demikian, kita berusaha menciptakan interaksi yang aktif di setiap warga. Keindahan, pula tampak dengan meminimalisasi penggunaan media iklan di sepanjang jalan, dengan berbagai ukuran. Dengan menciptakan keindahan setiap saat tanpa lelah, kita berusaha untuk menjaga keindahan sekaligus kedamaian dalam hidup sekitar kita secara tidak langsung, dan meminimalisasi angka depresi dan kriminalitas.

5. Kesejahteraan

Kita ketahui bersama masyarakat Bali, warga umumnya yang beragama Hindu, 90% menuju 80% bahkan 70% di Bali , dimana paling tidak mengeluarkan 50% dari setiap bulan pendapatan untuk keperluan upacara ritual keagaamaan, dan khususnya untuk menjaga tradisi dan budaya yang mana menjadi daya tarik wisata, serta menjadi bhakti kita, atau secara tidak langsung dari segi spiritualitasnya. Disisi lain terlebih saat ini ada indikasi, terlihat persaingan tidak sehat karena para pengusaha baik lokal dan luar lebih prioritas pada calon pekerja yang bukan dari Bali, dan Hindu. Karenanya tidak sedikit kita menyaksikan warga Bali, dan Hindu  pemuda terpaksa pergi Kapar Pesiar, dan pemudi terpaksa pergi untuk SPA di luar negeri. 

Pertanyaan Selanjutnya?:

Di tengah berbagai rasa suka duka yang ada, kita semua sadari, mungkin kiranya adanya kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat Bali yang beragama Hindu khususnya. Sebagaimana sebuah kebijakan, perlindungan masyarakat umat Hindu di Bali yang bekerja di Bali, bukan hanya sekedar pada sebuah perusahaan dan jumlah quota lokal jenius, namun juga peningkatan kesejahteraan pada para pekerja yang bisa kita namakan "Kontribusi Budaya". 

Kontribusi Budaya, dengan penambahan gaji, sekian persen khusus di dalam rangka menciptakan agenda harian mereka, pada ritual keagamaan. Atau secara tidak langsung, kebijakan bagi warga pendatang baik WNI, dan WNA pada Kontribusi Budaya. Dengan bagaimana pemanfaatan keuntungan atau gaji mereka, untuk kontribusi budaya pada masyarakat. 

Dengan kontribusi budaya, kita bersama tanpa henti dan lelah bisa mencegah pesatnya penjualan tanah, hanya alasan untuk menyekolahkan anak, atau untuk penyelenggaraan upacara tradisi dan budaya untuk terciptanya Bali yang Sejahtera.

 

Bali BARIS, Bali yang BERSIH AMAN RAMAH INDAH SEJAHTERA memiliki banyak definisi bagi setiap individu. Karenanya, semoga kita sama-sama memberi arti itu hidup dalam setiap langkah kita, dan pertanyaan yang bisa kita jawab bersama, siapapun itu. Karena hari itu adalah sekarang!!

Matur Suksma. 

Hormat Saya,

I Nyoman Tenaya Santika

Admin Facebook Page: Gubernur Bali 

This petition was delivered to:
  • Gubernur Provinsi Bali
    Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. I Made Mangku Pastika, M.M
  • Bupati Badung
    I Nyoman Giri Prasta S.Sos
  • Walikota Denpasar
    Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra


    I Nyoman Tenaya Santika started this petition with a single signature, and now has 13 supporters. Start a petition today to change something you care about.




    Today: I Nyoman Tenaya is counting on you

    I Nyoman Tenaya Santika needs your help with “Gubernur Bali, Bupati Badung, Walikota Denpasar - Bali BARIS”. Join I Nyoman Tenaya and 12 supporters today.