Batalkan Penyelenggaraan Formula-E Jakarta, Hentikan Penghamburan Uang Masyarakat!

Batalkan Penyelenggaraan Formula-E Jakarta, Hentikan Penghamburan Uang Masyarakat!

0 a signé. Prochain objectif : 500 !
Quand elle atteindra 500 signatures, cette pétition aura plus de chance d'être inscrite comme pétition recommandée !
Irawan Endro Prasetyo a lancé cette pétition adressée à Gubernur Anies Baswedan et à

Banjir besar yang terjadi pada awal tahun baru 2020 menyadarkan kita semua bahwa ada PR besar yang tidak dikerjakan oleh Anues Baswedan, Gubernur Jakarta, dalam mengantisipasi peristiwa alam yang sudah jadi keniscayaan: banjir.

Gubernur DKI terdahulu, Basuki Tjahaja Purnama, sungguh menyadari bahwa kondisi geografis Jakarta membuat kota ini sangat rentan terhadap ancaman bahaya banjir; kiriman air dari arah hulu, lebar sungai yang menyempit, luas lahan resapan yang berkurang dan berbagai faktor lain yang saling terkait menambah besarnya ancaman tersebut. Berbagai program perbaikan dilakukan, khususnya normalisasi sungai, pembersihan saluran-saluran air dan perbaikan waduk-waduk penampung yang terbukti mampu menghilangkan atau setidaknya mengurangi banjir di kawasan-kawasan langganan bangan

Apa lacur, program-program yang sudah berjalan tak lagi dilanjutkan oleh pengganti beliau, Anies Baswedan. Anies hadir dengan segudang rencana berbiaya tinggi untuk memoles wajah Jakarta yang bahkan dianggap lebih penting daripada penanganan masalah banjir yang jelas mengancam di depan mata. Program normalisasi sungai digantikan dengan naturalisasi yang tak jelas konsepnya, dan selama dua tahun terakhir terbukti tak ada perkembangan apa-apa. Saat meninjau banjir Jakarta, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono pun mengatakan bahwa rencana normalisasi Ciliwung sepanjang 33 km baru dikerjakan sepanjang 16 km, dan tak ada perkembangan apa pun selama Anies menjabat. Padahal terbukti bahwa kawasan sekitar sungai Ciliwung yang sudah dinormalisasi terbebas dari genangan air banjir yang melanda Jakarta di awal tahun baru ini.

Anies sudah dengan gegabah memotong anggaran penanggulangan banjir Jakarta sebesar Rp. 242 miliar pada 2018, dan sebesar Rp. 500 miliar pada 2019. Ketimbang mengakui kelalaiannya, dalam wawancara dengan media Anies dengan jumawa tetap mengatakan bahwa banjir adalah masalah tak terhindarkan akibat adanya sungai yang melintasi kota Jakarta, menghantarkan air dari hulu ke hilir. Menyalahkan alam, dia tetap tak menjelaskan apa langkah konkret yang akan dilakukannya untuk mengatasi masalah banjir Jakarta.

Anies seolah tak peduli dengan besarnya kerugian masyarakat dan banyaknya korban jiwa yang sudah terjadi akibat banjir dahsyat ini, yang tentunya akan terulang lagi jika banjir kembali melanda Jakarta, Di tengah situasi darurat banjir Jakarta, tak sekalipun dia melontarkan wacana meninjau kembali suatu program kerja yang jelas telah ikut berperan mengurangi anggaran pencegahan dan penanganan banjir Jakarta: pelaksanaan lomba balap mobil listrik atau Formula-E yang dipastikan akan dilaksanakan pada 6 Juni 2020. Ajang balap yang tak memiliki manfaat jelas bagi warga ini bahkan sudah masuk dalam kalender resmi ABB Formula-E. Di tengah segala permasalahan anggaran dan bencana di Jakarta, Anies menunjukkan bahwa dia tak memiliki sense of crisis dan skala prioritas.

Menelan anggaran sebesar Rp. 1,6 triliun (untuk penyelenggaraan perdana) di tengah defisitnya APBD DKI Jakarta, ajang balap mobil listrik ini rencananya akan dilaksanakan di tengah kota Jakarta dengan menutup lalu-lintas di kawasan Monas. Penutupan lalu-lintas di pusat kota selama seminggu tentu akan berimbas pada kemacetan di berbagai ruas jalan sekitarnya, bahkan bisa jadi meluas ke seluruh pelosok ibukota. Jelas hal itu akan menimbulkan kerugian ekonomis yang besar bagi masyarakat dan menambah tingkat polusi Jakarta yang sudah sangat tinggi. Ini sungguh ironis, terbalik dengan tujuan pemasyarakatan mobil listrik yang digadang-gadang oleh Anies dan panitia penyelenggara. Berapa ratus miliar kerugian yang harus ditanggung warga Jakarta akibat penyelenggaraan acara itu? Apalagi ajang ini akan dijadikan program tahunan hingga lima tahun ke depan. Tak jelas berapa  kecil nilai pemasukan yang bisa diraup Jakarta dari penyelenggaraan ajang balap ini karena tak ada kajian proyeksi investasi yang memadai dan terbuka. Angka proyeksi penerimaan sebesar Rp. 1,2 triliun yang disampaikan Anies adalah paparan di atas kertas, sementara pada  kenyataannya banyak kota besar penyelenggara ajang Formula-E malahan menarik diri dan menghentikan penyelenggarannya karena besarnya masalah yang muncul dan besarnya kerugian finansial yang mereka tanggung. Hingga sekarang tercatat bahwa pihak penyelenggara Formula-E sendiri terus mengalami kerugian hingga jutaan dollar (silakan lihat di https://www.theverge.com/2019/5/3/18528551/formula-e-electric-racing-series-season-4-revenue-sponsorship atau https://www.forbes.com/sites/csylt/2018/10/25/formula-e-the-900-million-racing-series-which-lost-140-million/  Lalu, apakah rakyat Jakarta bersedia membiarkan uang pajak masyarakat selama lima tahun terus dipakai menutup kerugian yang pasti akan terjadi dari penyelenggaraan acara ini? Saya tidak bersedia. Bagaimana dengan Anda? 

Banjir besar di awal tahun ini jelas menunjukkan bahwa ada program yang jauh lebih penting daripada ajang balap formula-E yang belum jelas akan memberikan dampak apa-apa kecuali beban hutang di depan mata. Jika tetap ingin memaksakan penyelenggaraan event ini di Indonesia, melihat bagaimana cara mereka mengelola anggaran dan menata kota, Surabaya rasanya lebih baik dan siap daripada Jakarta. Sementara ini, Jakarta perlu program pencegahan dan penanganan bencana banjir yang lebih baik, bukan kampanye hura-hura tentang mobil listrik yang menghamburkan banyak biaya.  Liputan internasional yang akan didapatkan jauh lebih kecil nilainya dibandingkan kerugian ekonomi dan sosial bagi masyarakat Jakarta. Daripada digunakan untuk ajang balap yang selalu merugi ini, anggaran penyelenggaraan Formula-E seharusnya dialihkan kembali untuk program pencehagan dan penanganan banjir Jakarta serta berbagai program penting lainnya. Mari kita tandatangani petisi ini, TOLAK PENYELENGGARAAN FORMULA-E DI JAKARTA! Tolak penghambur-hamburan uang rakyat untuk program yang nirmanfaat!

0 a signé. Prochain objectif : 500 !
Quand elle atteindra 500 signatures, cette pétition aura plus de chance d'être inscrite comme pétition recommandée !