Petition Closed
1
Supporters

Kami, warga negara Indonesia, mengajukan protes keras atas tindakan pembakaran 216 eksemplar buku “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” karya Douglas Wilson di halaman belakang Bentara Budaya, kompleks Gramedia, Jakarta pada hari Rabu, 13 Juni 2012 serta pembakaran buku yang sama di Cakung (Jawa Barat), Surabaya, Semarang, Makassar, dan Pekanbaru.

Letter to
Gramedia, Majelis Ulama Indonesia, Front Pembela Islam Wandi S Brata (Gramedia), KH Ma'ruf Amin (MUI), dan Habib Rizieq (FPI)
Kami, warga negara Indonesia, mengajukan protes keras atas tindakan pembakaran 216 eksemplar buku “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” karya Douglas Wilson di halaman belakang Bentara Budaya, kompleks Gramedia, Jakarta pada hari Rabu, 13 Juni 2012 serta pembakaran buku yang sama di Surabaya dan Pekanbaru.

Buku tersebut dibakar menyusul peristiwa-peristiwa berikut ini:

- Munculnya surat pembaca di harian Republika pada hari Jumat, tanggal 8 Juni 2012 tentang muatan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan umat Islam.

- Permintaan maaf pihak penerbit Gramedia kepada umat Islam Indonesia di harian Republika atas “keteledoran” mereka dan pernyataan janji untuk menarik buku yang dicetak sejumlah 3.000 eksemplar tersebut dari peredaran.

- Pelaporan anggota FPI kepada Polda Metro Jaya pada tanggal Senin, 11 Juni 2012 dengan nomer LP/1985/VI/2012/PMJ/Ditreskrimum atas ‘penistaan agama’ yang dilakukan penerbit Gramedia.

- Permintaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada pihak Gramedia pada Selasa, 12 Juni 2012 untuk memusnahkan buku tersebut.

Menanggapi peristiwa tersebut, kami mengambil sikap tidak berdiam diri dan memberikan tanggapan bahwa:

1). Anjuran Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada Gramedia untuk memusnahkan buku tersebut merupakan cerminan sikap fasistik dari sebuah lembaga keagamaan di republik demokratis ini. Pembakaran buku adalah tindakan yang merusak kekayaan intelektual dan moral sekaligus merupakan contoh buruk yang mengajarkan bahwa ketidaksepahamanan diselesaikan dengan cara-cara pemusnahan.

2). Sikap Gramedia untuk takluk dengan (kemungkinan) amuk massa FPI yang memelihara teror dan kekerasan dan kemudian memilih mengambil solusi pembakaran adalah upaya pemeliharaan atas teror itu sendiri menjadi sesuatu yang berkelanjutan dan memiliki dampak yang panjang, bukan saja pada penerbit Gramedia sendiri, tetapi pada penerbit-penerbit lain di Indonesia.

3). Front Pembela Islam (FPI) yang melakukan pelaporan ke kepolisian atas isi buku tersebut dengan tuduhan menistakan agama harus menghentikan cara-cara teror, mengadu domba, dan memulai membiasakan berpikir terbuka apabila tidak setuju dengan isi buku dengan mendahulukan membuat keberatan atas isi daripada mengancam, meneror, merepresi pihak yang bersinggungan.

4). Sejak Oktober 2010, mekanisme pelarangan buku sudah diatur lewat jalur hukum, dimana hanya pengadilan saja yang bisa menentukan benar atau salahnya isi buku dan melakukan perintah penarikan buku dari peredaran.

5). Buku adalah sumber wawasan dan ilmu pengetahuan serta penguasaan alam yang harus didalami dan diciptakan terus-menerus oleh manusia. Buku adalah wahana transfer gagasan dan pemikiran yang pada gilirannya menantang sikap dan kecerdasan manusia untuk selalu menggagas dan berbuat yang terbaik. Maka sekali-kali jangan lagi terjadi pembakaran buku. Buku TIDAK BOLEH dibakar.

Ini sikap dan tanggapan kami, warga negara Indonesia, yang tidak takut atas teror dan ingin Indonesia lebih baik lagi dengan stop bakar buku.

Jakarta, 14 Juni 2012