Facebook, Mohon Cabut Kebijakan Pemblokiran Semena-mena

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Saya tidak tahu apa penyebab pastinya. Apakah memang benar kebijakan Facebook atau algoritma fitur keamanannya yang error. Yang jelas sudah banyak akun yang jadi korbannya. Akun-akun yang cukup populer ala seleb medsos. Akun-akun yang "kebetulan" merupakan pendukung Prabowo-Sandi seperti Balya Nur, Tara Palarasa, Agi Betha, Iramawati Oemar, Azwar Siregar, Setiawan Budi, Andi Ima dan saya sendiri. Kesemuanya diblokir sekitar sebulan sebelum dan sesudah hari pemungutan suara Pemilu 2019.

Iramawati dan Setiawan mengabarkan bahwa akunnya sudah dinonaktifkan secara sepihak. 

Saya juga tidak tahu persis apakah akun-akun seleb medsos pendukung Jokowi ada juga yang diblokir dengan alasan yang sama. Sepengetahuanku hingga saat ini, sepertinya tidak ada. 

Alasannya? Hanya karena postingan lawas tentang berita atau foto Habib Rizieq Shihab. 

Melalui petisi ini, saya berharap supaya Facebook memperbaiki kebijakan keamanannya. 

Berikut ini cerita detailnya yang saya tuliskan pada tanggal 26 Maret 2019 yang lalu. 

Mengapa Saya Disetrap Facebook? 

Hello gaess. Apa kabarnya neh? Kali ini saya mau ceritakan mengapa saya diblokirFacebook. Bakalan asyek dan seru neh gaess! Youtuber wannabe. Preeeet...! 

Dua minggu yang lalu, tiba-tiba muncul notifikasi tentang postinganku yang dianggap oleh Facebook melanggar peraturan. Pertama, sekedar peringatan tanpa hukuman apapun. Lalu muncul yang kedua, ketiga dan keempat dalam rentang waktu sekitar satu minggu. Setelah yang keempat, lagi-lagi muncul satu notif bahwa ada postinganku yang melanggar aturan. Dikarenakan sebelumnya telah membuat empat kali postingan yang terlarang menurut aturan medsos buatan Mas Zuck ini, akupun disetrap selama tiga hari. 

Gak boleh mosting. Gak boleh ngomen. Gak boleh ngelaik. Cuma bisa nonton postingan teman-teman dan ngebacain komen-komen saja. Menyebalkan!. 

Tiga hari berlalu, akupun dibebaskan dari penjara ala Facebook. Sempat satu hari aktif, membuat beberapa postingan terkait Pilpres 2019 dan postingan ringan. Keesokan harinya, aku diblokir lagi karena suatu postingan. Kali ini hukumannya lebih lama, tujuh hari. 

Oke. Pada pukulan pertama saya sempat emosional, tapi tidak bisa berbuat banyak untuk melampiaskannya selain membuat postingan singkat di akun cadangan, Rahmad Agus Koto II. Sempat juga kuprotes dalam kolom feedback-nya, tapi gak ada respon balik samasekali.  Bagaimana saya tidak emosi? Merasa dizalimi gitu loh. Semua postingan yang dianggap melanggar aturan itu menurutku sepertinya tidak ada yang melanggar hukum resmi yang berlaku di negara manapun. Bahkan secara moralpun tidak. 

Sempat juga kudeaktivasi, dan sempat juga kepikiran mau kudelet permanen akunku ini, tapi rasanya sangat sulit. Mengapa? Akun ini umurnya udah satu dekadean loh. Baru kali ini saya mengalami hal ini. Bayangkan aja sendiri, betapa banyak buah pemikiran-pemikiran dan momen-momen indah tak indah yang telah terekam di database server Facebook ini. Bukan sekedar bermedsos ria, ianya juga merupakan diari pribadi kan ya. Teman-teman yang aktif pasti pada ngerti deh.

Kita lanjutkan ya gaess... :D

Semua postingan yang dianggap melanggar aturan itu hanya berupa foto HaErEs! Sekali lage, foto-foto HaErEs! Iya, semuanya! Kata-kata pengantar foto-foto itupun sifatnya umum, nyindir dan tidak disertai kata-kata yang kasar. Beneran. Dikarenakan alasan-alasannya yang gak masuk akal, wajar dong ya terbetik pemikiran yang macam-macam di otakku. Kucoba menenangkan diri, kemudian instrospeksi, menganalisis persoalan dan membuat beberapa hipotesa dengan cara menciptakan berbagai pertanyaan.

Dihack? Dicrack? Kupastikan tidak. Udah kucek en ricek di dashboard sekuriti.

Mengingat saya aktif membuat postingan-postingan terkait politik nasional, apa mungkin akunku dilaporkan oleh akun-akun yang preferensi politiknya berbeda denganku? Lha, saya ini siapa sih? Rasanya berlebihan klo saya dianggap seleb medsos yang memiliki pengaruh besar, dianggap sebagai opinion leader. Saya ini cuma coro loh di dunia politik ala medsos. Cara merendahkan hatinya keterlaluan neh. Ngekeh.

Bagaimanapun, mungkin saja ini penyebabnya, akun-akun teman-temanku yang jauh lebih terkenal denganku juga mengalami hal yang sama dan dengan alasan yang sama, seperti Mbak Agi dan Mbak Ima. Lebih jauh lagi, apa mungkin admin Facebook telah berkolaborasi, berafiliasi dengan kelompok politik tertentu untuk nge-takedown akun-akun yang dianggap bisa mengganggu kepentingan politiknya? Tapi, menurutku kemungkinan ini sangat kecillah.

Dari semua kemungkinan-kemungkinan yang ada, saya lebih condong berpendapat bahwa ini disebabkan oleh para pecundang tukang lapor dan atau algoritma bot sekuriti Facebook yang error, yang salah kaprah. 

So?

Yaudah, kuanggap aja lagi apes. Perjuangan politikku di ranah medsos tidak akan kuhentikan karena hal ini. Bukannya jadi down, saya malah jadi lebih semangat, saya bakal lebih agresif lagi menyerang pujaan kalian yang pelangak pelongok itu. 

Camkan itu wahai kalian para pecundang! Eeeaaa... 

Trus, besoknya saya kenak blokir lagi. LoL

#SaveNetNeutrality