KURANGI SAMPAH PLASTIK DENGAN GERAKAN INDONESIA MEMBAWA TUMBLER!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


GERAKAN INDONESIA MEMBAWA TUMBLER

Kami merasa sedih ketika melihat berita tentang paus sperma yang mati terdampar di Wakatobi pada 20 November 2018 lalu dan didalam perutnya ditemukan sampah plastik sebanyak 5.9 kg! Sampah plastik tersebut terdiri dari sampah gelas plastik (115 buah), plastik keras (19 buah), botol plastik (4 buah), kantong plastik (25 buah), serpihan kayu (6 potong), sandal jepit (2 buah), karung nilon (1 potong), tali rafia (lebih dari 1.000 potong).

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada penyu di pesisir Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dimana dalam kurun waktu 2 bulan ditemukan 20 ekor penyu yang mati. Setelah di teliti ternyata terdapat gumpalan yang menyerupai tar aspal, hal ini mengindikasikan bahwa penyu-penyu tersebut keracunan. Selain itu, pada kasus lain ditemukan juga gumpalan makroplastik pada lambung penyu yang menyumbat saluran cerna sehingga penyu tersebut mati karena malnutrisi. Menurut informasi, disepanjang pesisir pantai ditemukan banyak sekali sampah plastik. Penyu yang mati karena mengkonsumsi sampah plastik disebabkan karena penyu tidak bisa membedakan mana ubur-ubur dan kantong plastik!

Biota laut yang menjadi korban dari sampah plastik di lautan tidak hanya Paus dan Penyu, melainkan ada coral, burung laut dan hewan lainnya! Hal ini jelas akan sangat mengganggu ekosistem bawah laut di Indonesia.

Miris sekali bukan?

Plastik tidak bisa dicerna oleh tubuh biota laut yang mengonsumsinya!

Selama ini, mungkin kita hanya mengenal “plastik” dalam ukuran materi yang besar dan merupakan bagian dari sampah yang sulit terdegradasi. Hal ini tidak ada salahnya, namun kita harus mulai mengetahui, bahwa plastik bukan hanya merupakan materi yang berkuran besar, melainkan juga terdapat dalam ukuran yang sangat kecil atau disebut dengan mikroplastik.

Topik tentang mikroplastik saat ini sedang ramai diperbincangkan. Mikroplastik merupakan materi yang dapat berasal dari berbagai sumber. Sumber pertama, primary microplastic, adalah microplastik yang sengaja “dibuat” untuk keperluan kosmetik, pembersih wajah, pasta gigi yang memiliki mekanisme sebagai “amplas” atau pembersih. Sumber kedua, secondary microplastic, adalah plastik berukuran besar yang teterdegradasi menjadi serpihan – serpihan kecil baik akibat arus laut, atau proses alam lainnya.

Info Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, setiap menit ada lebih dari satu juta plastik yang digunakan oleh konsumen. Dimana setengah diantaranya hanya dipergunakan sekali pakai dan setelahnya langsung menjadi sampah, salah satunya adalah penggunaan botol kemasan plastik. Lalu apa yg harus kita lakukan? Hal paling sederhana adalah membawa botol minum sendiri. Tanpa disadari kita selalu menggunakan botol sekali pakai apabila membeli air mineral kemasan di luar rumah dan botol air mineral yang telah habis akan menjadi sampah, begitu seterusnya. Yang menjadi pertanyaan adalah berapa botol yang dibuang setiap hari?
Semoga cukup memberi gambaran.

Dari permasalahan inilah, kami dari komunitas Bring Your Tumbler ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi mendukung Gerakan Indonesia Membawa Tumbler (GIMT). Kalau bukan kita yang memulai, lalu siapa lagi?

Sehat, hemat dan ramah lingkungan!

Kami percaya suaramu bisa membuat perubahan yang besar bagi kebijakan di Indonesia.

Tandatangani dan sebarkan petisi ini ya!

#bringyourtumbler #ecowarrior #gerakanindonesiamenbawatumbler #dietbotolplastik



Hari ini: Bring Your Tumbler mengandalkanmu

Bring Your Tumbler membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Eco Warrior: Gerakan Indonesia Membawa Tumbler". Bergabunglah dengan Bring Your Tumbler dan 726 pendukung lainnya hari ini.