Dukung Wisata Religi di Aceh melalui Uji Membaca Al-Quran untuk Capres-Cawapres 2019

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


WISATA RELIGI

Sebagai salah satu daerah yang memiliki beragam peninggalan peradaban Islam tertua di Indonesia, dan peran tokoh-tokoh Aceh masa lalu dalam penyebaran Islam di Indonesia dan semenanjung melayu, tentu ikut berpengaruh pada pembentukan watak dan karakter masyarakatnya. Sehingga jangan heran jika masyarakat Aceh merupakan daerah terdepan yang turut mendukung kemerdekaan Indonesia. Ini dikarenakan penjajahan sangat bertentangan dalam ajaran Islam. Oleh sebab kontribusinya juga Aceh mendapat julukan sebagai Serambi Mekkah atas peranannya dalam penyebaran nilai-nilai Islam di Indonesia.

 

Pada era sekarang ini, tidak bisa dipungkiri bahwa julukan tersebut ikut memberikan dampak positif bagi Aceh, khususnya branding pariwisata di tingkat nasional. Ini yang kemudian menjadikan positioning Aceh sebagai salah satu daerah tujuan wisata religi dalam dan luar negeri.

 

Ada banyak hal yang menjadi daya tarik dan potensi wisata tentang peradaban Islam di Aceh, yang seharusnya bisa mendongkrak perekonomian masyarakatnya. Salah satunya adalah dengan pemberlakuan Syariat Islam secara Kaffah di Aceh. Makanya dalam beberapa hal untuk mendukung pengintegrasian penerapannya, Aceh memberikan penekanan khusus dalam urusan kepemerintahannya. Ini dapat ditemukan dengan adanya regulasi yang mengatur tentang kewajiban uji kemampuan baca Al-Quran untuk calon pemimpin daerah dihampir semua tingkatan.

Tes baca Al-Quran sendiri bukanlah hal baru bagi Pemerintah Aceh dan Masyarakatnya. Tes ini sudah diterapkan sejak pemilu tahun 2007  dan menjadi kekhususan bagi Aceh sebagaimana diatur pada :

  1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh
  2. Qanun/Perda Aceh Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Partai Politik Lokal peserta Pemilihan Umum anggota Dewan Perwakilan Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Kota/Kabupaten
  3. Qanun/Perda Aceh Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota
  4. Qanun/Perda Aceh Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Pemilihan dan Pemberhentian Keusyik di Aceh.

Aturan hukum ini merupakan keharusan yang sifatnya wajib dan bisa membatalkan seseorang ataupun pasangan beragama Islam untuk mencalonkan diri sebagai :

  • Calon anggota DPR Tingkat I
  • Calon anggota DPR Tingkat II
  • Calon Gubernur/Wakil Gubernur
  • Calon Bupati/Wakil Bupati
  • Calon Walikota/Wakil walikota
  • Keusyik/Kepala Desa

Dari beberapa tingkatan pemilihan mulai desa, kabupaten/kota, dan provinsi tidak sedikit bakal calon yang gagal ditetapkan menjadi calon dikarenakan tidak lolos pada tahapan uji mampu baca Al-Quran. Belakangan menjelang pemilu serentak pada 17 April 2019, aturan tersebut mengharuskan sejumlah bakal calon anggota  DPR Provinsi dan DPR Kabupaten/ Kota di Aceh batal ditetapkan menjadi calon legislatif karena tidak lulus tahapan tes kemampuan membaca Alquran. Kelulusan pada tahapan ini sendiri menjadi pretise bagi calon bersangkutan dikalangan pemilih. Hal ini merupakan salah satu budaya kolektif masyarakat di Aceh untuk selalu berupaya membesarkan peradaban Islam dalam setiap urusan. Makanya ikut menjadi sebab dari kekecewaan masyarakatnya, jika ada calon pemimpinnya tidak lolos tahapan yang telah disyaratkan. Bahkan bagi sebahagian orang hal tersebut dianggap sebagai sebuah "aib" yang sangat memalukan bagi  dukungan penerapan Syariat Islam secara kaffah.

 

Begitupun dinamika politik menjelang pemilihan presiden pada pemilu 2019, Aceh kembali ingin menunjukkan kekhususannya dalam urusan kepemerintahan. Ini ditandai dengan undangan dari Ikatan Dai Aceh untuk kedua pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Indonesia 2019 - 2024 untuk datang ke Aceh Tanggal 15 Januari 2019 guna mengikuti tes kemampuan baca Al-Quran. Hal ini seperti disebutkan, sebagai salah satu upaya untuk mengakhiri polemik kampanye kotor dikarenakan label kelompok Islam dan anti Islam diantara kedua pasangan tersebut.

 

Terlepas dari kepentingan pilihan politik apapun, sekiranya Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh bahkan Indonesia, bersepakat bahwasanya pariwisata adalah salah satu sektor penting bagi suatu daerah untuk menarik minat orang lain untuk berkunjung dalam waktu tertentu karna potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Hal ini tentu tidak lain dikarenakan akan meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat yang mendiami daerah tujuan wisata. Begitupun alasan yang membuat suatu daerah menjadi tujuan wisata, tentu dikarenakan apa tujuan wisata yang dimilikinya. Oleh karena Aceh selama ini menempatkan diri pada salah satu tujuan wisata pada sektor religius, patutlah Aceh menjadi pelopor Uji Kemampuan Baca Al-Quran seperti yang sebelumnya berkembang. Tentu hal ini harus dilihat pada sisi bagaimana meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh, sebagai upaya mendukung branding #AcehReligiousTourism. Tentu ini tidak berlebihan jika event tersebut ikut mempengaruhi effect ekonomi bagi masyarakatnya. Momen ini tentu harus dilihat secara konteks, bagaimana wajah pariwisata Aceh dalam model wisata religi, baik dari sisi sejarah masa lalunya, bahkan pada model pemilihan calon pemimpin. Ini dimaksudkan agar nantinya pariwisata bukan lagi dianggap sebagai sektor yang bertolak belakang dengan penerapan Syariat Islam, tetapi sektor yang bersinergi dalam segala hal untuk membesarkan Islam itu sendiri. Sehingga slogan  #DariAcehUntukIndonesia dapat diwujudkan dari kepeloporan uji kemampuan baca Al-Quran untuk Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024, sebagai bentuk dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Aceh sebagai tujuan wisata religi.

 

 

 

 

 

 



Hari ini: Deny mengandalkanmu

Deny Ardiansyah membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Dukung Wisata Religi di Aceh melalui Uji Membaca Al-Quran untuk Capres-Cawapres 2019". Bergabunglah dengan Deny dan 18 pendukung lainnya hari ini.