DUKUNG STOP IKLAN ROKOK DI KOTA MAKASSAR

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Makassar, Kota Dunia. Adalah kalimat magis yang mengandung cita-cita dan harapan bagi seluruh penduduk Kota Makassar. Semua tentu bahagia jika Kota ini benar-benar menjadi Kota yang mendunia. Semua kalangan pasti akan merasakan dampak positifnya. Sayangnya, dari waktu ke waktu ada yang bergerak diam-diam namun masif dan tidak sejalan dengan cita-cita seluruh penduduk Kota ini.

Pernahkah Anda memperhatikan setiap sudut jalan, lorong-lorong, bahkan pada jejeran pertokoan di Kota ini? Pernahkah Anda menyadari pemandangan yang selalu disuguhkan kepada kita, kepada anak-anak kita? Sebagian kita mungkin tidak menyadari pemandangan itu. Ya, tentu, karena pikiran dan hati kita sudah menormalisasi pemandangan itu. Bahkan yang tak seharusnya dipertontonkan kepada seluruh anak di Kota ini. Apakah Anda tahu pemandangan itu? IKLAN ROKOK.

Industri rokok menggunakan semua jenis media untuk mempromosikan produknya, baik media cetak, elektronik, online, hingga reklame, seperti papan reklame, billboard, display, baliho, poster, megatron, stiker, spanduk, umbul-umbul, neon box, lampu hias, papan nama, balon udara, gerobak, rumah, gardu, tempat ojek, tenda, bus, mobil, motor, halte, dan sarung ban, yang tersebar di sekitar sekolah, rumah sakit, perkantoran, di mall, tempat wisata, restoran, dan tempat bermain anak. Paparan promosi produk rokok di semua ruang memberi persepsi kepada generasi muda bahwa rokok adalah hal yang wajar/biasa terlebih dengan pencitraan yang dibangun oleh iklan-iklan rokok seakan menantang anak-anak dan remaja untuk terlihat keren, maskulin, dan gaul dengan merokok.

Menurut hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan sekitar 9,1% atau 3,2 juta anak merokok di Indonesia (Kemenkes RI, 2018). Padahal target RPJMN 2014-2019 seharusnya menargetkan perokok anak turun menjadi 5.4% pada 2019 (Kemenkes RI, 2018). Di Kota Makassar, tahun 2017 jumlah perokok pelajar di bawah usia 18 tahun mencapai 11,9% (Dinkes Kota Makassar, 2017) dan rata-rata anak mulai merokok usia 13 tahun dengan konsumsi rata-rata 8 batang rokok per hari dan sekitar 31% remaja di Kota Makassar berpendapat paparan media promosi rokok menjadi alasan untuk merokok (Hasanuddin Contact, 2018). Tahun 2019, ada sekitar 619 reklame produk rokok tersebar di 21 jalan protokol/nasional/provinsi di Kota Makassar (Hasanuddin Contact, 2019). Data tersebut hanya pada jalan protokol, tentu angkanya akan lebih besar jika lorong-lorong pun ditelusuri. Adapun penerimaan pajak reklame produk rokok tahun 2018 sejumlah Rp736.643.634, yaitu hanya berkontribusi sekitar 0,02% terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Makassar (Sumber data Sekunder, Dispenda Kota Makassar, 2018). Jumlah tersebut sangat kecil, maka dari itu larangan penyelenggaraan reklame produk rokok tidak akan berdampak apapun terhadap PAD Kota Makassar. Di sisi lain, larangan ini akan memberikan dampak positif terhadap status kesehatan masyarakat di Kota Makassar dan reklame produk rokok akan tergantikan dengan reklame produk lainnya.

Maka perubahan harus dilakukan bersama, bergerak bersama. Salah satu langkah yang efektif untuk mencegah anak-anak mulai merokok adalah dengan PELARANGAN REKLAME PRODUK ROKOK DI KOTA MAKASSAR. Stop iklan rokok sekarang juga dari segala promosi produk yang berbahaya bagi kesehatan. Jadikan Kota Makassar sebagai Kota Yang Layak untuk anak-anak kita. Tidak menjadikan mereka target industri rokok dan pelanggan baru setia rokok. Anak-anak di Makassar harus menjadi generasi penerus bangsa yang produktif generasi sehat tanpa rokok.

Karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat Makassar untuk menandatangani petisi STOP IKLAN ROKOK di Kota Makassar. Meminta dengan segala hormat kepada Bapak Plt. WaliKota Makassar agar secara total menerapkan STOP IKLAN ROKOK di Kota Makassar dan mengesahkan Peraturan Walikota Pelarangan Reklame Produk Rokok agar tidak memberi izin promosi produk rokok di media luar ruang dalam bentuk apapun di wilayah Kota Makassar. Semua ini bertujuan agar anak-anak tidak menjadi target industri rokok, melindungi generasi kita dari bahaya dampak rokok dan menjadi lebih sehat dalam usia produktifnya di masa depan mereka kelak. STOP IKLAN ROKOK demi masa depan Indonesia.