Selamatkan Sumber Air Kaltim!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.000.


Ancaman Benteng Air Terakhir Kaltim

Oleh: Sarah Agustio (Peneliti, Aliansi Peduli Karst Kaltim)

Karst Sangkulirang Mangkalihat merupakan benteng air terakhir yang dimiliki oleh Kaltim. Pegunungan Karst ini merupakan daerah resapan air terbesar dan ekosistem yang kaya akan biodiversity flora dan fauna, serta memiliki gua dan tebing yang khas.

Kaltim merupakan salah satu provinsi dengan hamparan batuan karbonat paling luas di Indonesia. Luasnya mencapai 4.4 juta hektare atau 79.9% dari luas seluruh batuan karbonat di Kalimantan.

Curah hujan rata-rata bulanan 170-250 mm, masuk dalam kriteria menengah dan cukup untuk terjadinya proses pelarutan karbonat secara intensif menjadi Karstifikasi. Lalu, proses itu menjadi kawasan Karst di Kaltim.

Karst Sangkulirang-Mangkalihat merupakan ekosistem Karts terluas di Kaltim. Ekosistem ini terhampar di Kabupaten Kutai Timur dan Berau. Luasnya 1.9 juta hektar. Bentang alamnya kaya akanbentukan ribuan menara (karst), ada pula gambar cadas dalam goa-goanya.

Dalam Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, banyak dijumpai gejala-gejala eksokarst dan endokarst dengan morfologi bukit-bukit kerucut, mata air karst, swallow bole, ponor, lapies, resurgence dan goa-goa yang memiliki aliran sungai bawah tanah.

Kawasan Karst ini memiliki fungsi penting bagi masyarakat yang tinggal di lingkarnya, khususnya untuk kebutuhan air bersih. Mata air keluar dari formasi batugamping. Kebanyakan bersifat perenial atau keluar sepanjang tahun dan tak pernah kering.

Kabupaten Kutai Timur merupakan kawasan ekosistem karst Sangkulirang-Mangkalihat terluas di Kaltim (1,5 juta Hektar), merupakan kabupaten dengan konsesi tambang 1.6 juta Hektare, 46% luas Kutim adalah tambang batubara, 1.4 juta izin kehutanan (IUPHHKA HA HTI), dan sawit

Kabupaten Berau memiliki luas Bentang Karst 1.2 juta hektar. Kawasan ini memiliki kondisi hutan yang masih baik, berpohon rapat Dipterocarpaceae dengan tinggi mencapai 70-85 meter. Hidup 99 jenis, 37% dari jumlah jenis yang terdapat di pulau Borneo (267 jenis) terdapat di Berau.

Di Kabupaten Berau pula terdapat wilayah peralihan ekosistem darat dan ekosistem laut. Wilayah ini dikenal dengan eksositem pesisir dengan garis pantai mencapai 320 Km. Daerah ini sangat unik dan cantik. Dengan pulau-pulau kecilnya, misal: Derawan, Maratua, Kaniungan dan banyak lagi.

Hutan dan karst merupakan satu kesatuan penting dalam menyerap karbon dan menangkap air hujan, habitat flora dan fauna endemik kalimantan.

Ekositem pesisir, hutan Dipterocarpaceae, dan ekosistem karst merupakan satu kesatuan yang saling mendukung satu sama lain. Wilayah ini kemudian membentuk ekosistem karst yang kompleks, dan tak bisa dipisahkan atau dikelompokan satu per satu.

Jika ekosistem ini terganggu, maka fungsi utama kawasan karst sebagai akuifer (penyimpan cadangan) air akan hilang dan berdmpak serius bagi kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.

Yang mengancam kerusakannya adalah industri ekstraktif batugamping sebagai bahan baku semen. Industri ini membutuhkan 1.25 ton batugamping untuk 1 ton semen.

Batugamping diperoleh dengan cara menambang, mengupas tanah, meledakan batuan, dan memecah pecahan sampai hancur. Kemudian, bahan itu dibakar dalam tanur dengan suhu 1600 derjat celcius. Untuk membakarnya, perusahaan membutuhkan batubara. Hitungannya, 1 ton semen butuh 0.15 ton batubara.

Dalam sehari opersional pabrik semen, rata-rata membutuhkan air 2000 meter kubik atau 1.9 juta liter air. Jumlah ini setara dengan kebutuhan 28 ribu orang per hari (WHO, 70 liter orang per hari). Kondisi ini memungkinkan terjadinya konflik atas penguasaan air dan krisis air.

Pengupasan lahan pada kawasan karst akan menghilangkan zona epikarst, yang merupakan zona paling banyak memiliki simpanan air. Hilangnya zona ini akan menghilangkan kemampuan batugamping sebagai akuifer air bersih.

Dalam kondisi tak terganggu, batugamping memiliki kemampuan menyerap air hujan 54 mm/jam. Jika lapisan epikarst hilang, air hujan tak terserap, dan akan meluap, berpotensi menyebabkan banjir bandang di musim hujan

Kondisi Kaltim saat ini sudah krisis ruang hidup. Untuk sekapling tanah, masyarakat harus berebut. Ujungnya, berkonflik untuk dapat ruang hidup.

Jika pabrik semen datang ke Kaltim, maka akan membawa serta tambang. Bersama dengan itu, epikarst akan dikupas, batuan akan dipecahkan, dan batubara semakin banyak digali. Daya rusak meluas, air hilang, dan banjir bandang melanda.

Kita harus menolak pabrik semen di Kaltim, melawan pembangunan serta perluasan tambang yang mengokupasi ruang dan batang tubuh Kaltim. Masyarakat sudah krisis ruang hidup. Karena itu, tak ada ruang lagi untuk pabrik dan tambang semen. (*)

 

http://kliksamarinda.com/berita-9631-ancaman-benteng-air-terakhir-kaltim.html