Tutup TPL

Tutup TPL

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.
Dengan 100 tanda tangan, petisi ini akan lebih mungkin ditampilkan di halaman rekomendasi!

Tidak bisa dipungkiri kualitas lingkungan Kawasan Danau Toba memang semakin menurun drastis sekarang. Bahkan ada yang menyamakan Danau Toba ibarat Kubangan Raksasa. Sejak ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwasata Nasional, kawasan Danau Toba diharapkan menjadi pulih dan maju seperti Monaco of Asia, Kota Berkat di atas bukit.

Danau Toba sebagai kawasan Kaldera Gunung Toba merupakan ekosistem yang rapuh yang perlu dijaga. Kerja sama dan pemahaman para pemangku kepentingan agar bertanggung jawab terhadap lingkungan mutlak diperlukan untuk mengelola dampak lingkungan dari kegiatan usaha yang dilakukan di kawasan Danau Toba.

Berdasarkan analisis awal, ada beberapa situasi lingkungan di Danau Toba dan sekitarnya saat ini tidak terkelola dengan baik dan jika dibiarkan akan terus merusak lingkungan yaitu:

Budidadaya ikan berlebihan (Keramba Jaring Apung / KJA); Kegiatan industri HTI oleh PT. Toba Pulp Lestari (TPL), Pembakaran hutan; Penebangan pohon dan kerusakan ekosistem air oleh limbah cair dan padat baik domestik dan usaha. Oleh karena itu, harus ada komitmen sejak awal sehingga dampak negatifnya tidak memburuk dan untuk meningkatkan kualitas lingkungan di Danau Toba dalam tahun ini (quick win).

Pengembangan usaha ekstraktif berbasis sumber daya alam baik kawasan hutan dan perairan Danau Toba memang dapat berdampak negatif terhadap lingkungan jika strategi pengelolaan lingkungan yang terpadu dan holistik tidak diantisipasi dan dilaksanakan seperti: Hilangnya tutupan vegetasi; Hilangnya keanekaragaman hayati; Kerusakan fisik terhadap lingkungan air lebih jauh oleh aktivitas berlebihan pengunjung dan usaha; Kontaminasi air tanah dan kerusakan pada sistem air tanah jika jamban standar lokal tetap digunakan dan air limbah tidak dikelola dengan baik; Meningkatnya sampah dari para pengunjung yang datang ke Danau Toba; Gangguan habitat satwa liar; Pantai akan mengalami abrasi jika tutupan vegetasi hilang atau proses garis pantai alami terganggu.

Sebagian besar kegiatan penghijauan dan penanaman pohon sebaiknya menggunakan tanaman asli kawasan Danau Toba termasuk pohon buah untuk menjaga karakter vegetasi pohon alami yang ada dan adaptasi terbaik terhadap iklim dan tanah. Penebangan kayu dan pembakaran hutan yang tidak terkendali dan tidak terpantau di kawasan Danau Toba oleh oknum-oknum juga dapat menyebabkan degradasi dan hilangnya tutupan vegetasi hutan.

Ekosistem hutan kawasan Danau Toba adalah habitat alami berbagai jenis satwa liar termasuk Gajah, Harimau dan Burung. Oleh karena itu, pengelolaan, perlindungan dan keamanan di kawasan ini harus merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan lingkungan secara terpadu dan holistic dalam bingkai desain besar pengembangan destinasi industri pariwisata kawasan Danau Toba Diperlukan kerja sama para pemangku kepentingan untuk menerapkan opsi sumber kayu/lokasi alternatif PT. TPL, menciptakan tata air yang lebih baik dalam kawasan, memperbaiki hutan yang rusak, meningkatkan keanekaragaman hayati kawasan dan membuka hutan bagi kegiatan eko wisata.

Maka saya mengajak bangso Batak sedunia untuk bersatu melalui Tanda Tangan Petisi ini untuk meminta kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ibu Siti Nurbaya dibawah Koordinasi Kemenko Marves Bapak Luhut Binsar Panjaitan sebagai bagian dari Kabinet rejim Presiden Joko Widodo menutup kegiatan usaha kehutanan HTI dan pabrik PT. Toba Pulp Lestari di kawasan Danau Toba segera.

Ganda Situmorang

Ketua Agraria Watch Indonesia (AWI)

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.
Dengan 100 tanda tangan, petisi ini akan lebih mungkin ditampilkan di halaman rekomendasi!