Hujan harus disimpan, dan jangan dibuang, membuang hujan perbuatan bathil.

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


1.1.       Latar Belakang

Daya rusak air akibat terjadinya banjir, kekeringan dan tanah longsor, bencana tersebut dikarenakan ada kesalahan dalam mengelola DAS, seluruh permukaan daratan di bumi Indonesia ini terbagi habis dalam DAS, DAS merupakan tempat untuk mengendalikan infiltrasi dan runoff jika turun hujan, tetapi yang terjadi selama 50 tahun ini terjadi perubahan  didalam DAS yaitu berkurangnya  luas resapan ( luas infiltrasi ) dikarenakan oleh berbagai pembangunan dan kerusakan hutan, hal ini yang mengakibatkan meningkatnya luas limpasan air permukaan ( runoff ), yang berakibat meningkat pula debit di sungai sehingga kapasitas sungai tidak mampu menampung  peningkatan debit tersebut , terjadilah genangan diluar palung sungai (Banjir). Penyebab banjir adalah alih fungsi lahan, Solusi penanganan banjir dengan konsep drainase konvensional selama ini bukan mengurangi banjir bahkan justru meningkatkan banjir itu sendiri. Konsep Menyimpan hujan dalam mengelola DAS, adalah solusi yang harus dilakukan menurut teori hidrologi karena DAS berfungsi untuk memproses infiltrasi dan runoff,

Peningkatan debit banjir tersebut dikarenakan akibat dari :

a.       Terjadi alih fungsi lahan resapan air ( infiltrasi ) untuk berbagai pembangunan , termasuk lahan hutan sehingga luas  limpasan permukaan air hujan ( runoff ) bertambah dan luas infiltrasi berkurang.

b.      Peningkatan runoff tersebut yang difasilitasi oleh Konsep Drainase Konvensional ( membuang air hujan ) ke sungai yang ber akibat peningkatan debit sungai, padahal rata rata curah hujan bulanan tetap selama ratusan tahun

 

1.2.Tujuan Penulisan

         Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1.      Mengevaluasi bencana banjir yang terjadi di Indonesia karena metode penanganan banjir pada umumnya sama untuk seluruh indonesia yaitu dengan konsep drainase konvensional.

2.      Memberikan solusi bencana banjir, kekeringan dan tanah lonsor untuk pengendalian daya rusak air , karena selama ini dengan konsep drainase konvensional justru meningkatkan terjadinya bencana banjir, kekeringan dan tanah longsor.

BAB II

METODOLOGI PENULISAN MAKALAH

 

2.1.   Data Yang Digunakan

Data hujan dikaji secara filosofi  dari hujan itu sendiri mengapa hujan itu diturunkan oleh Allah SWT, dengan   petunjuk Kitab Suci  Al’Quran kita mendapatkan maksud dan tujuan di turunkannya hujan tersebut, serta dari teori ilmiah yaitu ilmu hidrologi ,ternyata dari 2 sumber tersebut terdapat kebenaran yang sama. Mengkorelasikan antara petunjuk Alquran tentang hujan dan data hujan dari BMKG tentang Perubahan Normal Curah Hujan Tahunan 1991 - 2010 terhadap 1971-1990 di Indonesia.

 

2.2. Metodologi

       Tahapan metode pengamatan ini adalah sebagai berikut :

1.        Mengkaji  secara filosofi mengapa hujan itu terjadi dan apa tujuannya , dari petunjuk dan memahami maksud dari ayat ayat di kitab suci Al”Quran, tersebut ada  34 surat  dan 47 ayat tentang hujan.

2.        Curah Hujan yang selama ini dianggap sebagai penyebab utama bencana banjir, ternyata rata rata curah hujan bulanan  selama ratusan tahun relative sama besarnya atau tetap. Dari hasil mengkaji data curah hujan yang dimonitoring oleh BMKG di 103 stasiun curah hujan kemudian dikorelasikan dengan petunjuk dari Alquran ternyata data curah hujan tersebut tetap disetiap stasiun hujan.

 

BAB III

 HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang berfungsi sangat vital bagi kehidupan mahluk hidup yang ada di muka bumi. Untuk itu air perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi kehidupan manusia serta mahluk hidup lainnya. Pengelolaan sumber daya air yang kurang tepat merupakan salah satu faktor terjadinya ketidak seimbangan sehingga pada musim penghujan terjadi banjir dan pada musim kemarau terjadi kekeringan. Berbagai macam solusi telah dilakukan untuk mengatasi banjir di Indonesia, mengapa banjir terus terjadi, Karena selama ini yang dilakukan untuk mencegah banjir bukan penyebabnya, System Drainase Konvensional yang menyebabkan bencana banjir , kekeringan dan tanah longsor semakin meningkat, yaitu membuang air hujan secepatnya ke sungai terdekat.

 

3.1     Hasil Pengamatan dan Pembahasan

3.1.1 Hujan tetap

Selama ini hujan dianggap sebagai penyebab banjir, hal ini akan saya buktikan bahwa hujan bukan penyebab banjir, karena curah hujan rata rata bulanan di Indonesia itu tetap, data dari Perubahan normal curah hujan memuat informasi perubahan/ deviasi terhadap normal curah hujan 30 tahun di Indonesia. Data yang digunakan adalah data curah hujan rata-rata bulanan dari periode tahun 1980-2010. BMKG (http://www.bmkg.go.id/iklim/perubahan-normal-curah-hujan.bmkg

Kalau curah hujan rata rata bulanan tetap, mengapa bencana banjir meningkat setiap tahun dari Tahun 2002 terjadi 143 bencana banjir dan meningkat menjadi 2342  kejadian banjir di Tahun 2016) (https://kabar24.bisnis.com/read/20161229/15/615750/bnpb-catat-2.342-bencana-alam-sepanjang-tahun-ini-tertinggi-sejak-2002 ). dari data ini bahwa hujan sebagai penyebab banjir tidak terbukti karena hujannya tetap.

Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 trilyun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun. Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut "ukuran atau kadar" tertentu. penelitian Harun Yahya (http://id.harun-yahya.net/id/Keajaiban-Al-Quran/102206/kadar-hujan

Berdasarkan Alqur’an hujan itu juga tetap, berikut FirmanNYA : Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf, (43):11), berikut hadist Nabi :

Curah hujan pada suatu tahun kadarnya tidak kurang dari jumlah curah hujan yang turun di tahun lainnya,” HR Baihaqi.

3.1.2 Distribusi hujan secara ilmiah dan Alqur’an ( Kauniyah dan Qauliyah )

1. Berdasarkan Ilmiah atau ayat kauniyah, neraca keseimbangan air yang turun ke bumi dan distribusinya secara alamiah, dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :             Q total = Q runoff + Q infiltrasi + Q evapotranspirasi                                                      Dimana Q total = jumlah total air hujan yang turun per satuan waktu.                                  Q runoff = jumlah air hujan yang mengalir ke tempat yang lebih rendah sebagai limpasan air permukaan ( surface runoff ).                                                                                             Q infiltrasi = jumlah air hujan yang meresap ke dalam lapisan tanah  yang sangat bergantung pada jenis tanah dari lapisan tanah pada kedalaman 1-3 meter di bawah permukaan tanah.Jika terjadi hujan yang dapat dikelola hanya Q ruoff dan Q infiltrasi di dalam DAS,sedangkan seluruh permukaan bumi di indonesia adalah DAS.

2. Berdasarkan Alqur’an atau Ayat Qouliyah,

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan  770 .  770 . Allah mengumpamakan yang benar dan yang bathil dengan air dan buih atau dengan logam yang mencair dan buihnya. Yang benar sama dengan air atau logam murni yang bathil sama dengan buih air atau tahi logam yang akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia.  (QS Ar Ra’d : 17)

Dari ayat Qouliyah yang benar adalah air hujan yang tetap dibumi yang memberi manfaat kepada manusia hal ini sama dengan Infiltasi.Dan Yang bathil sama dengan buih air akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya.hal ini sama dengan runoff yang terbuang kesungai

Dari ayat Kauniyah ada 2 parameter yaitu infiltrasi dan runoff, selama ini runoff selalu dibuang dengan konsep Drainase Konvensionalnya, hal ini menurut Alqur’an perbuatan bathil.

3.1.3 Pembuktian hujan harus disimpan jangan dibuang

Allah menggunakan dua sandi besar dalam menunjukan kekuasaanNya. Kedua sandi tersebut adalah sandi qauliyah dan sandi kauniyah. Sandi qouliyah dapat dilihat dengan mempelajari Al Qur’an, sedangkan sandi kauniyah dipelajari dengan mencermati setiap fenomena yang ada di sekitar kita, baik peristiwa alam maupun kejadian sosial. Karena kedua sandi tersebut berakar pada suatu zat yang sama, yakni Allah Swt, maka di antara keduanya tidak boleh ada yang saling bertentangan. Jika ditemukan adanya pertentangan antara Qur’an (sebagai ayat qouliyah) dan peristiwa alam (sebagai ayat qouniyah), pasti salah satunya ada yang salah.

1.      Pembuktian ayat Qoauliyah dengan Ayat Kauniyah yang sinkron sebagai berikut :

Ayat Qouliyah :Sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (ni'mat). ( QS. Al Furgaan : 50 )

Ayat Kauniyah :Faktanya turun hujan dipergilirkan,musim hujan,musim kemarau,gilir lokasi turunnya, gilir waktu turunnya siang dan malam,gilir volume curah hujannya.

Dari sinkronisai antara ayat Qouliyah dan Kauniyah terbukti sinkron tidak bertentangan dalam hal ini berarti benar. 

2.      Pembuktian ayat Qoauliyah dengan Ayat Kauniyah yang tidak sinkron sebagai berikut : surat Ar Ra’d ayat 17 Dari Penjelasannya sudah sangat jelas sekali bahwa yang benar adalah AIR yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia ( Air ) tetap di bumi. Ini adalah infiltrasi.

Yang bathil sama dengan BUIH AIR, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya.ini adalah runoff atau terbuang ( hilang )

Ayat Kauniyah : Fakta dan kenyataan yang dilakukan selama ini dengan konsep drainase konvensional hujan selalu dibuang, menurut petunjuk alqur’an membuang hujan perbuatan bathil.

Dari sinkronisai antara ayat Qouliyah dan Kauniyah terbukti tidak sinkron ada pertentangan yaitu menurut petunjuk Alqur’an hujan harus tetap dibumi artinya harus di infiltrasi atau disimpan, tetapi fakta dan kenyataan yang dilakukan selama ini hujan selalu dibuang selama puluhan tahun di Indonesia.

 

3.1.4   Pembuktian membuang hujan berakibat banjir

Berdasarkan ayat qouliyah : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". ( QS. Ibrahim : 7 )

Berdasarkan ayat kauniyah : Fakta dan kenyataan yang dilakukan di RW kampung glintung malang oleh bapak rw Ir Bambang irianto yang sebelumnya di kampung tersebut langganan banjir setiap tahunnya, tetapi setelah membuat sumur injeksi di jalan, terjadi perubahan yang sangat drastis banjirpun hilang bahkan mendapat nikmat, itulah jika kita melakukan petunjuk Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 7. ( vidio kampung glintung :

https://www.youtube.com/watch?reload=9&v=u9vTHT2tP7U ).

Selama ini dalam mencegah banjir kita selalu membuang hujan, faktanya banjir bukan berkurang tetapi semakin meningkat padahal curah hujannya tetap hal ini sudah saya terangkan di BAB III.

Membuang hujan berakibat banjir telah disadari oleh Pemerintah melalui pembuatan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Pepublik Indonesia  nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan dalam lampiran 1 halaman 3 menyatakan reformasi drainase yang diperlukan adalah membalikkan pola pikir masyarakat dan pengambil keputusan serta akademisi, bahwa apa yang dilakukan masyarakat, pemerintah termasuk para akademisi yang mengembangkan drainase pengatusan, justru sebenarnya bersifat destruktif, yaitu: meningkatkan banjir di hilir, kekeringan di hulu dan tengah dan penurunan muka air tanah serta dampak ikutan lainnya. Hal ini pada akhirnya justru akan meningkatkan perubahan iklim global.( terbukti bersifat destruktif : yaitu merusak; memusnahkan; menghancurkan. ) hal ini sesuai dengan surat Ibrahim ayat 7, dan jika mengingkari ( ni’matku ) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.( bencana banjir dll )

BAB IV  KESIMPULAN DAN SARAN

4.1   KESIMPULAN

Solusi pengendalian daya rusak air adalah mencegah terjadinya banjir, maka   supaya  tidak terjadi banjir, yang harus dilakukan adalah menyimpan air hujan seperti yang telah dilakukan di kampung glintung malang, ini adalah bukti dan nyata dari implementasi surat Ar Ra’d ayat 17 dan surat Ibrahim ayat 7 serta melaksanakan Permen PU no. 12/PRT/M/2014, Menyimpan air hujan tersebut adalah sesuai dengan ayat qouliyah dan ayat kauniyah, hal ini terjadi sinkronisasi, berarti BENAR.

4.2   SARAN 

Pemerintah  Daerah baik Provinsi dan Kabupaten/ Kota wajib melakukan pengelolaan air hujan berdasarkan Permen PU no. 12/PRT/M/2014 tersebut dengan surat instruksi Presiden, karena selama 5 tahun terakhir ini Pemerintah Pusat sudah melakukan sesuai Permen PU no. 12/PRT/M/2014 dan sesuai dengan kewenangannya, yaitu membangun 65 waduk dan ribuan kolam tandon,tetapi hal ini tidak diikuti oleh daerah padahal daerah sangat besar andilnya dalam menciptakan bencana banjir tersebut sebab perijinan tentang pemanfaatan lahan berada dalam kewenangannya.