Berlakukan Sistem Tiket Online Kapal Tujuan Pulau Bawean

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Pulau Bawean, sebuah pulau kecil di Laut Jawa, dengan jarak 120 kilometer dari kota Gresik. Pulau ini terdiri atas dua kecamatan, yaitu Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak. Penduduknya berjumlah sekitar 107.000 jiwa dengan mayoritas suku Bawean serta perpaduan beberapa suku dari Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera yang turut mempengaruhi budaya dan bahasanya. 

Masyarakat Bawean dikenal sebagai perantau ulung. Mereka bukan hanya merantau di wilayah Indonesia, tapi sampai ke negara lain. Salah satu contohnya, pada tahun 1849 jumlah orang Bawean di Singapura berjumlah 763 dan jumlahnya terus bertambah pada tahun 1957 sebanyak 22.167

Saat ini mobilitas masyarakat Bawean sangat tinggi. Banyak masyarakat Bawean yang melakukan berjalanan bisnis di Pulau Jawa, para anak muda yang menempuh pendidikan di luar Pulau Bawean, baik di sekolah umum, pondok pesantren dan perguruan tunggi, juga mereka yang bekerja di luar Pulau Bawean. 

Akhir-akhir ini Pulau Bawean mulai dikenal sebagai pulau tujuan wisata, yang mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal dan wisatawan asing. Saat ini bukan hanya wisatawan yang ingin berkunjung, tapi juga orang-orang Bawean dan keturunan Bawean yang sudah lama tidak pulang kampung. Mereka ingin melihat perubahan apa saja yang sudah terjadi di Bawean, dan keindahan destinasi wisatanya yang selama ini hanya mereka lihat di stasiun TV dan media sosial. Kepopuleran Bawean sebagai destines wisata menjadikan mereka bangga menjadi orang Bawean dan keturunan Bawean. Rasa bangga itu lah yang akhirnya mendorong mereka untuk pulang, melihat kampung halamannya. 

Akses ke Pulau Bawean bisa lewat jalur laut dan udara. Untuk jalur laut bisa ditempuh dengan kapal cepat dengan waktu tempuh 3-4 jam dari pelabuhan Gresik, sedangkan kapal roro kurang lebih 8 jam dari pelabuhan Gresik dan Paciran, Lamongan. Saat ini ada dua kapal cepat dan satu kapal roro yang melayani rute ke Pulau Bawean. Masing-masing kapal laut tersebut berkapasitas 260-360 penumpang. Untuk jalur udara, saat ini ada pesawat perintis dengan jumlah penumpang 12 orang yang melayani penerbangan dari Surabaya ke Pulau Bawean dan sebaliknya. Kalau dilihat dari kapasitas penumpangnya, transportasi laut merupakan ujung tombak kemajuan Pulau Bawean. 

Yang jadi permasalahan masyarakat Bawean dan calon wisatawan adalah susahnya mendapatkan tiket kapal laut ke Pulau Bawean. Sampai saat ini semua tiket dijual secara konvensional. Dimana calon penumpang harus datang langsung ke kantor operator kapal yaitu di Kota Gresik dan Pulau Bawean. Operator kapal juga membagikan tiketnya ke pihak kedua, yaitu agen dan personal. Pihak agen juga tidak punya kejelasan mekanisme penjualan tiketnya. Apalagi personal-personal yang mendapatkan jatah tiket dari pihak operator kapal. 

Sistem ticketing ini sangat mempersulit warga Bawean dan calon wisatawan untuk mendapatkan tiket kapal ke Pulau Bawean, juga dari Bawean ke Gresik. Calon penumpang yang tidak berdomisili di Gresik. Mereka harus datang langsung ke kantor operator kapal dan kantor agen yang tidak jelas lokasinya. Sistem ticketing ini membuang waktu dan ongkos. Bagi mereka yang tidak bisa datang langsung akan minta bantuan orang lain yang berdomisili di Gresik. Disinilah akar permasalahannya. Ketika calon penumpang meminta bantuan orang lain untuk membeli tiket, ada ongkos yang harus mereka bayar dari jasa ini, yang jumlah nominalnya tidak jelas. Kondisi ini sudah berjalan belasan tahun.

Pada musim mudik lebaran dan peak season, ini lah hari-hari dimana masyarakat Bawean harus berjuang untuk mendapatkan tiket kapal. Seperti musim lebaran tahun ini. Mereka rela antri tiket kapal berjam-jam, dimana tidak ada kepastian juga apa mereka akan mendapatkan selembar tiket untuk mudik dan berlebaran dengan keluarganya di Bawean. Mereka yang kesulitan mendapatkan tiket akan memilih cara lain, yaitu membeli tiket pada pihak ketiga, yang biasa disebut “calo”. Harga yang ditawarkan calo bisa mencapai Rp.300.00 sampai Rp.500.000 dari harga normal, yaitu Rp.170.000 untuk kelas VIP dan Rp.150.000 untuk kelas eksekutif.

Tidak ada pilihan lain bagi calon penumpang, mereka akan membeli berapapun harga yang ditawarkan oleh calo asal mereka bisa segera mudik dan berkumpul dengan keluarga. Bagi mereka yang belum mendapatkan tiket, mereka akan bertahan di Gresik. Ada ongkos lagi yang harus mereka bayar dari buruknya sistem ticketing ini, yaitu mereka harus mengeluarkan uang untuk menyewa penginapan di Gresik dan biaya makan. Ketika calon pemudik berhitung jumlah uang yang harus mereka keluarkan lagi ketika memilih bertahan di Gresik, maka pilihan mereka akan membeli berapapun harga tiket yang ditawarkan oleh calo. 

Pada tanggal 31 Mei 2019, pemerintah Kabupaten Gresik mengeluarkan ijin untuk kapal baru Blue Sea Jet 1. Harapannya penambahan armada ini bisa memberikan alternatif kepada salon menumpang untuk memilih armada yang diinginkan dan mengurai sistem ticketing yang buruk selama ini. 

Persoalannya, buruknya pelayanan transportasi laut lintas Gresik-Bawean bukan karena jumlah armada tapi karena kualitas managemen sistem ticketingnya! 

Sistem ticketing yang buruk ini harus segera dirubah. Tidak begitu susah untuk merubahnya karena saat ini kemajuan teknologi sudah canggih. Solusinya cuma satu, yaitu segera migrasi dari sistem ticketing konvensional ke sistem online! 

Dua tahun yang lalu, saya pribadi pernah mengajukan sistem tiket online ini pada salah satu operator kapal yang melayani rute Gresik - Bawean. Karena sebagai puteri daerah, hati saya seperti teriris ketika melihat saudara-saudara saya orang Bawean yang harus antri tiket kapal dan membeli tiket kapal dengan harga tinggi. Tapi proposal saya ditolak dengan alasan pihak managemen perusahaan kapal tersebut sudah menyiapkan juga sistem online sepeti yang saya tawarkan dan akan segera diterapkan. Proposal saya ditolak, tapi saat itu saya senang karena saya pikir pihak managemen kapal tersebut serius akan segera migrasi ke sistem online dan masyarakat Bawean tidak akan mengantri tiket dan membelinya dicalo. Faktanya, sampai saat  ini semua operator kapal masih menggunakan sistem konvensional, yaitu sistem yang tidak populis di era kemajuan teknologi yang pesat ini. 

Pertanyaannya; kenapa operator kapal begitu malas untuk menggunakan sistem tiket online? 

Apa karena biaya sistem online yang mereka pikir terlalu mahal? Tidak! Mereka perusahaan besar harusnya cukup mampu. Lagi pula tidak harus menggunakan sistem online secanggih perusahaan tiket online yang ada, operator kapal bisa memilih sistem online yang lebih sederhana dengen biaya yang sangat murah, atau mungkin mereka bisa bekerjasa dengan pihak kedua seperti tiket.com, traveloka  dan easybook untuk membantu menjual tiketnya. 

Kondisi ini sudah menjadi konsumsi publik, karena banyak media televisi, media cetak dan media online yang selalu memberitakan perjuangan masyarakat Bawean untuk mendapatkan tiket kapal untuk bisa mudik dan berlebaran di Bawean. Bisa dipastikan pemerintah Kabupaten Gresik, Dinas Perhubungan Privinsi Jawa Timur dan Dinas Perhubungan Gresik mengetahui kondisi ini. Bisa jadi juga mereka lebih tahu dari saya tentang solusi dari permasalahan ini. Tapi mereka tidak progresif untuk segera mengambil tindakan. Padahal mereka yang bisa menginstruksikan penggunaan  tiket sistem online kepada semua operator kapal. Saya yakin, ketika para pengambil keputusan mengeluarkan instruksi, maka operator kapal akan patuh. Kalau tidak mau patuh juga, pihak berwenang bisa mengambil tindakan tegas, meminta mereka angkat kaki melayani rute Gresik Bawean dan Bawean-Gresik.

Lewat petisi ini saya mengajak semua masyarakat Bawean, baik yang tinggal di Bawean dan yang merantau jauh dari Bawean, semua keturunan Bawean yang tinggal di Singapore, Malaysia dan Australia, juga saudara-saudara saya di seluruh Indonesia untuk membantu menandatangani petisi ini, supaya Pemerintah Kabupaten Gresik, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik segera mengeluarkan instruksi penggunaan sistem tiket online kepada semua operator kapal yang beroprasi diperlintasan Gresik-Bawean. 

"Tunduk Tertindas atau Bangkit Melawan, Sebab Mundur Adalah Penghianatan. Berjuang Bersama Rakyat Merebut Demokrasi Sejati!"

Penggagas Petisi:

Nama: Musyayana

Email: yana@baweantourism.com

Puteri daerah asli Bawean dan merupakan owner Bawean Tourism