Bersihkan IJTI dari Oknum Jahat

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Dua Petinggi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) melakukan hal jahat atas kemanusian wartawan korban Gempa Palu.

Surat yang ditujukan kepada perusahaan-perusahaan untuk dana sponsor acara kegiatan penghargaan jurnalistik Televisi oleh teman-teman wartawan di Makasar dihadang oleh petinggi IJTI an Yadi Hendriana, bahkan adanya surat pemberitahuan ke Mabes Polri terkait hal kegiatan penghargaan itu.

Kronologis:

Teman-Teman, inilah yang terjadi pada usaha memberi penghargaan kepada lima teman kita, Jurnalis Heroik dari Palu. Mereka adalah korban gempa dan tsunami yang di Sulawesi Tengah.

Anno dan Hasrul membentuk panitia dan terjadi diskusi dengan saya mau pakai nama apa. Saya ingin nama IJTI digunakan, mereka ingin tanpa nama organisasi mana pun. Akhirnya, saya setuju. Benar juga. Mereka yang susah payah, orang lain yang dapat nama. Itu jelas tidak adil.

Di Jakarta, saya hubungi beberapa teman, di antaranya seorang sahabat yang ikut menjadi inisiator pembentukan IJTI pada tahun 1998 lalu. Dia merasa terpanggil dan langsung bicara dengan beberapa calon sponsor potensial.

Pada waktu yang sama, Bang Syaifurrahman dan Hendrata yang mengikuti pembicaraan di group WA Prinsip IJTI, japri menyatakan dukungan penuh dan siap membantu apa saja yang diperlukan. Saya persilakan koordinasi langsung dengan Makassar.

 

Hari itu, Jumat, 2 November 2018, H-8.

Esoknya, Sabtu pagi, saya dapat kabar bahwa sponsor mendapat surat yang ditandatangani dua orang pengurus pusat IJTI. Ringkasnya, surat itu mengklarifikasi “penganugerahan jurnalis TV 2018 di Sulawesi Selatan, IJTI tidak pernah menggelar acara tersebut. Klarifikasi dibuat karena ada pencantuman logo IJTI”.

Saya tahu, ini akan membuat pengambil keputusan di perusahaan berfikir ulang. Normal.

Pagi itu juga, Jakarta-Makassar berkoordinasi. Dalam beberapa menit, kita tahu siapa titik persoalan di tengah kisaran ini. Langsung saya kontak dan mencoba memberi penjelasan bahwa ia sudah keliru memberi informasi ke perusahaan. Acara ini tidak berhubungan dengan IJTI dan tak ada logo IJTI yang digunakan di semua surat dan publikasi.

Setelah panjang lebar menjelaskan bahwa ini adalah usaha teman-teman memberi apresiasi kepada lima jurnalis yang demikian berdedikasi dalam pekerjaan dan kemanusiaan, yang juga sedang menderita karena terdampak gempa, saya mohon dibantu. Jangan dihambat.

Dia justru menawarkan bekerjasama dengan pengurus pusat IJTI dan datang bersama2 ke perusahaan untuk menjelaskan. Saya mulai mengerti...

Tak ada gunanya lagi. Saya sampaikan kalimat terakhir.

“Baik, makasih. Intinya, kita nggak mau pakai nama organisasi mana pun, termasuk IJTI.”

Move on.

Belakangan, saya dapat kiriman gambar, orang ini makan2 dengan orang-orang yang tercatat sebagai pengurus pusat IJTI. Mereka terlihat tertawa bersama.

Tidak mengagetkan. Itu bukan lagi masalah kita, itu masalah mereka. Kita harus terus maju, sudah H-7.

Saya belum menceritakan seluruh bagian ini kepada Anno dan Hasrul. Tak ingin membebani pikiran mereka yang sedang bekerja untuk mewujudkan rencana kita. Hanya saya ceritakan singkat saja: dana batal, ada surat dari IJTI, bagaimana baiknya?

“Kita lanjut! Biar pun sederhana. Tidak masalah,” kata mereka. Selebihnya tertawa-tawa saja. Lega juga saya. Hebat Teman-Teman ini.

Surat yang sama, ternyata, juga dikirim dua orang pengurus IJTI itu ke Kadiv Humas Mabes Polri.

Ada yang tau apa maksudnya?

Tapi, sekali lagi, itu bukan masalah kita. Tujuan kita memberi penghargaan kepada lima jurnalis.

Saya senang dengan semangat Anno dan Hasrul, tapi tentu teman-teman yang berlima itu akan makin senang bila nanti pulang ke Palu membawa buah tangan untuk keluarga. Sekedar hiburan dalam duka mereka.

Minggu pagi, H-6. Kami sudah terlanjur menarik semua proses permintaan sponsor ke perusahaan lain, tak elok mengubah pendirian. Apa kata dunia? Hahaha.

Orang-orang yang mempunyai harga diri akan bekerja dengan prinsip yang jelas. Mampu membedakan halal dan haram, hak dan batil. Begitu kata Pak Ustadz.

Orang Betawi bilang, “Kalau rejeki nggak akan ke mane...”

Minggu petang, kita bicara dengan teman di Singapura dari .... Pembicaraan biasa saja. Saya tanya kemungkinan membantu. Pembicaraan pun berakhir dengan biasa.

Senin pagi, H-5, ...... mengabarkan akan bersama kita.

Alhamdulillah, rejeki kita semua.

Selanjutnya, semua seperti dimudahkan. Masalah administrasi berjalan sangat lancar dan cepat.

Selasa siang, H-4, kita sudah punya dana lebih dari cukup untuk menyelenggarakan acara dan membuat kita semua tersenyum.

Atas Hal tersebut kita minta kepada Dewan Pers, menteri Kominfo serta Presiden bisa mengambil sikap atas oknum-oknum IJTI.

 



Hari ini: Gunawan mengandalkanmu

Gunawan Abdillah membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Dewan Pers: Bersihkan IJTI dari Oknum Jahat". Bergabunglah dengan Gunawan dan 76 pendukung lainnya hari ini.