Kemenangan

PRESENSI KEHADIRAN KULIAH 75% TAK SESUAI DENGAN KEHIDUPAN MAHASISWA

Petisi ini membuat perubahan dengan 64 pendukung!


KITA tahu, mahasiswa bukan siswa tetapi Maha. Kemahaan itu yang membuat dia mesti berbeda. Berbeda cara berfikir dan bersikap. Tentu peraturan kuliah yang diberlakukan pada mahasiswa pun harus berbeda. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Mahasiswa masih diperlakukan seperti pada saat masih menyandang predikat siswa. Setiap dosen masuk dan keluar kelas mahasiswa selalu dipantau lewat buku presensi. Tiga kali lebih tidak masuk kuliah, mahasiswa didiskualifikasi alias tidak boleh mengikuti mids atau ujian akhir semester. Dan dia harus mengulang semester depan.

Mahasiswa tak leluasa bergerak. Belajar di universitas kehidupan yang ilmunya jauh lebih luas dan dalam terbatasi oleh ketatnya peraturan kuliah. Mahasiswa dijejali tugas kuliah secara beruntun. Seakan kampus tidak percaya kepada mahasiswa. Seolah mahasiswa sangat malas dan harus dipecut dengan rentetan peraturan. Seakan mahasiswa seperti anak kecil yang harus didikte dalam menentukan kecenderungannya.

Pertanyaannya adalah apakah perlakuan mekanistik itu dapat memacu mahasiswa berprestasi gemilang dan menjadi garda terdepan? Saya percaya bahwa tak semua mahasiswa memiliki kesadaran idealisme, disiplin, tanggung jawab, dan jiwa yang tangguh. Mungkin pemberlakuan ketatnya peraturan kuliah sangat bermanfaat untuk memacu mahasiswa untuk sungguh-sungguh dalam belajar. Partisipasi di dalam kelas 75 persen dan mengerjakan tugas-tugas kuliah supaya mahasiswa dapat fokus mengkaji keilmuannya sesuai jurusan masing-masing.

Meski demikian, bukan berarti mahasiswa tak boleh mencicipi keilmuan yang lain. Selain mengetahui sedikit ilmu tentang banyak hal (keilmuan sesuai jurusan), mahasiswa juga perlu mengetahui banyak ilmu tentang sedikit hal bahkan kalau mampu tahu banyak ilmu tentang banyak hal. Tujuannya supaya ketika mahasiswa melihat masalah tidak seperti kaca mata kuda, merasa benar sendiri sementara pendapat orang lain salah.

Syarat 75% untuk mengikuti UAS dirasa melanggar hak mahasiswa untuk dapat mengikuti ujian akhir semester dan terkesan mengabaikan fungsi mahasiswa. Peranan mahasiswa tidak sebatas kegiatan akademik namun sebagai Agent of Change di masyarakat.

Penulis dari Petisi ini sadar bahwa kritik saja tidak akan membawa dampak perubahan yang signifikan dalam kehidupan mahasiswa, maka Penulis menawarkan saran yang mungkin dapat menjadi pertimbangan Pimpinan Fakultas untuk dapat memberikan solusi terhadap kami pada mahasiswa didik Fakultas Hukum, Universitas Kristen Indonesia untuk dapat memperoleh nilai dari hasil Ujian Akhir Semester kami yang sebagaimana merupakan hak yang patut kami peroleh, kemudian Penulis menyarankan agar Presensi Kehadiran Kuliah 75 % dimasukkan sebagai komponen penilaian bukan sebagai syarat untuk memperoleh nilai perkuliahan selama satu semester



Hari ini: Afif mengandalkanmu

Afif Lingga membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Dekan Fakultas Hukum UKI: PRESENSI KEHADIRAN KULIAH 75% TAK SESUAI DENGAN KEHIDUPAN MAHASISWA". Bergabunglah dengan Afif dan 63 pendukung lainnya hari ini.