Petition Closed
Petitioning Cosmopolitan Indonesia Cosmopolitan Indonesia

Cosmopolitan, stop homofobia!!!


Sebagai media, Cosmopolitan Indonesia harus berhenti menyampaikan pesan diskriminatif terhadap kelompok LGBT (Lesbian Gay Bisexual dan Transgender)

Lebaran tahun kemarin saya membaca Cosmopolitan Indonesia dan terkejut menemukan bahwa di salah satu artikelnya (berjudul Sexy of Skanky), Cosmopolitan Indonesia melabel ciuman antara pasangan lesbian sebagai "skanky" dan ciuman antara pasangan lawan jenis sebagai "sexy".

Tahun ini, edisi Januari 2014, saya menemukan pesan serupa di artikel "Fun, Fearless or Fail". Lagi-lagi Cosmopolitan Indonesia melabel ciuman antara pasangan lawan jenis sebagai "Fun", ciuman massal dari seorang artis kepada tentara Amerika sebagai "Fearless" dan ciuman antara pasangan sesama jenis sebagai "Fail" dan bahkan menulis "Bermesraan dengan teman pria di muka umum, yuck".

Pesan-pesan yang menyatakan hubungan sesama jenis sebagai hubungan yang lebih rendah dari hubungan antara lawan jenis, bahkan menyatakan ciuman antara pasangan gay sebagai hal yang menjijikan, adalah pesan yang mendorong diskriminasi. 

Saat ini kaum LGBT di Indonesia sudah merupakan kaum minoritas yang kerap mengalami diskriminasi. Komnas Perempuan Indoensia mencatat bahwa kaum LGBT di Indonesia rentan terhadap diskriminasi termasuk di dalam hal pekerjaan dan keadilan, dan juga rentan terhadap kekerasan baik secara seksual, fisik (termasuk diludahi dan dipukuli) maupun emosional.

Pesan-pesan diskriminatif yang didorong oleh Cosmopolitan Indonesia dapat menormalisasi stereotipe negatif terhadap kaum LGBT dan bahkan menjadi akar penyebab memburuknya diskriminasi dan kekerasan terhadap mereka.

Media seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk tidak mendorong pesan-pesan diskriminatif.

Oleh karena itu, sebagai orang yang mengaggap bahwa semua manusia, terlepas dari orientasi seksualnya, adalah makhluk yang memiliki harkat dan martabat yang sama, saya meminta Cosmopolitan Indoensia meminta maaf kepada kaum LGBT dan lebih berhati-hati dalam proses editing di kemudian hari untuk tidak menampilkan pesan-pesan diskriminatif.

Dengan mendukung petisi ini, kita, sebagai konsumen yang bertanggung jawab,  dapat menyampaikan pesan kepada redaksi Cosmopolitan Indonesia sebagai media, untuk juga lebih bertanggung jawab dalam perannya mendidik masyarakat (atau setidaknya menghibur dengan bertanggung jawab).

 

 

Letter to
Cosmopolitan Indonesia Cosmopolitan Indonesia
Kepada Yth Pemimpin Redaksi Cosmopolitan Indonesia
Di tempat

Sebagai media, Cosmopolitan Indonesia harus berhenti menyampaikan pesan diskriminatif terhadap kelompok LGBT (Lesbian Gay Bisexual dan Transgender)

Lebaran tahun kemarin saya membaca Cosmopolitan Indonesia dan terkejut menemukan bahwa di salah satu artikelnya (berjudul Sexy of Skanky), Cosmopolitan Indonesia melabel ciuman antara pasangan lesbian sebagai "skanky" dan ciuman antara pasangan lawan jenis sebagai "sexy".

Tahun ini, edisi Januari 2014, saya menemukan pesan serupa di artikel "Fun, Fearless or Fail". Lagi-lagi Cosmopolitan Indonesia melabel ciuman antara pasangan lawan jenis sebagai "Fun", ciuman massal dari seorang artis kepada tentara Amerika sebagai "Fearless" dan ciuman antara pasangan sesama jenis sebagai "Fail" dan bahkan menulis "Bermesraan dengan teman pria di muka umum, yuck".

Pesan-pesan yang menyatakan hubungan sesama jenis sebagai hubungan yang lebih rendah dari hubungan antara lawan jenis, bahkan menyatakan ciuman antara pasangan gay sebagai hal yang menjijikan, adalah pesan yang mendorong diskriminasi.

Saat ini kaum LGBT di Indonesia sudah merupakan kaum minoritas yang kerap mengalami diskriminasi. Komnas Perempuan Indoensia mencatat bahwa kaum LGBT di Indonesia rentan terhadap diskriminasi termasuk di dalam hal pekerjaan dan keadilan, dan juga rentan terhadap kekerasan baik secara seksual, fisik (termasuk diludahi dan dipukuli) maupun emosional.

Pesan-pesan diskriminatif yang didorong oleh Cosmopolitan Indonesia dapat menormalisasi stereotipe negatif terhadap kaum LGBT dan bahkan menjadi akar penyebab memburuknya diskriminasi dan kekerasan terhadap mereka.

Media seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk tidak mendorong pesan-pesan diskriminatif.

Oleh karena itu, sebagai orang yang mengaggap bahwa semua manusia, terlepas dari orientasi seksualnya, adalah makhluk yang memiliki harkat dan martabat yang sama, saya meminta Cosmopolitan Indonesia meminta maaf kepada kaum LGBT dan lebih berhati-hati dalam proses editing di kemudian hari untuk tidak menampilkan pesan-pesan diskriminatif.