5 Solusi Selamatkan Generasi Muda dari Radikalisme

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Radikalisme kembali merenggut nyawa masyarakat Indonesia. Sebelum melanjutkan, apakah radikalisme itu? Menurut para ahli, radikalisasi berasal dari kata radikal yang berarti sikap yang mendorong perilaku individu untuk membela secara mati-matian mengenai suatu kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dianutnya (Wirawan). Sayangnya, sikap ini kadang disalahgunakan. 

Radikalisme sudah mulai muncul di Indonesia sejak zaman dahulu yang contohnya ditandai dengan adanya gerakan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka). Saat ini, kelompok radikal sudah mulai bermunculan kembali, contohnya mulai dari aksi teror di Mako Brimob hingga ledakan bom pada 3 gereja berbeda di Surabaya (2018). Kedua peristiwa ini tentu mengancam keamanan negara serta mempengaruhi masa depan bangsa. Tidak seperti zaman dahulu, hebatnya, kali ini para penganut radikal tidak lagi menggunakan cara kekerasan untuk mendapatkan perhatian, melainkan dengan cara yang lebih tenang dan damai yaitu memanfaatkan keberadaan media online demi mempengaruhi orang lain untuk masuk ke dalam kelompok mereka. "Sosial sudah sangat aktif dan luas sehingga seperti tidak ada saringan untuk mendapatkan informasi, seakan pancasila terkubur seperti di tahun 1998," kata juru bicara BIN, bapak Wawan Hari Purwanto (sumber: Metro TV). Ternyata, media komunikasi merupakan cara yang sangat krusial dalam penyebarluasan radikalisme di Indonesia. Apalagi generasi muda zaman sekarang, semua informasi didapatkan dengan sangat mudah melalui media online. Maka, tidak heran jika sudah banyak generasi muda Indonesia yang memiliki panutan tinggi terhadap gerakan radikalisme.

 Berdasarkan riset terdapat 39% mahasiswa terpapar radikalisme serta 24% mengaku setuju dengan melakukan jihad demi menegakkan negara Islam. Tidak hanya mahasiswa, bahkan terdapat 23,3% pelajar SMA setuju dengan jihad tegaknya negara Islam (data: BIN-Metro TV 28/04/18). Sampel riset tersebut dilakukan di beberapa wilayah tertentu di Indonesia, antara lain Jawa, Sumatera, Sulawesi, serta Kalimantan. Alasan dari pemilihan daerah tersebut karena pada daerah-daerah tersebutlah merupakan lokasi dimana agama Islam menyebar dengan cepat. Beberapa persentase tersebutlah yang tentu menjadi bukti dari maraknya gerakan radikalisme yang mulai mempengaruhi generasi muda di Indonesia. 

Salah satu solusi yang dapat dilakukan guna mencegah adanya radikalisasi ialah dengan melakukan "Deradikalisasi", yang berarti upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi atau menurunkan jumlah paham radikal (Samudra). Pemerintah pun membuat sebuah lembaga yang bertanggung jawab untuk melakukan hal tersebut, yaitu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sampai saat ini, usaha yang telah dilakukan BNPT dalam hal deradikalisasi salah satunya ialah membangun pusat pelatihan anti terorisme di Sentul, Jawa Barat. Fasilitas ini dibangun untuk mengasingkan para narapidana terorisme untuk diberi pembinaan atau sebagai rehabilitasi. Namun sayangnya solusi ini masih kurang kondusif dikarenakan jumlah narapidana yang berlebih sedangkan jumlah SDM (orang yang menangani) masih sangat minim. Solusi yang kedua BNPT juga pernah memberikan anggaran dana untuk para narapidana teroris setelah keluar dari penjara agar mereka mendapatkan pekerjaan yang positif, Namun sayangnya usaha tersebut juga kurang efektif karena minimnya pendidikan atau pelatihan bagi para narapidana teroris untuk menjalankan suatu usaha. Hal inilah yang menimbulkan kurangnya keefektifan solusi deradikalisasi dari pemerintah.

Sebenarnya, radikalisasi itu berawal dari sebuah pola pikir yang salah. Dimana sebuah pemikiran yang bertolak belakang dengan pancasila negara, maka dari itu orang yang radikal pasti ingin melakukan pemisahan diri dari negara, karena ideologinya yang tidak sesuai. Maka dari itu sangat penting sebenarnya untuk menanamkan ideologi negara kita kepada para generasi muda. Tidak hanya itu, berikut adalah solusi yang dapat dilakukan untuk deradikalisasi:

1. Pemerintah Harus Menjamin Keamanan Negara

 Jika suatu negara itu kondisinya aman, tentram, serta masyarakatnya sejahtera, maka jumlah gerakan radikal juga akan sedikit. Karena mereka tidak akan memikirkan untuk melepaskan diri dari negara nya yang sudah aman dan menjamin kehidupan mereka. Maka dari itu pemerintah harus benar-benar bisa menjanjikan perubahan yang lebih baik pada negara untuk menjanjikan kemanan serta kehidupan yang lebih menjanjikan untuk masyarakat.

2. Pendidikan Kewarganegaraan Harus Ditingkatkan

 Berkaitan dengan bahasan ideologi negara, pelajaran Pkn (Pendidikan Kewarganegaraan) tidak lagi boleh diremehkan. Setiap sekolah wajib mengajarkan serta memperdalam materi ideologi negara, yaitu pancasila untuk setiap generasi muda. Tidak hanya memperdalam, sekolah juga wajib memastikan semua siswa menerima arahan dan persepsi yang benar.

 3. Pemberian Seminar atau Kampanye Mengenai Kewarganegaraan untuk Masyarakat

Seminar ini bertujuan untuk memberikan wawasan lebih dalam kepada msayarakat, khususnya orang tua. Dimana ketika orang tua sudah mengerti akan pentingnya kewarganegaraan, maka langkah yang selanjutnya ialah keluarga akan memastikan serta melindungi agar anak-anaknya mengerti akan ideologi negara yang benar.

 4. Selalu Klarifikasi Kebenaran Informasi yang Didapat

Di zaman sekarang ini, informasi sangat mudah tersebar, apalagi melalui media online. Dengan kemudahan tersebut diharapkan masyarakat tetap waspada dan terhindar dari informasi yang berbau hoax atau penipuan. Maka dari itu sangat penting bagi seluruh masyarakat untuk selalu mengecek dan mengklarifikasi kebenaran dari setiap informasi yang di dapatkan

 5. Jangan Hanya Mendapatkan Informasi dari Satu Pihak

Beberapa gerakan radikal berupaya untuk menghasut orang lain dengan cara berinteraksi secara langsung, dimana orang dengan mudah bisa terpengaruh. Namun tidak berenti disitu. Ketika kita mendapatkan suatu informasi dari satu pihak, kita harus membiasakan diri kita untuk menanyakan kebenaran informasi tersebut dengan menanyakan pendapat orang lain. Bisa saja informasi yang kita dapatkan dari orang pertama justru tidak benar. Maka dari itu janganlah segan untuk bertanya pada orang lain mengenai suatu informasi yang kita dapatkan dari satu pihak.

Dari solusi-solusi diatas dapat kita lihat bahwa sebenarnya tidak sulit untuk melakukan deradikalisasi. Bahkan solusi-solusi diatas bisa langsung diterapkan oleh para generasi muda untuk mencegah timbulnya gerakan separatis di masa mendatang. Cegah adanya radikalisasi merupakan tanggung jawab kita semua sebagai masyarakat Indonesia. Jika bukan kita yang memulainya, lalu siapa lagi?



Hari ini: Nurul mengandalkanmu

Nurul Islami membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "CNN: Selamatkan Generasi Muda dari Radikalisme". Bergabunglah dengan Nurul dan 27 pendukung lainnya hari ini.