Cabut Tuntutan Felix K. Nesi

Cabut Tuntutan Felix K. Nesi

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Malam tadi, 3 Juli 2020, komunitas Pastoran SMK Bitauni melaporkan penulis Felix K. Nesi ke Polsek Insana karena merusak kaca jendela dan kursi-kursi. Aksi perusakan itu bermula dari kekecewaan Felix terhadap ketidakseriusan keuskupan Atambua menangani tindak kekerasan seksual yang dilakukan pastor dengan hanya memindah-mindahkan pastor bermasalah tanpa ada upaya menghentikan perilaku kekerasan seksual yang terjadi di dalam institusi.

Kesaksian selengkapnya bisa disimak di sini: https://www.facebook.com/felix.nesi.731/posts/153902432908303

Felix K. Nesi sudah dibolehkan pulang. Meski begitu, tuntutan kepada Felix belum dicabut. Dalam kasus seperti pelecehan seksual, orang kerap menggunakan kekuasaan untuk memanipulasi atau melindungi pelaku. Sulit bagi individu, yang melakukan protes terhadap kesalahan yang terjadi di dalam institusi, untuk didengar jika hanya dilakukan seorang diri.

Kami tahu anda mulai gerah dengan isu pelecehan seksual, terlebih jika melibatkan institusi resmi. Aksi Felix dalam melawan institusi gereja dengan memecahkan kaca dan merusak kursi adalah wujud frustrasi yang paling mungkin bisa dilakukan seorang individu untuk mendorong perubahan dalam skala besar.

Hari ini, status Felix K. Nesi menjadi tersangka. Kami memanggil teman-teman untuk mengumpulkan suara agar tuntutan kepada Felix dicabut.

Berikut pernyataan resmi dari Marjin Kiri, selaku penerbit yang menaungi penulis Felix K. Nesi:

Perlu kami kabarkan bahwa Felix saat ini telah diperbolehkan pulang, tetapi statusnya resmi sebagai tersangka.

Kita tahu, kasus ini berawal dari keprihatinan Felix terhadap pastor yang—mengutip pernyataan di Facebooknya—"bermasalah dengan perempuan" di parokinya terdahulu, tetapi hanya dipindahtugaskan ke tempat baru di SMK Bitauni. Sekolah ini memiliki lebih dari seratus siswi, dan berjarak dekat dari rumah Felix. Felix menyampaikan keprihatinannya pada Romo kepala SMK, dan Romo Kepala SMK menyatakan bahwa penugasan pastor tersebut hanya sementara. Selama berbulan-bulan Felix terus menyampaikan keprihatinannya, Romo kepala SMK malah tampak membela keberadaan pastor bermasalah tersebut di sana.

Kami mendukung niat Felix untuk membongkar segala impunitas yang melibatkan para tokoh agama dalam kasus-kasus sejenis—suatu masalah yang telah begitu membesar dan mendunia belakangan ini dengan pola-pola yang serupa di berbagai tempat. Kami menuntut agar laporan kasus Felix segera dicabut. Kami juga mendukung upaya-upaya pemerolehan keadilan bagi korban kekerasan seksual di mana pun kejahatan itu terjadi.

Kaca jendela yang rusak sama sekali tidak sebanding dengan masa depan yang rusak akibat praktik pembiaran berbungkus nama baik institusi keagamaan.