PDAM SANJUNG TIRTA BUANA SIJUNJUNG KAMI INGIN AIR BUKAN ANGIN APALAGI LUMPUR

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Seminggu sudah air PDAM untuk Kami Warga Perumnas GSI Padang Sibusuk, tidak mengalir. Dan sepertinya masih akan berkelanjutan untuk beberapa hari atau beberapa minggu kedepan mengingat kondisi iklim dan cuaca. Jangankan untuk mandi atau mencuci pakaian, untuk berwudhu saja kami sudah susah. Bagi Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang memiliki rezki berlebih hal ini tidak akan begitu berpengaruh terhadap aktivitas hariannya karena memiliki sumur bor atau pesan air tanki. Tapi bagi warga yang tidak? MCK di Sungai mungkin memang jadi alternatif tepat saat ini, namun apa gunanya instalasi dan meteran PDAM yang terpasang dirumah-rumah kami?  Ketika kran di putar, hanya angin yang dikeluarkan. Kemudian setiap bulan akan ada petugas yang mencatat berapa pemakaian angin perbulan atau berapa kubik lumpur yang dialirkan. Jika masyarakat harus terus membeli air perkubik kepada mobil jualan air, lantas untuk apa ada meteran dipasang dirumah-rumah warga. Hanya untuk menerima biaya beban perbulan saja mengalir atau tidak mengalirnya air?

Menurut sejarah dan latar belakangnya, instalasi air untuk Perumnas GSI Padang Sibusuk dibangun oleh PT. Bukit Asam (Persero) Sawahlunto yang diperuntukkan sebagai saluran air untuk 500 unit perumahan para karyawan mereka yang mayoritas menghuni Perumnas GSI ini. Air dialirkan ke perumahan dari sumber air tanpa menggunakan pompa, hanya mengandalkan sifat air yang akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat rendah. Meski sumber air untuk Perumnas GSI berasal dari mata air diatas perbukitan yang mungkin setiap kemarau datang debit air akan selalu mengalami penurunan namun tetap saja mampu untuk mencukupi kebutuhan warga. Kemudian instalasi air ini diambil alih dan dikelola oleh pihak PDAM tanpa pengembangan dan terobosan berarti. Bahkan oleh pihak PDAM, air ini pun dibagikan ke desa/jorong lainnya. Sehingga bila kemarau datang maka warga Perumnas GSI sendiri akan mengalami kekeringan. Jika saja pihak PDAM Tirta Sanjung Buana mau untuk meningkatkan pelayanan dan kualitasnya, tentu akan ada terobosan yang dilakukan. Bisa dengan mengambil sumber air dari Sungai Ombilin yang memiliki debit air cukup besar dan tak pernah kering sepanjang tahun dengan memompanya kemudian membuatkan penampungannya untuk memproses air tersebut agar layak dikonsumsi. Tapi???

Kekeringan ini juga terjadi dibeberapa kenagarian dalam kecamatan lain di Sijunjung. Apakah masalah kekeringan ini harus terjadi setiap tahun ibarat penyakit yang sudah kronis namun tidak ada upaya dari pihak PDAM Tirta Sanjung Buana untuk mengantisipasinya. Jika melihat dari geografis daerah, ada beberapa sungai besar yang melewati daerah Sijunjung ini yang tidak pernah mengalami kekeringan sepanjang tahun seperti Batang Ombilin, Batang Sinamar, Batang Kuantan, Batang Hari serta beberapa aliran sungai kecil lainnya. Apakah untuk menggunakan sumber air tersebut harus melalui proses yang rumit seperti uji kelayakan serta birokrasi berbelit? Mungkin jika mengkaji layak atau tidak layaknya untuk dipakai mungkin selama ini air yang dialirkan kepada masyarakat jauh dari kata layak. Bisa dikatakan PDAM Tirta Sanjung Buana adalah Perusahaan Air Minum yang paling jujur. Mengapa jujur? Karena seperti apa keadaan di sungai seperti itulah keadaan dalam bak-bak penampungan dirumah warga serta terkadang ada anak-anak lintah dalam bak mandi. Masihkah bisa disebut PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM jika saja untuk dipakai MANDI  saja tidak layak apalagi dipakai untuk MINUM.

Semoga Pihak PDAM Sijunjung ataupun pihak terkait memiliki solusi dan mampu mengatasi masalah ini. Mohon maaf sebelumnya.

 



Hari ini: Rani mengandalkanmu

Rani Arvinna membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Bupati Sijunjung: PDAM SANJUNG TIRTA BUANA SIJUNJUNG KAMI INGIN AIR BUKAN ANGIN APALAGI LUMPUR". Bergabunglah dengan Rani dan 4 pendukung lainnya hari ini.