Pak Bupati, Tolong Tangani Banjir Lamongan Secara Serius!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Banjir Tahunan Lamongan Bukanlah Takdir. 

Secara geografis, Lamongan adalah hamparan dataran rendah dengan 50% lebih ketinggiannya adalah 0-25 meter di atas permukaan laut yang di lewati sungai besar Bengawan solo dan anak Bengawan solo (Bengawan Jero dll, red). Tentu dengan kondisi geografis seperti ini, wilayah Lamongan sangat rentan terhadap banjir. Apalagi desain tata kelola bendungan yg di tempatkan di dua sisi, barat dan timur Lamongan (Babat barrage dan Kuro barrage) tentu semakin memperparah keadaan lamongan. Jika air Bengawan solo sedang besar, kemudian babat barrage di buka lebar dan Kuro barrage ditutup, maka Lamongan tak ubahnya seperti waduk.

Wilayah bonorowo (wilayah bagian tengah yang mencakup 7 kecamatan dengan penduduk kurang lebih 200.000 jiwa) adalah wilayah terdampak banjir yang paling parah, karena berada di area aliran sungai Bengawan solo dan Bengawan Jero. Banyak orang mengatakan, 7 kecamatan ini sudah tempatnya banjir dari dulu. Sudah takdirnya demikian katanya. Kalo memang setiap dataran rendah di takdirkan banjir, tentu Belanda yang akan pertama kali tenggelam. Karena kurang lebih 1/3 wilayah Belanda berada di bawah permukaan air laut, jauh lebih rendah daripada permukaan tanah wilayah bengawan Jero yg ketinggian tanahnya masih berada di atas permukaan air laut. Jadi kalo boleh disimpulkan, banjir bukanlah takdir yang tidak bisa dirubah.

Wilayah seperti Lamongan ini (Bengawan Jero khususnya) butuh penanganan tata kelola air secara khusus. Tidak bisa hanya mengandalkan dan memasrahkan kepada alam (menunggu Bengawan solo surut). Dengan rekayasa tertentu, banjir di Bengawan Jero bisa di tangani. Itu kalo Pemda lamongan mau mencari solusi untuk menyelamatkan warganya dari amukan banjir.

Tetapi nyatanya sampai hari ini lamongan masih banjir, terkhusus wilayah bonorowo. Jika harusnya ada solusi yang bisa dilakukan, kenapa tidak dilakukan oleh Pemda lamongan. Apakah mungkin penduduk 200.000 jiwa di wilayah bonorowo tidak begitu penting bagi bupati dan Pemda lamongan, atau mungkin nasib petani tambak dan sawah yang terendam banjir tidak berpengaruh terhadap hidup bupati Lamongan, atau mungkin bupati juga tidak merasa kesusahan karena rumahnya tidak ikut terendam banjir seperti rumah dan jalan-jalan di Bengawan Jero, ataukah dulu penduduk di wilayah banjir tidak ada yang nyoblos bupati terpilih saat pemilu, ataukah dana APBD 3,2 triliyun atau 3.200 milyar ( 3.200.000.000.000 ) tidak ada sisa sama sekali untuk mencari solusi jangka panjang penanganan banjir? 

Bapak bupati yang terhormat, mohon buka mata hati anda. Tangani segera masalah banjir di lamongan. Cari solusi permanen, kami tidak butuh bantuan beberapa bungkus mie rebus. Yang kami butuhkan adalah hak untuk hidup layak di Kabupaten Lamongan tercinta ini.