AJUKAN PELARANGAN PENGGUNAAN KANTUNG PLASTIK DI KOTA MANOKWARI

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Manokwari merupakan Ibukota dari Provinsi Papua Barat, menjadi salah satu ibu kota provinsi yang terkenal dengan alamnya yang indah merupakan suatu tanggung jawab untuk kabupaten Manokwari. Persoalan sampah di Manokwari seperti tidak ada habisnya, telah terbukti pantai-pantai yang dahulu bersih dan menjadi objek wisata yang asri bagi warga kota Manokwari kini banyak yang terdampak sampah, bukan hanya sampah kiriman wilayah lain namun juga sampah yang diproduksi dari pantai wisata tersebut. Contoh kasus di Pantai Yembeba (lebih sering dikenal dengan nama Pantai Pasir Putih) bila sehabis hujan ataupun pada saat ramai pengunjung dapat dilihat banyak sekali sampah yang berserakan di perairan maupun di pasir pantai (dalam video yang diabadikan Komunitas Anak Air Manokwari memperlihatkan tumpukan sampah di dasar perairan Pantai Yembeba yang sangat banyak : https://youtu.be/VbJK9PLrGJQ

Faknik Diving Club, salah satu klub selam mahasiswa di Universitas Papua pun telah beberapa kali mengadakan pembersihan sampah di dasar laut Perairan Pantai Yembeba namun karena sangat banyaknya tidak mampu seperempatnya pun tidak ada yang berhasil di angkat kedarat untuk di buang ke tempat yang seharusnya. namun pengelolaan sampah di Manokwari dalam pendapat saya pribadi masih sangat jauh dari kata berhasil karena jumlah pemakaian sampah yang begitu banyak tidak sebanding dengan yang ditampung dan di kelola. menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional hanya terdapat data untuk daerah Manokwari Selatan yaitu Ransiki dengan jumlah timbunan sampah ke TPA yaitu 1.67 Ton/hari dan jumlah sampah yang tidak terkelola adalah 2.35 Ton/hari, hal ini menunjukan bahwa setiap hari yang masuk ke TPA dan yang dapat dikelola tidak sebanding dan itu baru berbicara di dalam wilayah Ransiki belum memasuki wilayah Manokwari (data sampah khusus Kota Manowari di pengelolaan sampah nasional tidak ada /ciptakarya.pu.go.id/plp/simpersampahan/baseline/).  

Petisi ini mengusulkan kepada Bupati Manokwari untuk dapat mengikuti jejak 4 kota di Indonesia yang sudah dahulu melarang penggunaan Kantung plastik di daerahnya yaitu yang pertama Kota Banjarmasin (dimulai tanggal 1 Juni 2016 melalui peraturan Wali Kota No. 18 tahun 2016) yang kedua Kota Balikpapan (dimulai tanggal 3 Juli 2018 melalui peraturan Wali Kota No. 8 tahun 2018) yang ketiga Kota Bogor (dimulai tanggal 1 Desember 2018 melalui Peraturan Wali Kota No. 61 tahun 2018) dan yang keempat adalah Kota Denpasar (dimulai tanggal 1 Januari 2019 melalui Peraturan Wali Kota No. 36 tahun 2018). Sekarang apakah pemerintah daerah mau atau tidak menyikapi persoalan sampah dengan serius karena bila tidak mengambil langkah kebijakan yang tegas maka akan terus berdampak buruk kedepannya bagi lingkungan, masyarakat dan kesinambungan kehidupan.

Selogan yang selalu menjadi andalan Provinsi Papua Barat "Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi dan Kalau Bukan Kitorang Siapa Lagi" semoga bukan hanya slogan namun menjadi pemacu bahwa jangan menunggu persoalan menjadi kian membesar dan berdampak buruk tapi kita semua. 

Mari tanda tangani petisi ini untuk menunjukan keperdulian kita dengan persoalan sampah di Kota Manokwari dan kita bersama ingin menyelesaikannya.