SURAT CINTA UNTUK UINSA

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Sudah 5 tahun berjalan semenjak diresmikan menjadi Universitas Islam Negeri pada Tahun 2014, UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya) menjadi salah satu Perguruan Tinggi yang difavoritkan di Kota Surabaya.

Umur Universitas yang tergolong muda ini tentu saja tidak bisa dijadikan alasan untuk berleha-leha dalam pengelolaannya.

Dalam masalah fasilitas perkuliahan misalnya, masih sering kita jumpai banyak ruang kelas yang sebagai sarana utama dalam kegiatan belajar mengajar jauh dari standart operasional perkuliahan. Kursi Mahasiswa yang tidak lengkap, pendingin ruangan (Air Conditioner) yang tidak berfungsi, WIFI yang tidak bisa diakses publik dan juga oknum dosen pengajar yang sering memindahkan perkuliahan secara sepihak dan keluar dari prosedur SIAKAD hingga menyebabkan Mahasiswa tertinggal absensi dan tidak lulus, menjadi permasalah yang se-akan tidak pernah ada solusi.

Dari segi sisi luar ruang akademis. Corat-marutnya parkir kendaraan, terbatasnya lahan dan akses parkir serta kantin, rendahnya tingkat keamanan, hingga minimnya fasilitas pengembangan potensi mahasiswa. Tentu ini bukti bahwa Universitas islam dengan Akreditasi A dengan visi “Universitas Islam yang unggul dan kompetitif bertaraf internasional” masih memiliki PR besar yang harus segera diselesaikan dalam waktu dekat.

Tak kalah menarik; Ruang kelas 101 - 103 Fakultas Adab dan Humaniora misalnya, tiga ruang kelas yang seharusnya menjadi fasilitas utama dalam kegiatan belajar mengajar kini tidak lagi bisa difungsikan secara efektif, pasalnya tiga ruang kelas ini telah menjadi korban perombakan sementara untuk aula pertemuan dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan 2019 (PBAK) pada tanggal 14 - 17 bulan Agustus lalu.

Mirisnya, hingga hari ini 6 September 2019, tiga ruang kelas yang telah dirombak untuk kegiatan PBAK tersebut belum mendapat perhatian lebih dari pihak fakultas untuk dibenahi. Sehingga kegiatan belajar mengajar pada tiga ruang tersebut hanya dibatasi oleh terpal plastik biru sebagai bilik pemisah dari satu ruang ke ruang lainnya.

Dari beberapa uraian diatas. Maka dengan ini kami mengajak seluruh Mahasiswa UINSA untuk berpartisipasi menandatangi petisi ini sebagai bentuk wujud rasa kepedulian kita bersama untuk Universitas.

Semoga dengan petisi dan surat terbuka ini dapat mewujudkan semangat baru Birokrasi Universitas untuk kemudian bisa lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanah dan tugasnya.


Tertanda


Rijalul Mahdiy
Ketua Komisi IV Senat Mahasiswa UINSA