Tolak Impor Sampah Plastik: Darurat Sampah, Kok Malah Impor?

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Teman-teman, pasti tau kan kalau saat ini Indonesia tengah darurat sampah plastik?
Kita dinominasikan sebagai Negara penghasil sampah plastik terbesar kedua oleh peneliti dari Amerika Serikat, Jenna Jambeck.
 
Meskipun demikian, nominasi tersebut dan bertebarannya sampah plastik di pantai-pantai kita dan di lingkungan sekitar, tidak cukup untuk menghentikan impor sampah.

Ironis disaat mayoritas masyarakat berusaha mengurangi pemakaian plastik, namun pemerintah bahkan tidak melindungi negeri ini dari sampah-sampah yang dihasilkan negara lain, dengan tetap memperbolehkan impor sampah. 
 
Beberapa jenis sampah, seperti sampah plastik dan metal scrap memang menjadi komoditas perdagangan dunia. Komoditas ini diserap oleh industri daur ulang yang nantinya akan mengolah sampah menjadi komoditas baru.Tapi apakah sampah berlimpah yang dihasilkan masyarakat kita belum cukup untuk itu?Masih perlukah kita mengimpor sampah?
 
Belakangan ini, kebanyakan sampah plastik yang masuk ke Indonesia bermasalah karena tidak sesuai dengan kriteria yang berlaku sebagai komoditas. Niat untuk mendaur ulang sampah plastik impor tersebut tidak terlaksana, karena sampah yang datang tidak sesuai standar sehinga tidak bisa didaur ulang.
 
Alhasil, kita punya tambahan timbunan sampah yang bahkan bukan berasal dari Indonesia.
 
Yakin rela, tanah air kamu dikotori oleh sampah-sampah dari luar negeri? Yakin rela, kita kembali dijajah oleh barat, melalui sampah? Ada beberapa hal yang kamu bisa lakukan untuk bantu hentikan “penjajahan sampah” di Indonesia:
 
1.    Tolak impor sampah.
2.     Dukung dan ajak teman-teman kamu untuk tandatangani petisi ini.
3.    Hasilkan sampah yang memenuhi standar daur ulang dengan mulai pilah sampah rumah tanggakamumenjadikatagoriorganik, plastik dan kertas. Jadi, industri daur ulang dalam negeri dapat hidup dari sampah kita sendiri, dan tidak perlu lagi mengambil sampah dari negara lain.