Kembalikan Hak-Hak Masyarakat Olak-Olak Kubu dan Hentikan Kriminalisasi, Intimidasi, Teror

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Klarifikasi dan Kornologis Sengketa

Warga Desa Olak-Olak Kubu Dusun Melati (Patok 30) dengan PT CTB dan PT Sintang Raya


PT Cipta Tumbuh Berkembang (PT CTB) masuk ke Desa Olak-Olak,Kec. Kubu, Kab. Kubu Raya pada pertengahan tahun 2008. Pada 16 desember 2008 penyerahan lahan dilakukan masyarakat ke pihak PT CTB sebagai bentuk kerjasama masyarakat dengan perusahaan sawit skala luas dan dilakukan MoU antara masyarakat dan PT Cipta Tumbuh Berkembang pada 03 juni 2009.

Seiring pengelolaan perkebunan sawit perusahaan terdapat permasalahan antar perusahaan yaitu adanya tumpang tindih perizinan PT Sintang Raya dan PT CTB seluas 801 ha. dimana 801 ha adalah lahan yang diserahkan masyarakat berdasarkan surat perjanjian lahan nomor:001/CTB-ok/2008 dan nomor:002/CTB-ok/2008 keduanya tertanggal 16 desember 2008.

Atas tumpang tindih perizinan antar perusahaan baik PT CTB dan PT Sintang Raya yang akhirnya sengketa dua perusahaan tersebut menyelesaikan dengan jalan keputusan win-win solution yaitu PT CTB men-take over lahan tersebut ke PT Sintang Raya seluas 801 ha.

Dari luas 801 ha terdapat plasma masyarakat seluas 151 ha yang didalamnya termasuk lahan garapan masyarakat 64 ha milik masyarakat dusun melati (patok 30) yang memiliki perjanjian tersendiri antara PT CTB dengan masyarakat,ketika PT CTB masuk di Olak-Olak,dusun melati (Patok 30) namun pihak PT CTB memasukan lahan garapan ini ke dalam 801 ha yang di take over ke PT Sintang Raya, padahal ini perjanjian yang berbeda dengan perjanjian lahan 151 ha tersebut, lahan garapan tidak termasuk dari lahan 151 ha tersebut.

Sebelumnya di Patok 30 PT Cipta Tumbuh Berkembang (PT CTB) melakukan Ganti Rugi Tanam Tumbuh (GRTT) pada tahun 2012. Dalam proses GRTT masyarakat hanya bertanda tangan di kuwitansi yang hanya berisi nominal (tanpa ada penjelasan untuk apa uang tersebut) pembayaran mulai dengan nominal yang bervariasi dari 500.000,- - 2.500.000,- /2 ha lahan. Dalam proses GRTT tersebut, tidak ada Berita Acara Penyerahan Lahan, Berita Acara Pengukuran yang ditandatangani masyarakat. Saat ini, lahan dari 801 ha yang didalamnya ada Lahan plasma 151 ha, dan lahan garapan seluas 64 ha garapan masyarakat harus jatuh di tangan PT Sintang Raya yang pada dasarnya masyarakat tidak pernah melakukan kerjasama dengan perusahaan tersebut.

Atas win-win solution/take over yang dilakukan PT CTB ke Sintang Raya (dilakukan tanpa disosialisasikan ke masyarakat) akhirnya masyarakat dirugikan dan terampas hak-haknya. Dari persoalan take over tersebut Pada tahun 2013 masyarakat patok 30 (dusun melati) mengambil lahan garapan tersebut kembali seluas 64 ha yang terletak di dusun melati (patok 30). Semenjak tahun 2013 masyarakat mengelola lahan tersebut sampai pada tahun 2017 dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk merawat lahan tersebut.

Saat ini, pihak PT CTB dan PT Sintang Raya merampas lahan 64 ha tersebut kembali tanpa ada proses musyawarah kepada masyarakat dusun melati (patok 30). Pihak PT CTB telah melakukan panen paksa,sepihak dan melakukan intimidasi dan teror terhadap masyarakat dalam bentuk akan melaporkan atas tuduhan pencurian sawit dari lahan tersebut. Hal ini seperti yang sebelum-sebelumnya dilakukan oleh PT Sintang Raya terhadap masyarakat olak-olak kubu. Kriminalisasi dalam bentuk tuduhan pencurian sawit bukan 1 atau 2 kali terjadi tetapi di Olak-Olak Kubu korban kriminalisasi dengan tuduhan Pencurian Buah Sawit MENJADI SENJATA untuk Menakut-nakuti dan mengkriminalisasi Masyarakat Oleh PT CTB dan PT Sintang Raya. Korbannya telah RATUSAN ORANG dari Desa Olak-OLak Kubu, Kec. Kubu Kab. Kubu Raya. Tegas Ayub warga Patok 30, Dusun Melati Desa Olak-Olak Kubu.

lahan 64 ha tersebut menjadi incaran rampasan bagi dua perusahaan baik PT CTB maupun PT Sintang Raya. Kerjasama PT CTB dan PT Sintang Raya untuk merampas hak masyarakat dengan membagi pengerjaan atas lahan 64 ha tersebut.

Jadi kalau General Maneger Sintang Raya mengatakan bahwa apa dasar klaim lahan tersebut, kami warga patok 30 yang masuk dari kelompok 32 siap berhadapan dengan PT Sintang Raya, sejak kapan mereka menggarap,menanam lahan tersebut, apa mereka (PT SR) pernah melakukan kerjasama dengan kami warga patok 30, justru kami yang bertanya kepada mereka Kenapa mereka (PT Sintang Raya) Panen dilahan garapan kami? sahut Ayub.

Riwayat Penguasaan Lahan Garapan Masyarakat khususnya Dusun Melati, Desa Olak-Olak Kubu (Patok 30)

 Lahan garapan masyarakat desa olak-olak kubu, dusun melati (patok 30) dibuka sejak tahun 2006 silam. Lahan ini diluar lahan pembagian lahan dari pemerintah yang diberikan oleh transmigrasi pada tahun 1998/1999.

 Lahan garapan dibuka dari hutan diwilayah desa olak-olak dusun melati oleh masyarakat untuk dijadikan lahan pertanian masyarakat. Dibuka secara kolektif oleh masyarakat dan ditanami komoditi karet, jagung, nanas dan sayur-mayur.

Sejak tahun 2008 masuknya PT CTB ke masyarakat Patok 30, PT CTB ingin bekerjasama dengan masyarakat. Lalu sesepuh masyarakat embah sukir mengatakan kalau mau beli silahkan dengan harga 30 juta/ha, namun PT CTB yang diwakili Nasir sebagai Manager tidak menyanggupi, lalu harga diturunkan masyarakat menjadi 20juta/ha, pihak perusahaan PT CTB juga tidak sanggup. Lalu PT CTB mengatakan bahwa kami tidak boleh beli tanah, bisa dikerjasamakan dengan Ganti Rugi Tanam Tumbuh (GRTT).

Akhirnya PT CTB memberikan janji akan memperbaiki jalan dusun, membuatkan masyarakat sertifikat atas lahan garapan tersebut. Masyarakat menerima PT CTB mulailah pembersihan lahan dilakukan oleh PT CTB pada lahan garapan masyarakat pada 2009/2010.

Saat itu, PT CTB dan PT Sintang Raya konflik atas tumpang tindih perizinan dan keinginan kedua perusahaan tersebut untuk memperluas lahan pengelolaan sawit mereka. Karena konflik yang berkepanjangan sampai pada tahun 2010 pernah terjadi konflik antara ambawang dan olak-olak akibat dari konflik kedua perusahaan tersebut akhirnya kedua perusahaan pada tahun 2012 membuat kesepakan damai atau dikenal Dading.

Dading tersebut menyebutkan bahwa tanah-tanah yang masuk dalam areal izin PT Sintang Raya harus menjadi pengelolaan PT Sintang Raya dan sementara yang diluar areal izin PT Sintang Raya menjadi penguasaan PT CTB. Dalam hal ini terang bahwa Hak-Hak masyarakat tidak pernah diperdulikan oleh dua perusahaan dan pemerintah.

Dari dading tersebut dilahan sengketa dua perusahaan PT Sintang Raya dan PT CTB seluas 801 ha ini ditake over sebagai jalan win-win solution atas permasalahan antara dua perusahaan. Namun dalam 801 ha ini terdapat hak-hak masyarakat antara lain hak atas plasma masyarakat olak-olak kubu seluas 151 ha dan lahan garapan seluas 64 ha yang memiliki perjanjian tersendiri dengan PT CTB dan diluar dari lahan plasma 151 ha.

Karena take over tersebut maka hak-hak masyarakat hilang secara keseluruhan. Masyarakat yang kecewa dengan PT CTB akhirnya mengklaim lahan garapan mereka kembali pada tahun 2013 terutama lahan garapan di dusun melati (patok 30) desa olak-olak kubu dan merawatnya sampai pada tahun 2017.

Pasca memuncaknya konflik PT Sintang Raya dan masyarakat pada 2016 silam telah terjadi media antara PT Sintang Raya dan PT CTB yang hanya menyelesaikan konflik dua perusahaan tersebut. Yaitu PT CTB harus bertanggung jawab atas lahan yang telah di take over ke PT Sintang Raya.

Dari persoalan ini akhirnya PT CTB dan PT Sintang Raya merampas kembali lahan-lahan yang telah digarap oleh masyarakat selama 4 tahun tanpa penyelesaiaan yang jelas. PT Sintang Raya dan PT CTB membagi lahan tersebut sementara waktu untuk dikuasai sepenuhnya tanpa perlawanan dari masyarakat. Padahal PT CTB jika mengacu pada Dading sudah tidak ada hak lagi atas lahan yang telah di take over mereka ke Pt Sintang Raya. PT Sintang Raya karena tidak pernah bekerjasama dengan masyarakat dilahan tersebut, dan tidak menanam serta menggarap lahan tersebut tidak ada dalih untuk merampas secara langsung terhadap masyarakat oleh karena itu, kedua perusahaan tersebut membagi pengerjaan untuk menguasai lahan tersebut dari tangan masyarakat.

Semakin panjang catatan konflik yang ditimbulkan oleh PT Sintang Raya dalam merampas hak-hak masyarakat olak-olak kubu. Perampasan tanah selalu diserta dengan tindakan kriminalisasi, intimidasi dan teror terhadap masyarakat. AGRA-STKR mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan dukungan perjuangan terhadap petani di Desa Olak-Olak Kubu khususnya Dusun Melati (Patok 30).

Atas dasar persolan diatas tersebut kami warga patok 30 yang juga merupakan anggota STKR dan AGRA Kal-Bar menuntut:

1)   PT Sintang Raya dan PT Cipta Tumbuh Berkembang untuk menghentikan tindakan panen paksa dilahan garapan masyarakat patok 30 dusun melati, desa olak-olak kubu.

2)   Hentikan tindakan kriminalisasi (penahan,penagkapan, pemenjaraan), intimidasi, teror terhadap masyarakat patok 30 dalam bentuk apapun atas sengketa lahan perusahaan dan masyarakat. Hentikan politik pecah belah perusahaan.

3)    Kembalikan lahan garapan kami warga patok 30 desa olak-olak kubu dan lahan warga yang memiliki SPT yang dirampas oleh PT Sintang Raya.

4)    Kembalikan barang milik masyarakat yang disita di polres mempawah seperti mobil pick up, tossa dan motor air.

5)    Meminta kepada pemerintah daerah untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan seadil-adilnya dan tidak memihak dan meminggirkan hak-hak masyarakat.

Tertanda,

Ayub

Ketua Serikat Tani Kubu Raya (STKR). 

Ayub : 08152247254

Sekjend AGRA Kal-Bar
Abdul Majid : 082351224652

Ketua AGRA Kalimantan Barat

Wahyu Setiawan : 085828368104

 



Hari ini: Agra mengandalkanmu

Agra Barat membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "AGRA: Kembalikan Hak-Hak Masyarakat Olak-Olak Kubu dan Hentikan Kriminalisasi, Intimidasi, Teror". Bergabunglah dengan Agra dan 31 pendukung lainnya hari ini.