Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3)

24,092 supporters

    Started 1 petition

    Petitioning Presiden RI, Kapolri, DPR RI, ICC, Committe Againts Torture, Seluruh rakyat Indonesia

    Petisi Rakyat untuk Penuntasan Peristiwa Pembunuhan Enam Laskar FPI oleh Aparat Negara

    Petisi Rakyat untuk Penuntasan Peristiwa Pembunuhan Enam Laskar FPI oleh Aparat Negara Proses penyelidikan peristiwa pembunuhan atas enam warga sipil (Laskar FPI) yang terjadi pada 6-7 Desember 2020 masih jauh dari harapan dan justru cenderung berlawanan dengan kondisi objektif dan fakta-fakta di lapangan. Baik Polri maupun Komnas HAM telah memberikan laporan penyelidikan yang dapat dianggap menggiring opini menyesatkan dan menutupi kejadian yang sebenarnya. Mencermati sikap Pemerintah dan sikap Komnas HAM RI, kami yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa pembunuhan terhadap enam laskar FPI merupakan pembunuhan secara langsung terhadap penduduk sipil oleh aparat negara yang didahului dengan penyiksaan dan dilakukan secara sistematik. Oleh karena itu kejahatan ini memenuhi kriteria sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan (Crime Against Humanity), sehingga merupakan Pelanggaran HAM Berat sebagaimana dimaksud oleh Pasal 9 UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Kejahatan sistematik ini terjadi didasarkan pada pra kondisi operasi kontra propaganda oleh Pemerintah melalui penggalangan opini, politik adu domba dan belah bambu diantara umat Islam dan rakyat Indonesia yang direpresentasikan oleh aparat hukum dan keamanan. Aparat negara diduga telah melakukan Pelanggaran HAM Berat melalui kebijakan keji, bengis dan diluar batas kemanusiaan, yang berujung pada hilangnya nyawa enam laskar FPI pada 7 Desember 2020. Berdasarkan kesaksian dari Pengurus FPI, laskar FPI tidak memiliki senjata, tidak pernah melakukan penyerangan, sehingga dengan demikian tidak mungkin terjadi baku tembak. Karena itu banyak pihak, termasuk Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) enam laskar FPI meyakini yang terjadi adalah pembunuhan dan pembantaian yang direncanakan sebelumnya. TP3 menilai, apa pun alasannya, tindakan aparat negara sudah melampaui batas dan di luar kewenangan, yakni menggunakan cara-cara kekerasan di luar prosedur hukum dan keadilan, sehingga wajar disebut sebagai extrajudicial killing. Tindakan brutal aparat pemerintah ini merupakan bentuk penghinaan terhadap proses hukum dan pengingkaran atas azas praduga tidak bersalah dalam penegakan hukum dan keadilan. Sehingga dapat dianggap sebagai perbuatan yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945 dan peraturan yang berlaku. Karena itu TP3 mengutuk dan mengecam keras para pelaku pembunuhan enam laskar FPI tersebut, termasuk atasan dan pihak-pihak terkait. Dengan status sebagai Pelanggaran HAM Berat, maka pembunuhan enam laskar FPI merupakan pelanggaran terhadap Statuta Roma Tahun 1998 dan Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment yang telah diratifikasi melalui Undang Undang No.5 Tahun 1998. Karena itu proses hukumnya harus dilakukan melalui Pengadilan HAM sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang No.26 Tahun 2000. Sampai saat ini, Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia belum memberikan pertanggungjawaban publik atas peristiwa pembunuhan enam Laskar FPI. Bahkan pemerintah tidak merasa perlu untuk menyampaikan permintaan maaf atau belasungkawa kepada keluarga korban. Hal ini merupakan pengingkaran terhadap hak-hak korban dan keluarganya yang semestinya dijamin oleh negara seperti terkandung dalam UU No.13 Tahun 2006 jo UU No.31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.   Tuntutan Sehubungan dengan terjadinya pelanggaran HAM berat oleh aparat negara, maka TP3 bersama segenap komponen bangsa di seluruh Indonesia yang peduli terhadap penegakan hukum dan keadilan, serta pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945, dengan ini mengajukan tuntutan sebagai berikut: 1.       Menuntut agar nama-nama para pelaku pembunuhan enam anggota Laskar FPI yang dilaporkan Komnas HAM kepada Presiden Republik Indonesia segera diumumkan. 2.       Menuntut Presiden Republik Indonesia sebagai kepala pemerintahan untuk ikut bertanggungjawab atas tindakan sewenang-wenang aparat negara dalam peristiwa pembunuhan tersebut; 3.       Mendesak Presiden Republik Indonesia untuk memerintahkan Kapolri memberhentikan Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran sebagai anggota Polri, sehingga proses hukum kasus pembunuhan enam anggota Laskar FPI dapat dilakukan secara obyektif, terbuka, dan berkeadilan. 4.       Meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) untuk membentuk Panitia Khusus (Pansus) guna menyelidiki kasus pembunuhan atau pembantaian enam anggota Laskar FPI yang diduga kuat bukan sekadar pembunuhan biasa, tetapi terkait dengan persoalan politik kekuasaan; 5.       Mendukung Tim Advokasi yang telah melakukan pelaporan kepada International Criminal Court di Den Haag dan Committee Against Torture di Geneva, serta mendesak kedua lembaga Internasional tersebut untuk segera melakukan langkah penyelidikan termasuk pemanggilan pihak-pihak yang bertanggungjawab atas pembantaian  enam laskar FPI sebagai tindak lanjut dari pelaporan Tim Advokasi tersebut. 6.       Menuntut negara bertanggungjawab kepada para korban dan keluarganya, sesuai Pasal 7 UU No.31 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, dalam bentuk: a.     Memberikan keadilan kepada para korban dengan menghukum para pelaku pelanggaran; b.    Meminta maaf kepada para korban dan keluarganya dan mengakui adanya pelanggaran HAM berat dalam peristiwa 7 Desember 2020 yang menewaskan enam korban; c.     Memberikan layanan medis dan psikososial dengan cuma-cuma dan serta merta untuk korban lain peristiwa 7 Desember 2020 yang masih hidup; d.    memberikan kompensasi kepada para korban dan keluarganya melalui fasilitasi dari Lembaga Perlindungan Saksi & Korban (LPSK); e.     Merehabilitasi nama baik para korban yang sudah tewas dari labelling dan stigma yang dituduhkan kepada mereka secara sewenang-wenang. 7.       Menuntut para pelaku pembunuhan 7 Desember 2020 untuk memberikan restitusi (ganti rugi oleh pelaku) kepada para korban dan keluarganya sesuai Pasal 7A UU No.31 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Kami mengajak berbagai lapisan masyarakat, segenap anak bangsa di seluruh tanah air, untuk mendukung dan bergabung dalam gerakan Petisi Rakyat ini, demi tegaknya hukum dan keadilan di bumi NKRI.   Jakarta, 01 Februari 2021       Daftar Petisi Rakyat 1.         Prof. DR. M. Amien Rais 2.         KH DR. Abdullah Hehamahua 3.         Dr. Busyro Muqoddas 4.         KH. DR. Muhyiddin Djunaedi 5.         Dr. Marwan Batubara 6.         Prof. DR. Firdaus Syam 7.         DR. Abdul Chair Ramadhan 8.         Habib Muhsin Al-Attas, Lc. 9.         Hj. Neno Warisman 10.      Edy Mulyadi 11.      Rizal Fadillah, SH 12.      HM Mursalim R 13.      Dr. Indra Matian 14.      Abdul Malik SE, MM 15.      KH DR. Buchori Muslim 16.      DR. Syamsul Balda 17.      DR. Taufik Hidayat 18.      DR. HM Gamari Sutrisno, MPS 19.      Ir. Candra Kurnia 20.      Adi Prayitno, SH 21.      Agung Mozin SH, MSi 22.      KH Ansyufri Sambo 23.      DR. Nurdiati Akma (Nomor 1 s.d 23 merupakan Anggota TP3 dan Inisiator Petisi Rakyat)   24.      KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’I, Perguruan As-Syafi’iyah 25.      Prof. DR. Daniel M. Rosyid 26.      Natalius Pigai, Mantan Anggota Komnas HAM 27.      DR. M.S Kaban, Mantan Menteri Kehutanan 28.      Rocky Gerung 29.      Dra. Hj.Marfuah Musthofa, M.Pd, Ketua PP Wanita Islam 30.      Letjen TNI Purn Syarwan Hamid 31.      Letjen TNI Purn Yayat Sudrajat 32.      Mayjen TNI Purn Deddy S Budiman 33.      Mayjen TNI Purn Soenarko. 34.      Prof. DR. H. Sanusi Uwes, M.Pd 35.      DR. Ir. H. Memet Hakim 36.      Mayjen TNI Purn Robby Win Kadir 37.      Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag. 38.      H. Memet Hamdan, S.H, M.Sc. 39.      Radhar Tri Baskoro, S.E, MSi 40.      Kolonel TNI Purn Sugeng Waras 41.      Noor Alam, S.H. CN, MBA, MSc 42.      DR. Hj Maria Zuraida M.Si 43.      DR. Ir. H Arifien Habibie MS 44.      Memet A. Hakim, S.H. 45.      DR. TB. Massa Djafar, Akademisi 46.      Ahmad Murjoko, S.Sos. M.Si., KB PII 47.      DR. Muslim Muin, Akademisi  48.      DR. Nurhayati Ali Assegaf, Politisi Senior 49.      DR. Muslim Mufti, M.Si, Ketua Dewan Tafkir PP PERSIS 50.      Mayjen TNI Purn Budi Sujana 51.      Brigjen TNI Purn Mahu Amin 52.      Brigjen TNI Purn Dr Nasuka 53.      Brigjen TNI Purn Poernomo 54.      Adhie M Massardi 55.      Zamzam Aqbil. R. SH., MH (Bantuan Hukum PERSIS) 56.      DR. Ma’mun Murod Al-Barbasy, M.Si 57.      Dindin S. Maolani, S.H. 58.      DR. Masri Sitanggang 59.      Djoko Edhi Abdurrahman, Mantan Anggota DPR RI 60.      H. Heru Purwanto SH 61.      Ir Sebastian Jaafar MH 62.      Joko Sumpeno SH 63.      Mustaris SH 64.      Ir. Kelana Budi Mulia MEng. 65.      Deni Apriandi SE SH MH 66.      Ir H. Suroto MM 67.      Djudju Purwantoro SH, MH 68.      M. Gde Siriana Yusuf 69.      Ir. Syafril Sofyan 70.      Nur Aini Bunyamin, GBN 71.      Taufik Bahaudin, UI Watch 72.      Narliswandi (Iwan Piliang) 73.      Ir. H. Irwansyah, UI Watch 74.      Agus Muhammad Maksum,S.Si  DDII Jatim. 75.      Ust Mochammad Yunus Maksum, Gamis Jatim 76.      KH. Toha Yusuf Zakaria Maksum,  PP Al Islah 77.      Prof. DR Aminudin Kasdi, UNESA 78.      Ir. Prihandoyo Kuswanto, Ketua Rumah Pancasila  79.      Ust Mintardjo Wardana, Jatim 80.      Gus Adi Purwadi, AMTB Jatim 81.      KH  Ahmad Dimyati, TPQ Miftahul Huda, Tulungagung 82.      Ir. Asjhar Imron, MSc, MSE, PED, Surabaya 83.      KH Muhammad Ma’mun, Tulung Agung 84.      KH Gus Robert, Mojosari Mojokerto 85.      Agus Lengky ST SH MM, Advokat. 86.      Muslim Arbi 87.      KH Hamim Badruzzan, Tulung  agung 88.      KH Robet Wahidi Wiyono 89.      M Nur Huda, Tulungagung 90.      Ahmad Syifa, Tulungagung 91.      Munif Miftachur Rohman, Tulungagung 92.      Efendi Arif, Tulungagung 93.      Minhajun Niam, Tulungagung 94.      Suparlin, Tulungagung 95.      Edi Al Ghoibi, Tulungagung 96.      Agus Sriyanto, Tulungagung 97.      Moh Ali Shodiq, Tulungagung. 98.      Khoirul Anam, Tulungagung. 99.      Agus Supriadi, Tulungagung. 100.   Moch Faisol, Tulungagung. 101.   Warsito, Tulungagung. 102.   Robet Saifunawas, Tulungagung 103.   Muhammad Fauzi Nur Fuad, Tulungagung 104.   Purwito, Tulungagung. 105.   Achmad Lutfi Nur Huda, Tulungagung 106.   DR. Habib Zaenal Abidin Bil Faqih, Malang 107.   KH Abdul Rachman, PP Hidayatullah, Surabaya 108.   Imam Budi Utomo ST, MM, Ketum JPRMI, Jawa Timur 109.   Hamzah Baya, Jamaah Anshorus Syariah, Jatim 110.   Ustadz Dwi Agus, Gerakan Anti Komunis, Jatim 111.   Indra Rouf, Gamis Jatim 112.   Drs. Ibrahim Rais, PII & PUI, Kediri 113.   Drs. Rahmat Mahmudi, M.Si, Ketua Umum PUI & MKLB, Kediri 114.   Drs. A. Musta'in Syafi'I, Ketua GBN & Sekjen PUI,  Kediri 115.   Ibnu Hasyim,SH,MSi KAMI Jatim 116.   Agus Santoso, Forum Da’i Ekonomi Syariah, Jatim 117.   Habib Idrus Al-Jufry, Presidium PUI, Kediri 118.   M. Karim Amrullah, SH, Presidium PUI, Kediri 119.   Drs. H. Achmad Djunaidi. M.M.Pd. MM, Masyumi Reborn Jatim 120.   Ir Misbahul Huda MBA, Founder Rumah Kepemimpinan Indonesia 121.   Ir HM Yacob Chudory, Ketua Dewas DPP Pribumi Bersatu 122.   Darmayanto, Mantan Anggota DPR 123.   Hasan Busyairi, Aktivis Dakwah, Banyuwangi 124.   Alfiyatussholichah Ssi, MPS, PP. Garda Bumi Putera Nasional 125.   KH.Jurjis Muzammil, Ponpes Al Is'af Klabaan, Penasehat Anshor Sumenep 126.   KH. Drs. Choirul Anam, Surabaya 127.   Ustadz Samsudin SE, MM, Hidayatullah Surabaya 128.   Azhari Dipo Kusumo, Front Anti Komunis Pantura, Jatim 129.   Ir Tontowi Ismail MSc, JMMI, ITS 130. KH. Ali Karrar Shinhaji ( PP Ponpes MISDAT) Pamekasan Madura 131. Drs. KH Ibn Mundzir ( GERAK) Gerakan Rakyat Anti Komunis Jatim                                                                              

    Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3)
    24,092 supporters