Act For Farmed Animals

3,300 supporters

Act For Farmed Animals is a joint campaign run by the NGOs Animal Friends Jogja and Sinergia Animal to improve animal welfare in Indonesia. We believe a better world for animals is possible if we start educating the public about how animals are treated in food production systems.

Started 3 petitions

Petitioning Joko Widodo, Retno Lestari Marsudi, Siti Nurbaya Bakar, Sofjan Djalil, Yasonna Laoly, Dokter Terawan, Agus Gumiwang Kartasasmita, Agus Suparmanto, Syahrul Yasin Limpo, I Ketut Diarmita, Edhy Prabow...

Pemerintah Indonesia : Tolong cegah wabah baru seperti Covid-19 #SebelumTerlambat!

Saat ini kita mengalami salah satu momen yang paling sulit dalam sejarah akibat wabah Covid-19. Wabah ini merupakan sebuah peringatan yang jelas, dan para ahli telah memperingatkan akan ada berbagai wabah serupa dapat bermunculan mulai sekarang. Mari kita bersama-sama memohon kepada pemerintah untuk segera mengambil tindakan mencegah wabah di masa yang akan datang, #sebelumterlambat! Berdasarkan Program Lingkungan PBB  (UNEP) 75% penyakit menular yang muncul adalah zoonosis, yang berarti berasal dari hewan sebelum menginfeksi manusia. Contohnya dalam kasus Covid-19, kemungkinan besar sumbernya adalah kelelawar. Peningkatan munculnya berbagai penyakit baru di seluruh dunia juga berkaitan langsung dengan kesehatan ekosistem dan bagaimana hewan diternakkan untuk untuk kebutuhan konsumsi. Karena alasan ini, kami meminta kepada pemerintah untuk menerapkan beberapa kebijakan di bawah ini untuk mencegah wabah di masa depan:  Hentikan perdagangan hewan liar dan penjagalan hewan hidup di pasar  Hentikan deforestasi  Hentikan perluasan lahan industri peternakan  Tegakkan larangan penggunaan antibiotik non-terapis dan sebagai suplemen makanan pada hewan  Terapkan pelarangan impor hewan ternak  Galakkan sistem pangan yang lebih berkelanjutan 1. Hentikan perdagangan hewan liar dan penjagalan hewan hidup di pasar  Pasar hewan dan perdagangan hewan liar dapat menjadi jembatan bagaimana penularan penyakit terjadi dari hewan ke manusia. Contohnya, kasus awal SARS terjadi karena adanya kontak dengan luwak yang dikurung di kerangkeng di pasar hewan; dan Ebola diyakini menular karena daging gorila yang terinfeksi dikonsumsi oleh manusia. Di Indonesia, masih ada pasar hewan liar  seperti Pasar Beriman Tomohon, Pasar Pinasungkulan di Manado, Pasar Pasty di Yogyakarta, Pasar Satria di Bali, Pasar Depok di Solo dan Pasar burung Jatinegara di Jakarta.  2. Hentikan deforestasi Deforestasi juga meningkatkan risiko munculnya wabah baru karena menyebabkan hewan-hewan liar berada lebih dekat dengan manusia dan hewan ternak. Contohnya, virus Nipah yang sangat mematikan, yang ditangani dengan cepat namun belum cukup cepat karena telah membunuh 100 orang di Malaysia. Itu semua dimulai saat sebuah peternakan babi merambah ke habitat kelelawar liar. Para kelelawar menjatuhkan buah-buahan yang terkontaminasi di peternakan yang kemudian dimakan oleh babi, dan menginfeksi manusia. Selain itu deforestasi juga terus terjadi dalam skala yang mengkhawatirkan. Hutan Amazon yang mewakili setengah dari hutan hujan dunia, dirusak demi produksi kedelai yang kemudian digunakan untuk memberikan makan hewan ternak di Indonesia. 3. Hentikan ekspansi  industri peternakan  Berdasarkan UNEP, industri peternakan merupakan jembatan penyakit antara hewan liar dan manusia. Penyakit mereka seperti flu burung, dapat menginfeksi dan membunuh manusia. Di Indonesia, ribuan ayam ditempatkan dalam kerangkeng yang penuh sesak. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan tidak dapat bergerak atau merentangkan sayap. Sistem imun yang lemah, serta kurangnya diversitas genetik, mempercepat penularan penyakit di antara mereka. 4. Tegakkan larangan penggunaan antibiotik non-terapis dan sebagai suplemen makanan pada hewan Saat ini, 75% dari antibiotik di dunia digunakan pada hewan, paling banyak digunakan pada mereka yang dieksploitasi untuk kebutuhan pangan. Penggunaannya yang tidak bertanggung jawab menciptakan bakteri yang resisten terhadap obat dan dapat menyebar melalui daging, telur, dan susu yang terkontaminasi–atau bahkan tumbuhan dan air yang terkontaminasi oleh limbah industri peternakan.  Sampai saat ini, setiap tahun ada sekitar 700.000 orang meninggal karena resistensi bakteri secara global. Di tahun 2050, PBB memperkirakan resistensi bakteri dapat membunuh lebih dari 10 juta orang tiap tahunnya, angka yang lebih besar dari kanker. Indonesia telah melarang penggunaan antibiotik yang tidak bertanggung jawab untuk hewan, namun penelitian di lapangan menunjukkan masih banyak peternak yang tidak mematuhinya. 5. Larang impor hewan ternak  Selama dua dekade terakhir ini, Indonesia telah mengimpor 6.4 juta sapi dari Australia. Hewan-hewan tersebut menghabiskan berhari-hari, bahkan dalam beberapa kasus sampai dengan berminggu-minggu di ruang yang sempit, dalam kondisi panas atau dingin yang ekstrim, terkadang tanpa akses air bersih, dan tidak dapat beristirahat tanpa resiko terinjak-injak. Kotoran mereka terkumpul selama perjalanan , serta kondisi yang kotor dan sempit, menjadikannya lahan yang sempurna untuk penyakit yang dapat ditularkan dari satu negara ke negara lainya.  6. Galakkan sistem pangan yang lebih berkelanjutan  Sangat mungkin untuk mengubah kenyataan ini, dengan membuat sistem pangan yang berkelanjutan yang tidak bergantung pada peternakan hewan. Mari kita meminta pemerintah untuk membuat kebijakan yang mendukung kita untuk makan yang lebih sehat dan lebih berbasis nabati. Ketika kita mengonsumsi lebih banyak sayur dan menggantikan produk hewani dengan alternatif berbasis nabati, kita bisa meningkatkan sistem imun, melawan perubahan iklim dan deforestasi, dan menghindari kondisi dan dampak yang mengerikan dari industri peternakan serta menghindari wabah baru! Jangan pertaruhkan hidup kita di masa depan, padahal kita tahu cara untuk mencegahnya saat ini. Kita tidak butuh peringatan kedua dari alam. Mari kita desak pemerintah untuk mengambil tindakan sekarang juga. Ikuti gerakan #SebelumTerlambat. Tanda tangani petisi ini dan bagikan kepada teman-teman dan keluargamu untuk masa depan yang lebih aman untuk semua! 

Act For Farmed Animals
820 supporters
Petitioning Kennon Tam, Barry Sum, Michael Hartono, Caroline Djajadiningrat, Bintang Aritonang

McDonald's Indonesia: Hentikan Membeli Telur dari Ayam yang Dikerangkeng!

McDonald telah berkomitmen untuk tidak mendukung praktik kejam ini, serta memikirkan keamanan produk mereka untuk konsumen di Amerika Utara, Amerika Latin, dan Eropa. Tapi tidak di Indonesia! Lebih dari 150 juta ayam di Indonesia hidup dalam kerangkeng untuk menghasilkan telur. Penelitian terbesar yang pernah dilakukan juga menunjukkan bahwa sistem ini (disebut kandang-baterai) buruk untuk keamanan makanan. Karena berpeluang terkontaminasi oleh salmonella 25 kali lebih tinggi dibandingkan dengan peternakan bebas kandang-baterai. Di peternakan industri yang menggunakan kerangkeng, seringkali hewan diberikan antibiotik terus menerus, bahkan ketika mereka tidak sakit. Praktik ini secara langsung bertanggung jawab atas peningkatan bakteri super (superbugs) yang kebal terhadap antibiotik, yang juga dapat membunuh manusia. Tidak hanya mempengaruhi kesehatan kita, tetapi kandang-baterai ini merupakan salah satu bentuk pengurungan hewan paling kejam di dunia. Bayangkan, ayam-ayam ini hidup dalam kerangkeng sempit seluas kertas ukuran A4. Mereka bahkan tidak bisa berjalan atau merentangkan sayap sepenuhnya. Kerangkeng juga membuat ayam kehilangan bulunya dan menyebabkan penyakit tulang yang menyakitkan seperti osteoporosis. Lebih buruk lagi, Mcdonald's menerapkan 'standar ganda', karena telah berkomitmen untuk berhenti membeli telur dari peternakan kandang-baterai di Amerika Utara, Amerika Latin dan Eropa. Tetapi mengapa tidak di Indonesia? Orang Indonesia layak mendapatkan perlakuan yang sama seperti konsumen di negara lain! Bahkan Nestlé, Unilever, Kraft Heinz, dan Mondelez International sudah berkomitmen untuk hanya menggunakan telur dari ayam yang dibesarkan tanpa kerangkeng dalam produk mereka di Asia, termasuk di Indonesia. Mengapa McDonald tidak dapat melakukan hal yang sama? Tidak ada alasan bagi McDonald untuk tidak bergabung dengan gerakan ini, demi manusia dan hewan. Tanda tangani petisi ini dan bagikan dengan semua teman Anda! Petisi ini dibuat oleh Act For Farmed Animals, adalah kampanye bersama yang dijalankan oleh Animal Friends Jogja dan Sinergia Animal untuk meningkatkan kesejahteraan hewan di Indonesia. Klik tombol merah untuk menandatangani!

Act For Farmed Animals
18,616 supporters
Petitioning Kennon Tam, Barry Sum, Michael Hartono, Caroline Djajadiningrat, Bintang Aritonang

McDonald's: Stop using eggs from cage farming in Indonesia!

McDonald's has committed to not support this cruel practice of caging chickens for egg production and instead asks you to think about the food safety of their products which are produced for consumers in North America, Latin America, and Europe. But not in Indonesia, where McDonald's applies far poorer standards! More than 150 million chickens in Indonesia live in cages to produce eggs. The largest research ever conducted on poultry living conditions shows that this system (also called battery cages) is terrible for food safety, as the chance of humans becoming contaminated by bacteria such as salmonella is 25 times higher from chickens raised in a battery cage, than that of a cage-free chicken. On industrial-level farms that use battery cages, animals are often given antibiotics continuously, even when they are not sick. This practice is directly responsible for the increase in super-bacteria (superbugs) that are resistant to antibiotics, which can be deadly to humans.  Not only could this affect our health, but the battery-cage method of raising chickens is one of the cruelest forms of animal confinement known in the world. Imagine, these chickens live in narrow cages which are only as large as a piece of A4 paper. They can't walk, stand fully, or spread their wings completely. These cages can also make these chickens lose or shed their feathers due to stress, and have been known to cause painful bone diseases such as osteoporosis in the chickens contained within. Even worse now, Mcdonald's applies 'double standards', because while they have committed to stop buying eggs sourced from battery-cage farms in North America, Latin America, and Europe, they have not done so for Indonesia. Then why not in Indonesia? Indonesians deserve the same treatment as consumers in other countries! Even Nestlé, Unilever, Kraft Heinz, and Mondelez International have committed to only use eggs from chickens raised outside of cages in their products in Asia, including in Indonesia. So why can't McDonald's do the same thing? There is no reason for McDonald's to not join this movement, for the sake of both humans and animals. Please, sign this petition and share it with all your friends! This petition is done by Act For Farmed Animals, a joint campaign run by the NGOs Animal Friends Jogja and Sinergia Animal to improve animal welfare in Indonesia. Please click on the red box to sign!

Act For Farmed Animals
18,616 supporters