Pak Emirsyah Satar, Hapuskan Surat Pernyataan Bagi Penyandang Disabilitas
  • Petitioned Emirsyah Satar

This petition was delivered to:

Presiden Direktur Garuda Indonesia
Emirsyah Satar

Pak Emirsyah Satar, Hapuskan Surat Pernyataan Bagi Penyandang Disabilitas

    1. Cucu Saidah
    2. Petition by

      Cucu Saidah

      Indonesia

  1.  
  2.   
March 2013

Victory

Setelah dipetisi dan disomasi, akhirnya pihak Garuda Indonesia menghapus "Surat Sakit" atau Form of Indemnity yang diberikan pada penyandang disabilitas yang melepas beban hukum Garuda atas segala hal yang terjadi pada penerbangan. Dan memang benar, saya sendiri telah terbang beberapa kali dalam waktu beberapa minggu terakhir, dan memang tidak lagi disuruh menandatangani surat itu. Hal ini harus diapresiasi! Garuda sangat responsif. tapi ayo kita kawal dan bantu terus, agar perubahan terjadi terus dan berkelanjutan. Masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan untuk memastikan hak akses yang sama bagi semua elemen komunitas penyandang disabilitas.

Saya cinta Garuda Indonesia. 

Tapi saya sering merasa bertepuk sebelah tangan. Penyandang disabilitas sering kali tidak diberikan hak akses dan perlakuan yang sama. 

Contoh, dari gate ke pesawat bis tidak dilengkapi akses disabilitas. Naik tangga ke pesawat pun harus merangkak. Di pesawat, sulit sekali dapat kursi depan. Ini penting untuk akses naik turun pesawat, dan akses toilet. Bayangkan saja, ke toilet terkadang harus merangkak! Bisa digendong, tapi resiko lebih tinggi. 

Tapi yang paling menyakitkan, kami sering dianggap merepotkan bagi kru, sehingga kami diperlakukan kasar. Sebelum naik pesawat, kami disuruh tanda tangan surat “sakit”. Salah satu klausulnya, Garuda tak bertanggung jawab atas kejadian apapun, implikasinya tidak dilindungi oleh asuransi. Ini jelas diskriminasi. Disabilitas bukan penyakit! Saya tolak surat itu, sampai diancam tidak bisa naik pesawat. 

Garuda Indonesia yang katanya “World’s Best Regional Airline” harus membuktikan bahwa mereka layak dapat penghargaan itu.

Setelah saya mulai petisi dan somasi Garuda dengan bantuan YLBHI, mereka merespon cukup cepat. Kemarin dalam rapat di YLBHI mereka pun minta maaf dan berjanji berubah. Ini harus diapresiasi. 

Namun ini harus terus dikawal, sampai mereka benar-benar berubah, dan memperlakukan komunitas difabel lebih baik. Kemarin teman kami Sunarman pulang ke Solo, dan masih disodori surat itu. 

Penyandang disabilitas tidak perlu dikasihani, hanya perlu diberikan hak akses dan perlakuan yang sama. 

 

Terima kasih atas dukungan Anda untuk petisi saya di www.change.org/SupportSaidah.

Setelah petisi ini saya umumkan ke media bersama somasi hukum YLBHI pada 13 Maret, kami mendapat respon cepat dari Garuda Indonesia. Kemarin kami bertemu direksi GIA di kantor YLBHI.

Pada pertemuan itu, mereka serempak meminta maaf dan berjanji untuk:

  • Menghapus pemberlakuan Surat Pernyataan bagi penumpang penyandang disabilitas hari itu juga. Kebijakan tertulis janjinya akan keluar hari ini dan kebijakan ini akan dimasukan dalam SOP (Manual Service).
    • Meningkatkan kualitas layanan yang setara bagi penyandang disabilitas melalui edukasi yang melibatkan penyandang disabilitas yang beragam.
  • Menambah sarana ambulift dan wheelchair accessible van bagi penumpang penyandang disabilitas saat dari atau ke pesawat. Hari ini, van tersebut diresmikan.
  • Memperbaiki layanan dan akses bagi penyandang disabilitas, termasuk info petunjuk, loket, dan petunjuk darurat, dari bandara sampai dalam pesawat dan tiba di bandara tujuan.

  Nah, ini kemajuan penting, dan Garuda harus diberi apresiasi. Tapi, harus terus dikawal. Contoh saja, sahabat saya Sunarman masih harus tandatangani Surat Pernyataan saat perjalanan GA 228 Jakarta-Solo pk 19.00 Wib semalam. “Sebelum ada perintah tertulis, kami tak mau ambil resiko” kata Maman meniru ucapan petugas.

Karena itu ayo kita kawal, awasi dan laporkan setiap kejadian yang tak sesuai janji. Caranya?

1. Ajak siapa saja untuk paraf dan sebar petisi, bila perlu beri komentar. Setiap tandatangan membuat petisi terkirim ke Garuda.
2. Tweet @IndonesiaGaruda ( https://twitter.com/IndonesiaGaruda), dengan apresiasi dan penagihan janji. Kalau ada yang tidak sesuai janji, sertakan foto, copy boarding pass dan keterangan kejadian.
3. Dukung somasi hukum YLBHI.

Kronologi rinci dari peristiwa sebelumnya:

Saya mencintai maskapai penerbangan negeri sendiri, Garuda Indonesia. Tapi apa yang saya terima saat beperjalanan sejak 2005, membuat saya kecewa dan harus bersuara keras. Agar penumpang lain, tak ikut dirugikan. Juga agar Garuda memperbaiki layanan ke penumpang, termasuk tidak mendiskriminasi penumpang dengan kebutuhan khusus seperti saya, pengguna kursi roda. 

Rasa kecewa ini berawal saat saya berperjalanan 25 September 2011, Cengkareng – Makassar, GA610, Class Y, Seat 9D, boarding pukul 14:00 Wib. Dua hari sebelumnya saya menelpon layanan online GIA, memesan kursi di baris depan untuk memudahkan kaki kiri saya yang tak sampai ke lantai. Jawabannya “itu bisa dilakukan saat check in.” 

Permintaan ini saya ulangi saat check in, 25 September. Dengan nada ketus petugas tak memenuhinya. Saat diminta menunggu di Help, saya dibiarkan lebih dari 30 menit. Beberapa petugas asik bergurau. ‘Kapan akan dilayani?’ tanya saya. ‘Tunggu ya bu, kami sedang sibuk.’

Karena terlalu lama, saya protes. Tapi diacuhkan. Mereka tetap asik bergurau dan sibuk dengan ponsel.  Hingga ada petugas menyodorkan surat keterangan penumpang sakit. Salah satu klausulnya, maskapai Garuda tak bertanggung jawab atas kejadian apapun, implikasinya tidak dilindungi oleh asuransi. Surat harus ditandatangani 4 rangkap berikut materai 6000 tetapi harus dibayar 10000. Saya menolak secara halus. Petugas bersikukuh sampai mengancam saya tidak diijinkan naik pesawat. Saya marah, menelpon Komnas HAM dan organisasi penyandang disabilitas. Mereka menguatkan saya bahwa isi surat bersifat diskriminatif.  Akhirnya saya dibolehkan berangkat tapi perlakuan petugas sangat tidak ramah. 

Kekecewaan kedua dipicu perjalanan 28 Oktober 2011, tujuan Jogja – Cengkareng, GA217, Boarding 19:40, class Y, seat 5D. Saya menunggu kursi roda yang tak ada di pintu pesawat. Sebagai penerbangan malam, ternyata tidak ada Garda Barata saat mendarat. Awak pesawat tampak acuh saat lewati saya yang saat itu sudah menunggu kursi roda lebih dari 15 menit, semua penumpang turun dan pergi naik bis transit bandara. 

Kekecewaan bertambah lagi saat berperjalanan 24 Mei 2012, dari ogja – Cengkareng, GA0213, Class Y, Seat 5E, boarding pukul 15:15 Wib.  

Ketika check in di Jogjakarta, petugas saya anggap sudah mulai mengerti karena tak meminta saya untuk menandatangani surat sakit. “Apakah ada barang yang akan dimasukkan dalam bagasi?” Kebetulan saat itu tak ada. Petugas memberi tag number untuk kursi roda pribadi saya. Saya meminta petugas tersebut untuk memastikan kursi roda pribadi bisa saya gunakan sampai depan pintu pesawat, juga saat sampai di bandara tujuan. Petugas check in menjanjikan untuk mengirim telex ke cabin crew. Guna memastikan, kursi roda diberi 2 tags khusus yaitu ‘priority’ dan ‘executive class’. Koordinasi ground staff lancar hingga boarding

Setelah duduk di kursi pesawat, saya kembali mengingatkan pada seorang pramugari yang saat itu bertugas (lagi lagi saya lupa untuk mengingat namanya). Saya berkata ‘tolong kursi roda pribadi saya siap didepan pintu pesawat ketika sudah mendarat’. Pramugari itu hanya berkata ‘ saya akan informasikan’ yang ternyata dia menginformasikan kepada ketua regu flight attendants. Saya mendengar apa yang diucapkan oleh kepala regu itu ‘terserah nanti pesawat parkirnya dimana, jika ada gardabarata mungkin bisa. Tetapi jika tidak, maka akan disiapkan mobil kecil’. Ucapan seperti itu sudah satu bentuk pelecehan verbal. Saat itu saya sudah merasa tersinggung. Dia menganggap kursi roda saya hanyalah barang pada umumnya. Padahal bagi saya, kursi roda yang saya gunakan adalah bagian dari anggota tubuh saya, bagian dari kaki saya dimana mobilitas saya sangat tergantung pada kursi roda ini. 

Ketika pesawat mendarat, seluruh penumpang turun, tak satupun pramugari yang informasikan ke saya apakah kursi roda sudah siap atau belum. Bahkan cabin crew sudah bersiap meninggalkan pesawat. Saya berujar ‘saya masih disini, tolong ambilkan tas saya yang masih diatas, bagaimana dengan kursi roda saya?’. Sang kepala regu meminta pramugari mengambilkan. Pramugari lain mengatakan kursi roda sudah ada. ‘Apakah itu kursi roda saya?’ Lalu dijawab ‘saya tidak tahu, tapi ini sudah ada kursi rodanya’. Saya keluar. Tapi betapa kecewanya kursi roda maskapai yang disiapkan ternyata kondisinya sudah tidak layak. Saya protes ‘mengapa bukan kursi roda pribadi saya? Mana kursi roda saya?’ Petugas groundmengatakan ‘kursi roda ibu ada di bagasi’. ‘Loh kenapa di bagasi, bukankah saya sudah minta berkali kali agar kursi roda saya siap didepan pintu pesawat?’ kembali saya kecewa ketika ketua regu berkata ‘aturannya tidak boleh bu’. Mendengar itu, saya menanyakan ‘aturan darimana? Bagaimana jika kaki anda yang diperlakukan seperti ini?’ Dia malah berbalik tidak sopan dengan bahasa tubuh dan gerakan tangan yang seolah mengusir saya sambil berkata ‘silahkan ibu complain ke Garuda’. “Loh, bukankah anda dari Garuda?” 

Saya mengalah, lalu menggunakan kursi roda tak layak pakai. Petugas ground yang saat itu membantu mengatakan bahwa lift tidak bisa digunakan karena sedang renovasi. Saya dibawa keluar melewati pintu keberangkatan dan kembali ke pintu kedatangan tapi dari arah berlawanan. Sesampainya di depan baggage claim, kursi roda saya ada di depan counter executive baggage. Setelah saya periksa, rem sebelah kiri saya bengkok! Ring salah satu roda besar saya juga banyak cacat goresan! 

Saya membuat complain mengenai perlakuan kepala regu dan kerusakan kursi roda saya. Saya meminta untuk direspon oleh Garuda tidak lebih dari 24jam. Saat itu waktu menunjukan pukul 17:30, padahal pesawat landed pada pukul 16:40. Para petugas di counter claim tidak dapat menjanjikan apapun. 

Cerita ini memang panjang. Tapi saya masih ingin mengemukakan kekecewaan yang terakhir. Hari itu, Jumat, tanggal 25 Mei 2012 pukul 14:06, saya ditelpon suami yang mengatakan bahwa ada petugas dari Garuda yang akan reparasi kursi roda. Petugas datang sendiri menggunakan motor, begitu katanya. Lalu saya bicara langsung dengan petugas tersebut lewat handphone suami. Cara bicara petugas terdengar tidak profesional; “Halo bu saya teknisi dari Garuda mau betulkan wheelchair ibu, kapan ibu tidak pake wheelchair-nya supaya bisa saya bawa untuk reparasi?” Saya menjawab “Mas, saya itu pengguna kursi roda. Saya berjalan memakai kursi roda. Jika mau bawa kursi roda saya lalu saya berjalan dan mobilitas saya pake apa? Kursi roda itu kaki saya, Mas, bukan barang yang bisa seenaknya dibongkar pasang.” Petugas itu balik bertanya “terus ibu maunya apa, solusinya gimana?” Saya jawab “Saya mau Garuda bertanggung jawab dengan mengembalikan kondisi kursi roda saya. Mas datang saja ke kantor saya untuk temui saya, lihat kondisinya, jika Mas sudah siap dengan tools-nya mungkin bisa dibetulkan di kantor saya”. Petugas itu kembali menyela “saya bukan teknisi wheelchair, Bu, saya teknisi koper”. Saya berkata “Loh, bagaimana ini, yang rusak kursi roda tetapi mengapa dikirim teknisi koper? Mas temui saya saja dulu di kantor, saya tunggu ya, alamatnya sudah saya SMS via handphone suami saya ini”. 

Pukul 15:00 petugas yang mengaku teknisi dari Garuda itu datang ke kantor menemui saya. Petugas yang datang ternyata jauh dari dugaan saya bahwa petugas Garuda adalah orang yang berpenampilan sopan, rapi, bersih, dan berkata santun layaknya melayani pelanggan. Petugas hanya menggunakan kaos oblong lusuh, celana jeans lusuh dan sobek, beralas sandal, tidak mengenalkan diri, langsung berkata “Mana yang rusak, Bu?” Saya menunjukan bagian kursi roda yang rusak. Kembali dengan nada tak sopan, petugas berkata “Ini sih gampang aja, Bu, saya copot biar saya bawa ke sana, cuman kaya gini doang”. Saya berkata “Mas, berapa kali saya bilang, ini adalah bagian dari kaki saya, mana mungkin mas bisa seenaknya mengambil bagian ini begitu saja, kalau rem ini dilepas satu bahaya untuk saya.” Debat antara saya dan petugas memuncak, sampai dia berkata “Saya bukan orang Garuda, saya teknisi koper yang dikirim Garuda di bandara Cengkareng”. Mendengar itu saya memintanya kembali untuk menyampaikan pesan bahwa yang diperlukan adalah teknisi wheelchair bukan teknisi koper. 

Pukul 15:36 saya menelepon claim counter bandara Cengkareng, saya bicara dengan petugas claim bernama Anna. Saya melaporkan kejadian dengan petugas teknisi Garuda yang baru saja terjadi. Anna meminta saya untuk berbicara langsung dengan supervisor-nya saat itu. Dia meminta saya untuk memutus telpon saya dulu dan dia akan telepon balik pada saya.

Anna berjanji akan menghubungi saya kembali untuk berbicara dengan supervisornya. Sampai hari Selasa tanggal 29 Mei 2012 pukul 14:30 ini saya tidak pernah dihubungi oleh pihak Garuda.

 

Recent signatures

    News

    1. Reached 1,500 signatures
    2. Dianggap Bersikap Diskriminatif, Garuda Indonesia Minta Maaf ke Cucu Saidah

      Arief Aziz
      Communications Director, Indonesia
    3. Reached 250 signatures
    4. Pers Conference, 13 March at 2pm in YLBHI Jl. Dipenogoro No. 74, Jakarta

      Cucu Saidah
      Petition Organiser

      For those of you who would join, please come at least at 10 earlier to discuss the strategy for advocating the case to media.
      ------------------------------------------------------------------------------------------
      Bagi yang turut berpartisipasi, mohon bisa hadir jam 10 untuk menentukan strategi advokasi didepan media nanti.

      sampai jumpa besok/ see you tommorrow

    5. Reached 100 signatures

    Supporters

    Reasons for signing

    • halim sahadhi JAKARTA, INDONESIA
      • about 1 year ago

      semua berhak mendapat pelayanan

      REPORT THIS COMMENT:
    • Hotler Pasaribu JAKARTA, INDONESIA
      • about 1 year ago

      Mendidik moral bangsa yang sudah semakin parah.

      REPORT THIS COMMENT:
    • budi susandi INDONESIA
      • about 1 year ago

      penting untuk keharmonisan bangsa

      REPORT THIS COMMENT:
    • jochanes wins SALATIGA, INDONESIA
      • about 1 year ago

      mereka berhak di perlakukan yang sama dengan kita semua

      REPORT THIS COMMENT:
    • Muh. Sonny Sandra INDONESIA
      • about 1 year ago

      Untuk melawan diskriminasi yang dilakukan maskapai-maskapai penerbangan di Indonesia terhadap penyandang disabilitas

      REPORT THIS COMMENT:

    Develop your own tools to win.

    Use the Change.org API to develop your own organising tools. Find out how to get started.