Perbekel Desa Luwus & Bendesa Adat Luwus, Baturiti, Tabanan, Bali Tolong STOP PREMANISME BERKEDOK ADAT BALI!
  • Petitioned Perbekel Desa Luwus & Bendesa Adat Luwus

This petition was delivered to:

Perbekel Desa Luwus & Bendesa Adat Luwus

Perbekel Desa Luwus & Bendesa Adat Luwus, Baturiti, Tabanan, Bali Tolong STOP PREMANISME BERKEDOK ADAT BALI!

    1. Armand Setiawan
    2. Petition by

      Armand Setiawan

      Denpasar, Indonesia

“Kita Ingin Bali bebas, atau ingin Bali merdeka? Kalau kita memang ingin Bali sekadar bebas, berarti kita semua boleh bebas melakukan apa saja. Tapi kalau kita memang ingin Bali merdeka, berarti kita sudah merdeka bersama daerah – daerah lain di NKRI ini sejak 17 Agustus 1945. Merdeka artinya bebas secara baik & bertanggung jawab, bukan sebebas – bebasnya tanpa kebaikan dan kebertanggung-jawaban. Kebaikan paling dasar bagi kita warga NKRI ini adalah kebaikan yang tidak bertentangan dengan semangat Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, NKRI. Wawasan Nusantara, ‘Tat Twam Asi’. Iman – Amal – Aman – Amin”
Mr Joger 30 Maret 2013

STOP PREMANISME BERKEDOK ADAT BALI!

Menyimak hal yang terjadi dengan Teman Joger Luwus 11 Maret 2013, dan Tulisan Tjokorda Bagus Putra Marhaendra di Bali Post Selasa Wage 26 Maret 2013 (Halaman, 6) “Jangan Ada ‘Premanisme’ Berkedok Adat Bali.

Kami segenap keluarga Joger yang sama seperti ‘Anda’ mencintai Bali dan NKRI, ingin segera diadakan sebuah tindakan nyata dalam rangka membersihkan Br Adat Luwus dari Preman yang memeras, memfitnah, mengintimidasi, dan menekan dengan ancaman – ancaman. Yang membuat iklim investasi di Desa Luwus menjadi tidak bergejolak, dan membuat kerugian yang harus diderita oleh banyak pihak yang sudah menggantungkan nasibnya di Teman Joger, seperti para tetangga pengusaha yang sudah mem-PHK karyawannya karena sepinya pengunjung.

Seharusnya Br Adat menjadi Tameng Budaya Bali, bukan malah jadi pemeras dan membuat warganya harus menderita, melalui aturan – aturan adat yang dibuat sendiri.

Dan kalau memang telah terjadi kesalah pahaman, kami harap mereka yang ‘salah’ (berlawanan dengan hukum, dan aturan Adat Bali) yang segera memperbaiki diri. (Kok Tamiu – Investor disikapi dan diperlakukan layaknya ‘Kelinci Percobaan’ untuk mengubah tatanan yang sudah ada (Bali Mawacara), dan kemudian dijadikan ‘Kambing Hitam’ dengan disebarkan fitnah/gossip negative/ dan dijelek – jelekan, sehingga bisa dijadikan ‘Sapi Perahan’.

“Kontribusi adat ini menjadi model yang sering diikuti oleh kelompok adat lainnya dan dijadikan sebagai suatu keharusan. Sampai ada yang ditakut-takuti oleh oknum adat bahwa kalau tidak berkontribusi, rumahnya atau usahanya akan ''diurug''. Padahal yang namanya kontribusi adalah pemberian tulus ikhlas yang tidak mengikat. Karena itu, tidak etis pemberian bantuan ditentukan besarannya oleh yang menerima bantuan. Manakala kontribusi adat dijadikan sebagai keharusan bagi pendatang dan pengusaha, maka nilai keikhlasannya hilang. Lalu bagaimana memaknai upacara agama yang bersumber dari cara-cara seperti itu, apakah masih bisa disebut sebagai yadnya?” Tjokorda Bagus Putra Marhaendra 2013.

Triliunan rupiah digelontorkan dalam rangka menarik investor masuk ke Indonesia, agar dapat menyerap tenaga kerja sehingga NKRI bisa maju. Namun sangat disayangkan ternyata investor seperti Pak Joger yang sudah terbukti Baik, malah dipecundangi guna dapat diperas. Sangat memalukan sekali ulah oknum – oknum di Br Adat Luwus, Baturiti,Tabanan, Bali, Indonesia!

Sebagian kecil kegiatan Pak Joger dengan NSM GARING nya, (Data dari tahun 2000)
• 14 X melakukan GARING 1000 Paket, akhir tahun.
• Mengunjungi Rumah Sakit, dan membantu keluarga pasien miskin:

• - RSU Tabanan 16 x
- RSU Sanglah 14 x
- RSU Wangaya 5 x
- RSU Klungkung 7 x
- RSU Bangli 6 x
- RSU Karangasem 3 x
- RSU Jembrana 3 x

• Kerja bakti membersihkan sampah plastic di seluruh Bali. 46 x
• Penghijauan 26 x
• Memberikan beras kepada Abdi Masyarakat 10 X
• Bantuan tempat sampah sebanyak 152 tong sampah.
• Menyediakan tempat pijat untuk 10 Tuna Netra. ‘GARBUGAR’
• Dan sejauh ini baru 31 bedah rumah sederhana, diseluruh Bali.

_____________________________________________________________________________________________
Joger mulai merangkak sejak 19 Januari 1981 dengan alasan supaya pak Joger tidak menjadi penganggur di negeri yang indah dan sama – sama kita cintai ini, Yang dalam perkembangannya dan kesehariannya Pak Joger selalu menjaga nama baik Pabrik Kata – Kata Joger, sehingga orang tetap dan mau secara ikhlas percaya kepada Pabrik Kata – Kata Joger. Dari yang tadinya bersifat ‘door to door’, hingga bisa membuka TEMAN Joger di Luwus, Baturiti, Tabanan.

Sejarah singkat Teman Joger Luwus,
Pak Joger sering melewati desa luwus, dan sejak tahun 2006 melihat Plang (Iklan) Dijual Tanah, setelah beberapa kali melihat tulisan itu (Tanahnya belum laku) maka pak Joger memberanikan diri untuk menghubungi nomer telephone yang tertera di Plang ‘Dijual’ tersebut. Setelah mendapat informasi seputar harga tanah tersebut Pak Joger menghubungi dan bertemu dengan Pejabat Setempat yang diwakili oleh Perbekel Bpk I Made Balaputra selaku lurah Desa Luwus pada saat itu. Sambutan dari beliau sangatlah baik. Adapun setelah ditanya oleh pak Joger perihal syarat untuk masuk dan berinventasi di Desa Luwus. Kemudian muncul 2 syarat dari kelurahan;

1. Penandjung Batu – Rp 750.000
2. 40% dari anggota keluarga Teman Joger ‘wajib’ berasal dari Luwus.

Syarat pertama memang tidak menjadi permasalahan, namun syarat yang kedua ditolak langsung oleh Pak Joger, karena Pak Joger selaku orang ‘Merdeka’ tidak suka dan tidak mau untuk diwajibkan, namun Pak Joger juga berpesan jangan kami juga dilarang – larang untuk menerima anggota keluarga. Kemudian pada tanggal 29 Nopember 2007 dimana secara formal diterima oleh Desa Luwus. Setelah semua syarat sudah terpenuhi, maka proses pencarian Ijin Membangun Bangunan (IMB Nomer : 067 / KPMD / 2008) dilakukan, dan setelah mengantongi Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) Nomer : 517/ 586 / PM / BPMD, Tanda Daftar Perusahaan – Perusahaan Perorangan (TDP) Nomer : 220755201745, dan Juga Surat Ijin Tempat Usaha (SITU) Nomer : 5361 / 645 / BPMD, maka kami memberanikan diri untuk membangun guna menjadi tempat di Luwus sebagai TEmpat penyaMAN (TEMAN) Joger.

Namun pada tanggal 6 Maret 2010, 7 bulan setelah exist di Luwus, Segenap Prajuru Adat yang memutuskan ‘Putusan Krama Banjar Adat Luwus, Desa Luwus, Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan tentang Pungutan / Kontribusi Bagi Pegusaha / Investor Pemilik Lahan / Tanah yang ada di Banjar Adat Luwus’ yang dimana Joger dikenakan Dana Punia sejumlah Rp 1.500.000 perbulan yang setelah di cross check ke anggota keluarga kami yang berasal dari Luwus, ternyata, mereka sama sekali tidak dilibatkan ketika terjadi paruman memutuskan retribusi kepada Teman Joger. Namun karena memang niatnya untuk berpunia, kemudian anjuran dari masyarakat Luwus yang bergabung di Teman Joger adalah cukup dengan Rp 500.000 per bulan saja, yang kemudian oleh Pak Joger dinaikkan menjadi Rp 750.000 per bulan. Dan Br Adat berjanji bahwa dengan menyumbang Rp 750.000 per bulan tidak akan ada lagi permohonan sumbangan dari wilayah Luwus. (Adapun surat keputusan tersebut ditanda tangani oleh Kelihan Dinas Luwus Bpk I Wayan Tirtayasa, Kelihan Adat Luwus I Made Tarik, dan diketahui oleh Bendesa Adat Luwus Bpk I Wayan Ginada, yang kemudian diteruskan kepada Camat Baturiti, Perbekel Luwus)

Pada tanggal 23 Agustus 2012, ketika anggota keluarga Teman Joger mencari 12 tanda tangan ‘Penyanding’ dari 11/12 Penyanding hanya SD No 3 Luwus yang tidak mau secara langsung dan ikhlas menanda tangani ijin penyanding, dan kami diperlakukan seperti Bola Pingpong, ketika bertemu dengan Kepala Sekolah, Kepala Sekolah menolak untuk memberikan tanda tangan dengan alasan Komite Sekolah belum sepakat, kemudian ketika ketua komite dicari, beliau juga menolak untuk berkomentar dikarenakan sedang sibuk upacara di Pura, kemudian ketika kami mencari Perbekel / Kepala Desa Luwus pada jam kerja, di kantor kepala Desa Luwus, tapi ternyata tidak ada satupun orang disana, bahkan kantor kepala desa terkunci. Dengan iktikad baik kami menghampiri rumah tinggal Perbekel / Kepala Desa Bpk I Nyoman Sutarsa, adapun tanggapan dari Perbekel sama seperti yang lain. Ketika kami sampaikan bahwa kami ingin taat terhadap hukum positive NKRI dan melanjutkan untuk beraktivitas kembali di Luwus, namun ada segelintir pihak yang tidak mau menandatangani penyanding tanda tidak setuju Joger tidak melanjutkan aktivitasnya di Luwus, namun karena tidak adanya kepastian malahan kami diarahkan untuk tidak taat hukum positive NKRI, yang membuat kami sempat berencana untuk menutup TEMAN JOGER, adapun tanggapan dari Perbekel Bpk I Nyoman Sutarsa: ‘Silahkan, itukan perusahaan Anda’ & ‘Tanah yang anda pakai itu dulunya adalah Tanah Leluhur saya” (Kenapa kok dijual? Bukankah ini namanya jebakan? Investor ditawari membeli tanah, ketika sudah membangun dan beroperasi, baru mulai dikerjain / jahili)

Pada tanggal 16 September 2012 yang dikirim pada tgl 3 November 2012 satu minggu setelah ijin usaha kami berakhir) keluar surat tulisan tangan Anggota Komite SD 3 Luwus Bpk I Ketut Lendra yang juga menjabat Sekretaris Desa Luwus, dan juga salah satu orang dari prajuru adat yang berjanji tidak akan ada sumbangan lain lagi dari Luwus, ‘berita acara rapat Komite tentang Joger, yang dimana isi keluhan tersebut kami anggap mengada – ngada antara lain:
1. Parkir Joger Yang Mengakibatkan Macet – Adapun kami sudah mengantisipasi maka oleh karena sebab itu, kami membuat lapangan parkir khusus pengunjung yang 2.5x Lebih besar dari pada showroom kami. Dan untuk yang parkir di sepadan jalan itu diatur langsung oleh pecalang Br Adat Luwus, yang dikenakan retribusi Rp 10.000 per bus.
2. Sampah, kami sempat dituduh oleh Bpk Ketut Lendra telah membuang sampah didepan SD No 3 Luwus. Adapun kami minta untuk segera dibuktikan kebenaran omongannya atau kami akan segera menuntut Bpk Ketut Lendra telah mencemarkan nama baik kami. Kemudian Bpk Ketut Lendra berkeberatan NSM Garing menaruh tempat Sampah di Depan Halaman SD No 3 Luwus. Adapun pemasangan itu sudah dilakukan pada tgl 17 Agustus 2010 dan tidak pernah ada yang mengeluhkan. Keputusan kami perihal permasalahan ini adalah mencabut tempat sampah tersebut yang kemudian kami perbaiki dan taruh di depan Br Luwus. Setelah kami melakukan hal tersebut kembali Bpk Ketut Lendra menanyakan (melalui salah satu anggota keluarga kami di Teman Joger) kenapa tempat sampahnya dicabut? Mungkin secara Psychology Bpk Ketut Lendra ini mengalami gangguan kejiwaan yang disebut Double Personality, atau Dementia.
3. Gangguan Suara – Adapun tradisi yang kami bawa dari Kuta ke Luwus adalah upacara penyambutan tamu – tamu kami yang datang dari segala penjuru. Kami sambut dengan sambutan sederhana menggunakan alat – alat music traditional seperti tek – tekan (bamboo kentungan) dan gong. Namun pihak sekolah yang selama ini tidak pernah complaint malah menuliskan keluhannya. Adapun setelah diadakan pertemuan kami sepakat untuk melakukan sambutan yang berisi banyak suara tersebut diluar jam belajar SD No 3 Luwus, sehingga tidak perlu sampai mengganggu proses belajar dan mengajar.
4. Adanya sisa bangunan yang jatuh ke SD No 3 Luwus – Memang benar adanya jatuhnya puing – puing, kerikil dan semen. Namun itu bukan merupakan tujuan dari kami, melainkan excess dari pembangunan. Namun sangat disayangkan walaupun kami sempat mengotori pekarangan SD No 3 Luwus, tetapi tidak ada satu point point positive yang menyatakan bahwa kami juga sudah membersihkan dan memperbaiki pekarangan SD No 3 Luwus.
5. Ketika terjadi kebocoran yang berakibat merembesnya air ke SD No 3 Luwus, Pihak Tukang Kami yang juga warga Lokal segera memperbaiki sumber masalah dan menggali lubang peresapan, sehingga anak – anak SD No 3 Luwus tidak perlu mengalami kecelakaan. Namun kami dituduh melangkahi pekarangan orang dan menaruh barang – barang yang bisa membahayakan mereka.
6. Kami dituduh tidak tanggap akan kebutuhan mereka, ketika mereka memperbaiki sekolah, kembali Bpk Ketut Lendra beserta rekan – rekan di Komite Sekolah memohon bantuan untuk itu (Padahal melalui perangkat Br Adat Luwus Bpk Ketut Lendra berjanji tidak akan ada lagi permohonan sumbangan dari wilayah Desa Luwus) kemudian dari Pihak Joger memohon untuk segera dibuatkan proposal sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan kami. Namun sampai hari ini surat itu tidak pernah muncul di kami, walaupun memang sudah dikirim ke kami, kami mohon untuk segera ditunjukan tanda terima nya.

Setelah pembahasan 6 keluhan tersebut dilakukan, kembali muncul surat dari Bpk Ketut Lendra yang diserahkan kepada Sukada (anggota keluarga kami) sambil setengah mengancam. Isi surat tersebut sebagai berikut:
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hasil Keputusan Rapat Komite SDN 3 Luwus – Tentang Joger Hari / Tgl : Sabtu 03 – 11 – 2012 (2 Bulan setelah ijin kami berakhir)

Mengingat Joger beraktipitas diwilayah Luwus dan berdampingan dengan SD Negeri Nomer 3 Luwus, kami sangat memohon perhatian dan komitment Joger terhadap sekolah, mengingat Sekolah memiliki berbagai keperluan yang tidak bisa dijangkau karena minimnya pendanaan yang ada.
Untuk bisa sama – sama jalan dengan baik, maka ada beberapa permohonan dari pihak Komite dan Sekolah tentang Komitment Joger terhadap Sekolah antara lain:
1. Pembiayaan perayaan Saraswati Rp 2.000.000 / Tahun
2. Biaya Kenaikan Kelas Rp 5.000.000 / Tahun
3. Perayaan hari – hari Nasional Rp 2.000.000 / Tahun
4. Pembiayaan dana prestasi anak Rp 750.000 / Tahun
Jumlah: Rp 9.750.000 / Tahun
5. Transportasi untuk antar anak pulang sekolah karena sekitar sekolah transportasi sering macet shg anak sulit nyebrang jalan.
6. Kami belum punya Pegawai Administrasi mohon dibantu dananya agar bisa usahakan tenaga administrasi.
7. Perpustaakaan sekolah belum ada, mohon dibantu pengadaannya.
8. Bangku dan kursi anak sejumlah 70 set.

Demikian permohonan kami dari pihak Komite, Kelihan Br Adat, Kelihan Br Dinas dan Sekolah untuk dapat dibantu sehingga surat permohonan ijin dan segera ditanda tangani.

Surat ini ditanda tangani oleh mereka yang hadir antara lain.

1. I Wayan Widia (Ketua Komite)
2. I Ketut Lendra (Anggota Komite)
3. I Made Tarik (Kelihan Br Adat)
4. I Wayan Tirtayasa (Kelihan Br Dinas)
5. I Wayan Arta (Anggota Komite)
6. I Gst Ngr Widarma (Anggota Komite)
7. I Wayan Surna (Anggota Komite)
8. Ni Wayan Arnati (Kepala Sekolah)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dengan munculnya 2 surat edaran tersebut kami merasa adanya upaya pemerasan dari Oknum – Oknum yang berkedok Komite Sekolah, maupun aparat desa, atau mereka yang merangkap jabatan, guna mencari dana dengan cara kuno yaitu; menekan, memfitnah, menyebarkan berita yang mengada – ada dan mencemarkan nama baik, agar mereka bisa meperas kami. Melalui kuasa hukum kami di Basudewa Law Firm kami menempuh jalur formal (hukum) untuk mensomasi 8 penanda tangan surat - surat resmi tersebut. Yang kemudian (karena disomasi, mereka serentak meminta maaf atas pencemeran nama baik, dan pemerasan) secara terpisah membuat surat permohonan maaf bermaterai, kecuali Bpk Ketut Lendra yang merasa bahwa dirinya benar dan tidak memfitnah maupun memeras Teman Joger. Pendekatan sudah ditempuh melalui mediasi sosial warga Luwus namun tetap saja buntu. Bpk Ketut Lendra tetap tidak mau mengakui kesalahannya yang fatal tersebut.

Keterlambatan SD 3 Luwus menanda tangani ijin penyanding membuat proses ijin usaha TEMAN JOGER terlambat, walaupun terlambat, tetapi semua syarat untuk pengajuan perpanjangan ijin usaha sudah terlengkapi dan sesuai procedure, sehingga ijin usaha Teman Joger dikeluarkan tanpa adanya ‘cacat’ hukum. (Dari pihak perijinan Kabupaten Tabanan ketika mengetahui adanya kekurang tanda tangan penyanding, mereka malah menawarkan ‘Bypass’, namun oleh pihak Teman Joger menolak tawaran ‘bypass’ tersebut)

Kami heran, selama 5 tahun berada di luwus (Sejak proses pembelian tanah, membangun, hingga melayani tamu dari segala penjuru) tidak ada satupun tetang (kanan, kiri, depan, maupun belakang) tidak ada yang meminta ijin penyanding oleh pak Joger maupun Teman Joger Luwus? Sungguh aneh tapi nyata.
_____________________________________________________________________________________________
Tanggal 22 September 2013 Br Adat Luwus mengadakan Paruman (yang menurut informasi hanya dihadiri oleh 30an orang) membahas surat edaran tertanggal 6 Maret 2010 tentang pungutan / kontribusi bagi pengusaha yang berada di wilayah Br Adat Luwus. Yang dimana setelah kurun waktu 2 tahun 8 bulan ternyata kebutuhan MeYadnya (Upacara KeAgaman) Br Adat Luwus mendadak meningkat menjadi Rp 122.800.000 (Seratus Dua Puluh Dua Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah) sehingga diputuskan sebagai berikut:
1. Iuran / Pungutan pengusaha dinaikan sesuai dengan kondisi dari pengusaha bersangkutan.
2. Kenaikan dari Rp 750.000 menjadi Rp 1.500.000 untuk Teman Joger.
3. Perincian Anggaran Belanja Br Adat sejumlah Rp 122.800.000
4. Keputusan ini berlaku mulai 1 Januari 2013.

Surat ini ditanda tangani oleh:

1. I Nyoman Sukarta SP (Sekretaris)
2. I Made Tarik (Kelihan Adat)
3. I Wayan Tirtayasa (Kelihan Dinas)
4. Drs I Wayan Jedaryana (Bendesa Adat)
5. I Nyoman Sutarsa (Kepala Desa Luwus)
Sejak kapan Dana Punia yang bentuknya sukarela ditentukan
oleh mereka yangmeminta sumbangan?

Adapun hasil keputusan kembali tidak kami terima karena
1. Tidak adanya kejelasanya dasar hukum pungutan ini. Kenapa mereka yang membuat rencana pengeluaran, tetapi kami (pengusaha / investor) yang harus menanggung pengeluaran tersebut.
2. Pengeluaran Br Adat dipakai sebagai tolak ukur sumbangan, Namun kalau memang yang namanya sumbangan itu di itung berdasarkan ke-ikhlasan, maka pak Joger memberikan 100kg beras yang di rupiahkan, sehingga jika inflasi menjadi salah satu acuan maka harga beras lah yang kelihatannya dipakai acuan, seperti kebanyakan Br Adat di Bali. Selain fair, juga kami tidak perlu untuk terus-terusan berbeda pendapat.
3. Cara permohonan penarikan sumbangan / iuran ini sangat tidak Ajeg Bali. Dimana kebenaran jika sebuah sumbangan mengacu kepada pengeluaran Br Adat. Lalu apakah nanti ketika mereka mengadakan paruman dan memutuskan untuk membangun sebuah Airport, apakah layak dan pantas untuk kami keluarga Joger kembali dibebankan.

Padahal kami (JOGER) sudah memberanikan diri berinvest di daerah yang (konon) belum terkbukti kompetent, Kami adalah penyumbang pemasukan daerah melalui membayar pajak PBB, PPH, PPN yang sering sekali membuat Pak Joger dituduh sebagai pembayar pajak terbaik untuk wilayah NTB. Dikarenakan keputusan itu terasa sepihak, (Tanpa melibatkan atau menanyai perihal perubahan keputusan yang sebelumnya sudah disepakati oleh Pihak Teman Joger dan Br Adat Luwus).
per tanggal 1 Januari 2013 TEMAN JOGER mengubah pola menghitung sumbangan yang tadinya Rp 750.000 menjadi 100kg beras C4 yang kemudian setelah dihitung bentuk rupiahnya adalah Rp 800.000. Yang telah diterima oleh Br Adat Luwus setiap bulan Januari dan Februari 2013 sejumlah Rp 1.600.000.

Pada tanggal 7 Maret 2013 Bpk I Made Tarik Kelihan Adat Br Adat Luwus mengundang Pak Joger dan seluruh perusahaan yang ada Wilayah Br Adat Luwus untuk datang :
Hari Jumat 8 Maret 2013
Jam 9:00 Wita
Di Balai Banjar Adat Luwus

Ketika pak Joger mencoba menjelaskan / bertukar pikiran tentang posisinya sebagai Tamiu di Br Adat Luwus, malah sering sekali dipotong, dan diminta memilih Mau Ikut Atau Tidak mendukung keputusan Paruman yang dihadiri oleh 30 orang. Karena mereka yang mengundang Pak Joger, malah diminta segera memutuskan karena mereka sibuk (Sibuk kok ngundang?), setelah pak Joger menolak untuk mengikuti keinginan yang terasa tidak jelas dasar hukumnya (mengikuti kenaikan), uang sumbangan dari Teman Joger
selama 2 bulan sejumlah Rp 1.600.000 dikembalikan ke kami. Itu adalah tanda bahwa mereka begitu mengagung2kan keputusan Paruman Br Adat. dan meremehkan kami ini.

Dengan dikembalikannya uang sumbangan kami, maka Pak Joger pun pamit dari Desa Luwus, tidak ada satupun dari para pemuka Adat Br Luwus yang membantah atau mengerem pamitnya Pak Joger dari Luwus. (Itu adalah salah satu tanda bahwa memang Desa Luwus sudah tidak perlu / butuh / mengharapkan Joger tetap berkiprah di Luwus).

Siapakah ‘preman’ dibelakang ‘pemerasan’ ini? Menurut Tjokorda Bagus Putra Marhaendra dalam tulisannya di Bali Post Selasa Wage 26 Maret 2013, “Provokator dalam adat di banjar atau desa punya ciri-ciri khas. Tidak punya pekerjaan tetap. Ada pula pengangguran berpendidikan tinggi, karena suka pilih-pilih pekerjaan, maunya langsung jadi bos kaya. Bicaranya muter-muter dan bergaya. Kalau bergotong royong terkesan paling sibuk dan sok penting. Datang paling akhir, pulangnya paling cepat. Bicaranya sok paling tahu adat dan agama, suka menggampangkan masalah. Nasihatnya hanya berlaku bagi orang lain, bukan bagi dirinya sendiri. Terkadang mencatut nama tokoh-tokoh masyarakat sepertinya berteman. Kalau diberikan tugas, biayanya besar tetapi hasilnya nol besar, ada saja alasannya dan gampang minta maaf. Bila ada yang berani melawan, strateginya adalah lempar batu sembunyi tangan. Orang-orang seperti ini banyak, masyarakat sering tertipu oleh penampilannya. Biasanya baru disadari ulahnya setelah ada kejadian yang memalukan”. Siapakah kiranya yang akan meminta maaf kepada dunia dan akhirat? Dan siapakah yang harus menderita karena ulah si Provokator?

NB:
Kemana larinya Pajak Daerah dan Retribusi daerah yang diatur oleh UU NO 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang dimana kewenangan pemungutan pajak pedesaan merupakan kewenangan pemerintah kabupaten / kota. Namun desa memperoleh bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah. Dan kemana larinya dana BOS untuk sekolah?

Semoga saja pola – pola seperti ini tidak perlu sampai menjadi trend. Karena yang namanya pengusaha / investor, pada umumnya sudah memiliki beban mereka masing – masing. Sebaiknya lingkungan mendukung usaha – usaha yang terbukti baik, sehingga pertumbuhan bisa menuju ke arah yang lebih baik. Namun jika ada perusahaan – perusahaan yang ternyata tidak baik (membuat lingkungan menjadi tidak sehat, polusi, dan rusak). Segera tegur mereka, berikan juga solusi. Jangan nanti karena sudah menerima uang dari pengusaha / investor yang kurang / tidak baik, masyarakat malah sungkan menegur.

Ingat! Tidak semua pengusaha / investor itu adalah ‘Kelinci Percobaan’, ‘Lintah Darat’, ‘Serigala Berbulu Domba’, ‘Buaya Darat’, dan apa lagi ‘SAPI PERAHAN’.

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/2/19/op2.htm
http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=4&id=7413
https://www.facebook.com/PkkJoger

Recent signatures

    News

    1. Reached 250 signatures

    Supporters

    Reasons for signing

    • Salman Faris INDONESIA
      • 10 months ago

      Premanisme merusak negeri dari dalam

      REPORT THIS COMMENT:
      • 10 months ago

      Masyarakat negeri ini terlalu "Mengasihani diri sendiri". Sedikit - sedikit minta, sedikit-sedikit menempatkan diri di posisi menderita, dan banyak beralasan. Premanisme berkedok adat, budaya, maupun agama merupakan hal yang jamak di negeri ini. Investor yang punya uang banyak serta merta dijadikan "penjahat" dan sumber uang. Tidakkah mereka berpikir bahwa jadi Investor itu tidak mudah? bahwa memulai dan membangun usaha itu bukanlah sesuatu yang gampang? Dan ketika usaha itu berhasil, kemudian mereka mencari - cari alasan untuk mendapat "cipratan" dari keberhasilan orang lain? Sungguh menyedihkan mentalitas orang - orang seperti ini...

      REPORT THIS COMMENT:
    • ari widya BANJARMASIN, INDONESIA
      • 10 months ago

      prihatin masih adanya premanisme/penindasan di pulau indah BALI oleh oknum yg tidak bertangung jawab yg seharusnya bersyukur telah dibantu kesejahteraannya dengan keberadaan Teman Joger...semoga Teman Joger selalu mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda dan oknum2 tersebut diberikan balasan yg setimpal oleh Tuhan Yang Maha Esa....SEMANGAT TEMAN JOGER! LANJUTKAN !!

      REPORT THIS COMMENT:
    • owleyes photography JAKARTA, INDONESIA
      • 11 months ago

      Premanisme, apapun bentuknya hrs dihapuskan dari negri ini, jgn sampai negri ini menjadi negri preman

      REPORT THIS COMMENT:
    • eka putra INDONESIA
      • 11 months ago

      Inilah pola-pola yang sesungguhnya menghancurkan nilai mulia adat dan tradisi orang bali sesungguhnya.

      REPORT THIS COMMENT:

    Develop your own tools to win.

    Use the Change.org API to develop your own organizing tools. Find out how to get started.