usut tuntas tindak kekerasan aparat negara

usut tuntas tindak kekerasan aparat negara

    1. Petition by

      KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria)

Melihat limpah-ruahnya sumber daya alam di negeri ini, membuat saya memilih berkuliah di Fakultas Pertanian. Saya pikir, jadi petani itu bisa sejahtera lahir batin. Bayangkan betapa luasnya lahan yang bisa digarap dan menghasilkan di negeri ini. Bayangkan juga betapa mahal juga harga produk pertanian di pasaran.

Tapi bayangan saya itu sirna waktu melihat kondisi petani yang sesungguhnya. Banyak petani yang menderita dan miskin. Sudah harus bersaing dengan produk pertanian impor, petani lokal juga tak dilindungi pemerintah. Tak jarang petani-petani justru digusur dengan alasan pembangunan.

Yang kini membuat saya kini terperangah, protes petani di Indramayu untuk mempertahankan sepetak lahannya dibalas dengan kekerasan oleh aparat dan preman. Mereka diseret, dipukuli, dilempari batu, ditembaki gas air mata dan peluru karet oleh aparat. 22 petani terluka dan 49 sepeda motor petani dirusak. Polisi juga menetapkan 5 petani jadi tersangka. Padahal para petani itu hanya melakukan aksi damai untuk memprotes pembangunan Waduk Bubur Gadung yang mengancam lahan mereka.

Saya heran, kenapa malah petani yang ditahan, sementara Polisi dan preman yang memulai bentrokan. Para petani dan pejuang agraria yang selama ini mempertahankan kedaulatan atas tanah airnya telah mengalami kriminalisasi. Sampai sekarang pun para petani itu diintimidasi oleh aparat. Mereka hidup dalam ketakutan dan tak bisa apa-apa.

Saya ingin mengajak kawan-kawan untuk menyelamatkan petani kita. Bukankah di tangan mereka kita masih bisa menikmati bahan makanan murah? Bebaskan petani Indramayu yang ditahan! Selamatkan petani untuk selamatkan hidup kita!

---------------------------------------

Teks dari Galih

Saya Galih Andreanto, usia saya 24 tahun saya merupakan lulusan fakultas Pertanian UNPAD. Jauh sebelum saya memutuskan untuk belajar pertanian, dalam benak saya selalu membayangkan kemegahan sumber kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan oleh para petani.

Saya membayangkan negeri yang luas dan subur ini dapat membuat petani kita sejahtera lahir dan batin. Selepas saya lulus dari fakultas pertanian UNPAD, harapan saya terhadap petani tak seindah yang saya bayangkan.

Saya melihat banyak petani justru mengalami penderitaan dan kemiskinan. Banyak petani yang tak bertanah atau tak mengalami sengketa lahan. Mereka juga dihadapkan pada ketidakpastian akan terjaminnya hak-hak nya sebagai petani. Mulai dari mahal dan langkanya pupuk, ketidakpastian cuaca, tengkulak yang memainkan harga panen serta serbuan bahan pangan impor yang membuat posisi tawar produk petani menjadi lemah. Parahnya lagi, ternyata sebagian besar petani ternyata adalah petani gurem atau yang menguasai lahan 0,5 Ha per kepala keluarga. Tak jarang mereka dihadapkan pada konflik penguasaan, pemanfaatan dan pengelolaan lahan dengan perusahaan-perusahaan perkebunan, proyek infrastruktur pemerintah dsb. Konflik agraria tak jarang menghadapkan para petani kepada tindak kekerasan, intimidasi serta kriminalisasi.

Petani yang seharusnya menjadi pahlawan di negeri ini karena telah memberi makan setiap elemen masyarakat justru diperlakukan layaknya bukan manusia. Mereka tak lagi dihargai sebagai aktor utama peradaban bangsa. Situasi terkini yang dihadapi oleh petani saat ini adalah maraknya konflik agraria, contoh kasus yang anyar adalah persoalan petani Indramayu yang terlibat konflik agraria dengan pemerintah terkait rencana pembangunan Waduk Bubur Gadung.

Protes warga terhadap pembangunan waduk tersebut berbuah petaka, perjuangan mempertahankan sepetak tanah garapan dibalas dengan kekerasan aparat dan preman. 25 Agustus 2013 lalu masyarakat petani yang tergabung dalam Serikat Tani Indramayu (STI) melakukan aksi damai di lokasi rencana pembangunan Waduk namun naas preman dan aparat menyambutnya dengan lemparan batu, kayu serta pukulan kepada para petani.

Aparat kepolisian yang dibantu oleh preman dalam kejadian tersebut melakukan tindakan represif dengan memukuli, menyeret dan menodongkan senjata serta menembakan gas air mata dan peluru karet yang diarahkan ke petani sehingga mengakibatkan puluhan petani luka-luka.

Para korban luka-luka antara lain:

1. Alam (Luka bagian rahang)

Mulya (luka bagian kepala)

Kiwang (Luka Bagian Kepala)

Karto (luka bagian pelipis)

Taryana (luka bagian pelipis)

Wartina (luka bagian pelipis)

Warja (Pelipis mata bengkak)

Ikin (Telinga Sobek)

Maman (Luka bagian kepala)

Masdira

Rawan

Atam

Ratib

Supandi

Untung

Hasan

Rohman

Rudi

Petot

Surnata

Ita

Kanta

Kekerasan serta intimidasi membabi buta yang disaksikan oleh aparat keamanan berbuntut terbakarnya satu buah alat berat di lokasi pembangunan waduk. Dua puluh dua orang petani luka-luka dan empat puluh sembilan sepeda motor petani dirusak preman dan aparat kepolisian. Tak cukup sampai di situ, aparat yang seharusnya netral dalam penanganan konflik agraria dan berkewajiban mengamankan keselamatan rakyat, justru menyeret, memukuli serta menangkapi petani hingga menetapkan lima orang petani dan pendampingnya sebagai tersangka.

Sehingga jatuh korban langsung dari peristiwa itu 30 orang (Petani, Mahasiswa, termasuk Sekjend Serikat Petani Indramayu yang sekaligus adalah DN KPA Wilayah Jabar Banten, Muhammad Rozak) telah ditangkap kepolisian setempat.

Tidak hanya itu kendaraan-kendaraan milik petani juga dirusak oleh petugas kepolisian (Brimob) dan preman. Pihak Polres Indramayu pun merespon tuntutan petani namun tidak semua pejuang yang ditahan itu dibebaskan, yang masih ditahan bahkan dipindahkan ke Tahanan Polda Jabar adalah: M. Rojak (Sekjend STI/DN KPA Jabar – Banten), Watno (Anggota STI/Pimpinan Basis Suka Slamet), Wajo (Anggota STI/Pimpinan Basis Bojong Raong), Hamzah Fansuri (Deputi Sekjend STI), Rohman (Anggota STI).

Dalam tindakan yang arogan dan membabi-buta, aparat juga melakukan penangkapan dan pemaksaan penandatanganan BAP Pembakaran alat berat terhadap 3 orang petani dan 2 pendampingnya yaitu antara lain:

A. Abdul Rojak 29 tahun (Sekjend STI/DN KPA Jabar – Banten)

B. Hamzah Fansuri 26 tahun (Wasekjend STI)

C. Watno 42 tahun (Petani, Pengurus STI di Desa Suka Slamet)

D. Wajo 40 tahun (Petani, Pengurus STI di Desa Bojong Raong)

E. Rohman 45 tahun (Petani, Anggota STI)

Para petani dan pejuang agraria yang selama ini mempertahankan kedaulatan atas tanah airnya telah mengalami kriminalisasi.

Biodata Singkat para petani dan pejuang yang masih ditahan:

1. Abdul Rojak

Abdul Rojak adalah adalah mahasiswa fakultas .... beliau adalah (Sekjend STI/DN KPA Jabar – Banten).

Roghibah (26), perempuan ini terlihat murung dan serta sulit diajak komunikasi pasca penangkapan suaminya Abdul Rojak. 'oghie terlihat shok.karena mungkin dia kaget dengan kejadian yg menimpa keluarga yang baru 4 bulanan dibagun,,terang toge salah satu teman akrabnya.

2. Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri merupakan petani dan Wasekjen STI

hal yang tak jauh berbeda terjadi pula pada keluarga fansuri (26) warga desa cikedung yang juga sebagai deputi STI sangat banyak perubahan yang terjadi pada keluarganya mulai dari pandangan sinis para tetangga, tekanan dan ancaman dari pihak desa bahkan dari pihak saudara juga tidak luput menganggap kejadian ini sangat di sayangkan, yang sebelumnya tidak kurang dari seminggu sekali bersilaturrahmi berbeda dengan sekarang, jangankan memberi dukungan menanyakan kabarpun tidak. belum lagi fansuri yang statusnya masih mahasiswa di perguruan tinggi semester akhir akan mengikuti wisuda akhir bulan september ini sudah di pastikan kandas dan tidak mungkin mengikuti wisuda tahun ini padahal sebelumnya sudah berjanji pada kedua orang tuanya untuk lulus tahun ini, hal ini selain menjadi kejadian yang tidak di harapkan fansuri juga menjadi kekecewaan tersendiri bagi kedua orangtua fansuri,

3. Watno

Watno merupakan petani sekaligus pengurus STI Desa Sukaslamet

di antaranya ibu castinah (36 tahun) saat di temui di kediamannya desa suka selamet Rt/Rw. 11/03 ketika keseharian yang di jalani masih ada suaminya, masih ada yang jadikan tulang punggung untuk keluarganya tetapi sekarang beliaulah yang menggantikan perannya mengingat ibu castinah memiliki tiga anak perempuan semua: Tini (19), indah (11), syifa (5) yang belum bisa menggantikan ayahnya terlebih ketika anak pertamanya berencana untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi terpaksa harus di urungkan niatnya karena tidak ada yang di jadikan sebagai sumber biaya untuk pendidikannya, saat anaknya syifa (anak bugsu) menanyakan keadaan ayahnya sambil berlinang air mata ibu castinah menceritakanya dengan rasa iba dan berat sesaat teringat ketika ayahnya masih ada selalu riang dan bersikap ceria tetapi kini keadaan itu seakan sirna di telan nasib, terlebih lagi mengingat masih banyak tanggungan yang harus di lunasi setiap bulannya dan tak mungkin di tanggug sendiri tanpa suami sebagai satu-satunya tulang punggug ekonomi keluarganya, "entah upaya apalagi yang harus aku lakukan" isaknya saat di temui di rumahnya.

4. Wajo

Wajo adalah petani sekaligus Petani, Pengurus STI di Desa Bojong Raong

anjing menggongong kapilah berlalu, tampaknya peribahasa itu harus di gunakan oleh hani (13) demi menguatkan psikologi dan kelangsungan sekolahnya ketika banyak gunjingan dan ejekan datang menerpa dari teman-temanya di sekolah karena ayahnya yang sedang menjalani proses hukum dan di anggap tabu oleh tetangganya. Ibu Satmini istri wajo (salah satu ketua basis STI ) di daerah bojong raong terpaksa harus menghidupi kedua anaknya : hani (13), raka (10) yang masih duduk di bangku sekolah dan masih membutuhkan kasih sayang dan bimbingan kedua orangtuanya. dengan berjualan nasi seadanya ibu satmini memberanikan diri meskipun banyak anggapan yang kurang enak di dengar terus datang, saya bingung harus bagaimana melihat keadaan yang seperti sekarang ini, ujarnya. dengan rasa terpaksa untuk menghidupi anak-anaknya ibu satmini berhutang pada saudara dan tetangganya yang masih merasa iba terhadapnya.

5. Rohman

Rohman adalah

begitupun halnya yang dirasakan keluarga Rohman (40), yang kini berada di polda jabar meninggalkan satu anak,dan orang tua yang sudah sepuh,kini anak rohman ikut neneknya yang serba kekurangan hingga untuk makan sehari-hari pun sangat kesulitan. 'kemarin waktu rohman masih ada saya selalu dikasih untuk hidup sehari-harinya,walaupun penghasilan rohman tak seberapa sebagai buruh tani,kini rohman dipenjara tidak ada lagi yg memenuhi kebutuhan kita dan anak rohman,karena bapakpun sudah tidak lagi bisa bekerja..ungkap ibu rohman disertai isak tangis.

Kekerasan dan Intimidasi makin menjadi-jadi

Upaya menzholimi kaum tani tak cukup sampai di situ, malang tak dapat ditolak, Rabu (11/09/2013) aparat kepolisian, TNI dari kesatuan ARHANUD, Kodim Indramayu, Perhutani, Pemuda Pancasila serta sejumlah preman yang berjumlah seratusan orang menyisir basis-basis STI dan melakukan intimidasi hingga menyebabkan empat gubuk rusak, satu sepeda motor terbakar dan enam petani mengalami pemaksaan untuk keluar dari keanggotaan STI serta mendapat ancaman pembakaran gubuk. (Kronologis terlampir).

Penyisiran basis-basis STI di Indramayu oleh aparat dan preman berbuah nestapa, seorang petani bernama Wargi (45), dari Basis Sukaslamet meninggal dunia akibat kerasnya intimidasi dari penyisiran aparat ke basisnya. Almarhum meninggalkan dua orang anak dan seorang istri. Sehari-hari beliau. Bukan hanya itu puluhan petani hingga saat ini (13/09) masih mengalami trauma berat akibat intimidasi aparat beserta preman.

Pak Wargi salah seorang petani STI basis Sukaslamet meninggal dunia karena kerasnya intimidasi terhadap anggota-anggota STI. Beliau berumur 45 tahun, meinggalkan dua orang anak dan satu isteri. Puluhan lain trauma dan depresi

Akibat dari penyisiran dari aparat dan oknum yang tak bertanggung jawab, menimbulkan beberapa dampak antara lain:

Korban intimidasi: Bapak Yaman, Bapak Ratim, Ibu Tenah, Bapak Cahyono, Bapak Sardilan, Bapak Tarsana (Semua adalah Petani Serikat Tani Indramayu).

Korban Materil: emas seberat 10,5 gram; dan uang sebesar Rp. 4.150.000, 3 gubuk petani rusak, 1 sepeda motor terbakar.

Kronologis penyisiran

Lampiran kronologis penyisiran 11 September 2013

Kronologis Penyisiran (intimidasi, teror) yang Dilakukan oleh Polisi, Tentara, Preman dan Perhutani

Pada Rabu 11 September 2013

1. Pukul 09.00:

Banyak aparat yg terdiri dari Polisi, Tentara, preman dan Perhutani (Sekitar 100 lebih) berkumpul di Bojong Raong.

2. Pukul 10.30:

Sekitar 50 orang (polisi, tentara dsb) mendatangi sekretariat STI yg beralamat di Desa Bojong Raong, mereka mengambil gambar di dalam sekretariat STI, ada yang diluar sambil menakut-nakuti warga.

3. Pukul 12.00:

Sekitar 100 aparat berkumpul di Balai Desa Suka Slamet, kemudian mereka melanjutkan keperempatan Tanjung Jaya.

4. Pukul 13.00:

Mereka mendatangi rumah Bapak Yaman di Plasa Koneng dan mereka menunjuk-nunjuk bahwa dia adalah ketua basis STI Plasa Koneng, mereka melanjutkan lagi ke Cibenoang, Sandrem, Punduan 1 dan Punduan 2.

5. Pukul 14.00:

Mereka datang ke Biting, dua aparat dibantu tokoh masyarakat yakni lurah Jadi dan kasun mencoba menakut-nakuti warga.

6. Pukul 14.30:

Polisi, Tentara dan preman serta perhutani mendatangi gubug Bapak Ratim, mereka merusak pintu gubug dan terpal sebagai penutup depan rumah disobek oleh mereka, ketika pengerusakan gubug terjadi, Bapak Ratim kehilangan emas seberat 10,5 gram berupa gelang dan uang tunai sejumlah Rp. 4.150.000, setelah itu mereka mendatangi gubug Ibu Tenah dan mengancam apabila dalam waktu 5 hari tidak meninggal gubug tersebut, maka gubug tersebut akan dibakar.

7. Pukul 15.30:

Mereka melanjutkan perjalanannya ke Tegal Sapi, mereka menemui dan mengancam Pak Cahyono apabila dalam waktu 5 hari tidak meninggalkan gubug, maka gubug tersebut akan dibakar.

8. Pukul 16.00:

Mereka kembali melanjutkan perjalannya ke Pasir Torok, mereka kembali melakukan pengerusakan terhadap gubug warga, yakni gubug Pak Sardilan, atap gubug dilempari pakai kayu dan mengancam Bapak Sardilan untuk keluar, mereka ini terdiri dari polisi, tentara, mandor dan Pemuda Pancasila.

9. Pukul 23.00:

Oknum tak bertanggung jawab membakar gubuk Pak Tarsana, Petani Penggarap STI Di Basis Tegal Sapi. 1 Sepeda Motor milik petani juga terbakar.

10. Pukul 01.00 (12 September 2013):

Pak Wargi salah seorang petani STI basis Sukaslamet meninggal dunia karena kerasnya intimidasi terhadap anggota-anggota STI. Beliau berumur 45 tahun, meinggalkan dua orang anak dan satu isteri. Puluhan lain trauma dan depresi

Korban intimidasi: Bapak Yaman, Bapak Ratim, Ibu Tenah, Bapak Cahyono, Bapak Sardilan, Bapak Tarsana (Semua adalah Petani Serikat Tani Indramayu)

Korban Materil: emas seberat 10,5 gram; dan uang sebesar Rp. 4.150.000, 3 gubuk petani rusak, 1 sepeda motor terbakar.

Link pemberitaan soal kasus Indramayu

1. Aparat Sweeping Petani Indramayu, Seorang Tewas

http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2933218_4262.html

2. Petani Indramayu Adukan Kekerasan Ke Polisi
http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20130910/petani-indramayu-adukan-kekerasan-ke-polisi.html
3. 'Diserang' Polisi, Petani Indramayu Mengungsi

http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2934780_4262.html

4. Lantaran Diintimasi, Seorang Petani Indramayu Meninggal

http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20130914/lantaran-diintimasi-seorang-petani-indramayu-meninggal.html

5. Kriminalisasi Petani Indramayu Cermin Buruknya Perlindungan Hak Rakyat Atas Tanah

http://suaraagraria.com/detail-1442-kriminalisasi-petani-indramayu-cermin-buruknya-perlindungan-hak-rakyat-atas-tanah.html#.UjhyQH9RB84

6. KPA Kutuk Kekerasan terhadap Petani di Indramayu

http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=84352/KPA-Kutuk-Kekerasan-terhadap-Petani-di-Indramayu#.UjhyRH9RB85

7. Wah, Petani Indramayu Bisa Terima BLSM Jika Keluar Dari Serikat Tani Indramayu!

http://suaraagraria.com/detail-1481-wah-petani-indramayu-bisa-terima-blsm-jika-keluar-dari-serikat-tani-indramayu.html#.UjhyNX9RB85

8. KPA Harap Komnas HAM Turun Gunung Hentikan Kekerasan Terhadap Petani Indramayu

http://suaraagraria.com/detail-1477-kpa-harap-komnas-ham-turun-gunung-hentikan-kekerasan-terhadap-petani-indramayu.html#.UjhyNX9RB85

9. Polisi & tentara kepung markas Serikat Tani Indramayu

http://daerah.sindonews.com/read/2013/09/11/21/781735/polisi-tentara-kepung-markas-serikat-tani-indramayu

10. Petani Adukan Kekerasan ke Mabes Polri http://www.infojambi.com/ij/citizen-journalism/7038-petani-adukan-kekerasan-ke-mabes-polri.html

11. [NEWS] Petani Adukan Kekerasan ke Mabes Polri http://tinyurl.com/nt9chka via @Beritabalicom

12. Petani Adukan Kekerasan ke Mabes Polri http://berita9.com/2013/09/10/petani-adukan-kekerasan-ke-mabes-polri/

13. Diintimidasi Polisi, Petani Indramayu Adukan ke Mabes Polri http://aktual.co/62771

14. Diintimidasi & Diancam STI Mau Dibubarkan, Petani Indramayu Adukan ke Mabes Polri http://suaraagraria.com/detail-1463-diintimidasi--diancam-sti-mau-dibubarkan-petani-indramayu-adukan-ke-mabes-polri.html#.Ui6idX9p5l8

----------------------------------------------------------------------

Petisi Bebaskan Petani dan Usut Tuntas Kasus Penganiyaan terhadap Petani Indramayu

Petani adalah pahlawan bangsa, lewat peluh dan segala penderitaannya hingga kebijakan yang memiskinkan, petani masih konsisten mengelola lahan garapannya demi dapat memenuhi kebutuhan pangan kita adalah pahlawan di era kekinian. Namun dalam usia kemerdekaan Indonesia yang ke-68 tahun, Petani seakan tak lagi dipedulikan dalam perjalanan bangsa Indonesia. Seringkali kita menutup mata makna penting keberadaan petani bagi kelangsungan hidup bangsa. Petani adalah sokoguru bangsa yang acapkali luput dari hiruk-pikuk keseharian kita.

Dibalik keluputan kita akan peran petani, kini mereka hidup dalam kesulitan yang luar biasa. Bukan saja menjadi korban gencarnya kebijakan impor yang menggempur hasil pertanian mereka, namun kini mereka dihadapkan pada persoalan kekerasan dan intimidasi dari aparat kepolisian dan preman akibat mempertahankan kedaulatan atas tanah dan air.

Pada Jumat, 23 Agustus 2013 lalu alat berat menjalankan pembuatan waduk dengan aktivitas pengerukan, membuat jalan di sekitar lokasi waduk yang berada di Desa Loyang. Minggu tanggal 25 Agustus 2013, sekitar jam 07.00 warga kumpul di lapangan. Melihat aktivitas itu, kemudian petani berusaha mempertahankan tanah garapannya kemudian mendapat tindakan anarkis dari preman wilayah, aparat kepolisian dan sejumlah tentara justru membiarkan para petani dipukuli dan dihantam dengan balok kayu hingga babak belur. Dalam situasi mempertahankan diri, 1 alat berat terbakar dan kerusuhan tak dapat dihindarkan. Aparat kepolisian yang dibantu oleh preman dalam kejadian tersebut melakukan tindakan represif dengan memukuli, menyeret dan menodongkan senjata serta menembakan gas air mata dan peluru karet yang diarahkan ke petani sehingga mengakibatkan puluhan petani luka-luka.

Korban langsung dari peristiwa itu sebanyak 30 orang (Petani, Mahasiswa, termasuk Sekjend Serikat Petani Indramayu yang sekaligus adalah DN KPA Wilayah Jabar Banten, Abdul Rozak) telah ditangkap kepolisian setempat. Tidak hanya itu, puluhan sepeda motor milik petani juga dirusak oleh aparat kepolisian dan preman.

Dalam tindakan yang arogan dan membabi-buta, aparat juga melakukan penangkapan dan pemaksaan penandatanganan BAP Pembakaran alat berat terhadap 3 orang petani dan 2 pendampingnya yaitu antara lain:

A. Abdul Rojak 29 tahun (Sekjend STI/DN KPA Jabar – Banten)

B. Hamzah Fansuri 27 tahun (Wasekjend STI)

C. Watno 42 tahun (Petani, Pengurus STI di Desa Suka Slamet)

D. Wajo 40 tahun (Petani, Pengurus STI di Desa Bojong Raong)

E. Rohman 45 tahun (Petani, Anggota STI)

Dalam catatan Konsorsium Pembaruan Agraria, sepanjang 2004-2012 sedikitnya 941 orang ditahan, 396 mengalami luka-luka, 63 orang diantaranya mengalami luka serius akibat peluru aparat, serta meninggalnya 54 petani/warga di seluruh wilayah RI.

Kami melihat penganiayaan hingga kekerasan terhadap petani telah melukai harga diri bangsa sebagai negara agraris yang juga menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Petani adalah pahlawan bangsa yang memberi makan seluruh elemen bangsa ini. Kami berpikir bahwa Bangsa ini harus menghargai petani demi menjaga kemampuan mengelola lahan dan membudidayakan tanaman agar Indonesia dapat berdaulat di bidang pangan. Kami khawatir bahwa ke depan profesi petani akan musnah karena identik dengan kemelaratan dan bahkan diperlakukan tidak manusiawi di tanah-airnya sendiri.

Maka kami membutuhkan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, terkait mendukung kampanye “Pembebasan Petani dan Usut Tuntas Kasus Penganiyaan terhadap Petani Indramayu”. Kenapa anda harus menandatangani petisi ini adalah sebagai berikut:

1. Agar dikemudian hari, tindak kekerasan, penganiayaan, intimidasi dan kriminalisasi terhadap para petani tidak terjadi lagi.

2. Menjaga keberlanjutan profesi petani sebagai aktor dari kemajuan bangsa yang harus dilindungi dan dipenuhi hak-haknya.

3. Untuk membebaskan para petani dari segala tuntutan karena mempertahankan tanah garapannya sebagai petani yang merupakan pekerjaan mulia.

4. Untuk mengusut tuntas kasus kekerasan, penganiayaan dan intimidasi terhadap 30 orang petani Indramayu oleh aparat kepolisian dan preman.

To:
usut tuntas tindak kekerasan aparat negara

Sincerely,
[Your name]

Recent signatures

    News

    1. Reached 25 signatures

    Supporters

    Reasons for signing

    • Ade Adrianta BANDUNG, INDONESIA
      • about 1 year ago

      Petani bukan binatang !

      REPORT THIS COMMENT:
    • Ade Cholik Mutaqin BOGOR, INDONESIA
      • about 1 year ago

      Bebaskan Semua Aktivis Dari Krimanalisasi

      REPORT THIS COMMENT:
    • pur wanto KARANGGEDE, INDONESIA
      • about 1 year ago

      Negara telah gagal memberikan rasa aman bagi rakyatnya.

      REPORT THIS COMMENT:
    • Residensil Andreanto JAKARTA, INDONESIA
      • about 1 year ago

      Leluhur ku petani

      REPORT THIS COMMENT:

    Develop your own tools to win.

    Use the Change.org API to develop your own organizing tools. Find out how to get started.